14 Agustus 2003: Mati Lampu Massal di Kota-Kota Amerika Serikat dan Kanada Picu Kegelisahan

Oleh Liputan6.comHariz Barak pada 14 Agu 2022, 06:01 WIB
Diperbarui 14 Agu 2022, 06:01 WIB
Papan reklame digital Desa Mandiri Budaya  Sabdodadi terpasang di Times Square Kota New York Amerika Serikat. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)
Perbesar
Papan reklame digital Desa Mandiri Budaya Sabdodadi terpasang di Times Square Kota New York Amerika Serikat. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

Liputan6.com, New York - Hari itu 14 Agustus 2003, 50 juta warga Amerika Serikat dan Kanada bak kembali ke "zaman purba". Hidup tanpa listrik.

Tanpa peringatan, daya mulai putus sesaat setelah pukul 16.10 waktu setempat. Efeknya pun meluas ke sejumlah kota di wilayah timurlaut AS, mulai dari Cleveland, Akron, Toledo, New York, Baltimore, Buffalo, Albany, Dotroit dan sebagian New Jersey.

Kemudian, Long Island, Westchester County, Rockland County, Putnam Coutny, Vermont, Connecticut dan sebagian besar wilayah Canada termasuk Toronto, dan Ottawa.

Para komuter di Kota New York terpaksa jalan kaki, menumpang demi pulang. Lainnya yang tak cukup beruntung terpaksa tidur di tangga stasiun. Kereta api tak punya daya untuk melaju di atas rel, SPBU berhenti berjualan.

Bau tak sedap menguap dari kulkas-kulkas yang mati. Dari makanan busuk yang ada di dalamnya. Botol-botol air jadi barang incaran saat keran air berhenti mengalir.

Kala itu 2 tahun setelah kejadian serangan 11 September 2001 atau 9/11. Orang-orang yang tak mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi, dibayangi ngeri.

Malam itu, Lysa Stanton dan calon suaminya sedang mempersiapkan pernikahan mereka yang digelar keesokan harinya. Tiba-tiba, rambu lalu lintas mati. Etalase-etalase toko yang biasanya terang benderang mendadak gelap gulita.

Para pekerja kantoran dan mereka yang sedang berbelanja berhamburan ke lapangan parkir. "Sangat menakutkan," kata dia 10 tahun kemudian. "Tiba-tiba semua orang keluar, hal itu membuatku takut," kata dia seperti dikutip dari situs New York Daily News.

Alih-alih makan malam romantis, Lysa sibuk mencari senter, pembuka botol, dan baterai. "Bagi sebagian orang, itu adalah kondisi yang tak nyaman. Apalagi bagiku, itu malam jelang hari pernikahanku."

Hotel tempatnya menginap pun gelap. Maka, Lysa pun menginap di rumah tunangannya. Mereka berdua memakan es loli dan es krim yang mulai mencair, pikiran mereka bertanya-tanya, "Apakah itu pertanda buruk?"

Untungnya pernikahan keduanya jadi dilangsungkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Gerah Bukan Main

AS Tembus 1 Juta Kasus Covid-19 Sehari
Perbesar
Orang-orang mengantre untuk menerima tes Covid-19 di New York, Selasa (4/1/2022). Amerika Serikat (AS) mencatat lebih dari 1 juta kasus Covid-19 pada 3 Januari 2022, menurut data dari Universitas Johns Hopkins, ketika varian Omicron terus menyebar dengan kecepatan tinggi. (ANGELA WEISS/AFP)

Di tempat terpisah, George Strayton tak sanggup tinggal dalam apartemennya Lower East Side, Manhattan. Meski jendela sudah dibuka, rasanya gerah bukan main. Sumuk! Maka ia pun menuju rumah orangtuanya di kawasan pedesaan Rockland County yang masih teraliri listrik.

George terpaksa berjalan kaki menuju terminal. 3 mil jauhnya. Dan karena ditempuh dalam kondisi panas -- tanpa toko yang menawarkan minuman dingin -- rasanya sungguh menyiksa. Untung, di tengah jalan, ia mendapatkan tumpangan bus.

Baru saja ia keluar dari kendaraan yang membawanya ke terminal, seorang relawan mengulurkan sebotol air dan menunjuk ke meja penuh roti lapis.

Air dan sandwich itu menjadi bekal perjalanannya, menggunakan bus lain, menuju rumah orangtua.

George tak pernah melupakan kejadian tersebut. "Terutama sandwich ayam dan pesto itu," kata dia. Itu mungkin roti tumpuk terenak yang pernah ia rasakan.

Sementara itu, kejadian mengerikan dialami Mike Markowitz. Listrik tiba-tiba mati saat ia berada di dalam kereta bawah tanah (subway).

Ia terjebak di gerbong sempit, bersama ratusan orang asing di bawah tanah Manhattan. Gerbong kereta terasa sumpek tanpa pendingin ruangan.

Hebatnya, para penumpang tetap tenang dan mengikuti instruksi untuk keluar dari kereta satu per satu. Kemudian, mereka berjalan kaki di dalam terowongan dan memanjat ke luar, ke jalanan. Tak sampai di situ, Markowitz terpaksa jalan kaki 4 jam menuju rumahnya. "Jalan kaki paling panjang dalam hidupku," kata Markowitz. "Rasanya menakutkan, namun tak semengerikan 9/11."

Listrik di sebagian wilayah kembali menyala pukul 23.00. Namun, di tempat lain, harus menanti hingga 2 hari.

Mengapa listrik di negara maju seperti AS bisa menghilang?

Setidaknya ada 2 sebab. Pertama, pepohonan mengganggu jaringan listrik bertegangan tinggi yang menyuplai 100 pusat tenaga listrik.

Namun, penyebab utamanya adalah software bug di sistem alarm di pusat pengendali di FirstEnergy Corporation yang terletak di Ohio.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

 


Sejarah Lainnya

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Selain blackout besar-besaran di Amerika Utara, tanggal 14 Agustus menjadi penting dalam sejarah karena sejumlah peristiwa.

Pada 1893 Prancis menjadi negara pertama di dunia yang memperkenalkan sistem pelat nomor.

Lalu pada tahun 1945 , Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, setelah bom nuklir Amerika Serikat meluluhlantakkan Kota Hiroshima dan Nagasaki. Tiga hari kemudian Republik Indonesia memproklamirkan diri.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya