Korea Utara Alami Krisis Pupuk, Tentara Diminta Kumpulkan Rumput Buat Kompos

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 12 Agu 2022, 15:30 WIB
Diperbarui 12 Agu 2022, 16:00 WIB
FOTO: Ribuan Orang Hadiri Kongres ke-8 Partai Buruh Korea
Perbesar
Tentara mengenakan masker wajah untuk membantu mengekang penyebaran virus corona COVID-19 saat rapat umum untuk menyambut Kongres ke-8 Partai Buruh Korea di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, Korea Utara, Senin (12/10/2020). (AP Photo/Jon Chol Jin)

Liputan6.com, Pyongyang - Tentara Korea Utara di unit militer tingkat rendah memiliki misi baru yang tidak biasa dan tidak sepenuhnya disambut baik.

Mereka mengumpulkan rumput selama istirahat pelatihan musim panas untuk menghasilkan kompos untuk kebutuhan pertanian, kata sumber di dalam negeri.

Negara kategori miskin dan terisolasi itu menderita kekurangan kronis pupuk berbasis kimia selama musim tanam musim panas.

Situasi ini semakin memburuk sejak 2020 karena penutupan perbatasan dengan China yang memutus perdagangan selama pandemi virus corona, seperti dikutip dari laman RFG.org, Jumat (12/8/2022).

Setiap tahun, warga Korea Utara ditugaskan oleh pemerintah mereka untuk memenuhi kuota pemerintah yang terlalu tinggi untuk pupuk.

Tetapi bahan yang biasanya mereka kumpulkan adalah kotoran manusia, yang dicampur dengan tanah dan diaplikasikan ke ladang pertanian.

“Ketidakpuasan di antara tentara meningkat karena setiap unit menggunakan waktu luang untuk memenuhi kuota rumput,” kata sumber terkait militer di provinsi Hamgyong Utara kepada RFA.

Biro Politik Umum Tentara Rakyat menetapkan kuota produksi kompos dari rumput untuk semua unit militer setiap Agustus dan September, kata sumber yang menolak disebutkan namanya itu untuk berbicara secara bebas.

Setiap prajurit diharuskan menghasilkan 50 kilogram rumput setiap hari untuk menghasilkan kompos, tambahnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Ambil Rumput di Lereng Gunung

Lawan COVID-19, petugas dari unit medis Tentara Rakyat Korea bersiap untuk pengerahan untuk membantu pengangkutan obat-obatan di Pyongyang, Korea Utara Senin, 16 Mei 2022. (Korean Central News Agency/Korea News Service melalui AP)
Perbesar
Lawan COVID-19, petugas dari unit medis Tentara Rakyat Korea bersiap untuk pengerahan untuk membantu pengangkutan obat-obatan di Pyongyang, Korea Utara Senin, 16 Mei 2022. (Korean Central News Agency/Korea News Service melalui AP)

Mereka membuat pupuk alami dengan memotong rumput di lereng gunung terdekat serta di daerah-daerah di mana mereka ditugaskan untuk kuota mereka masing-masing, kata sumber yang berhubungan dengan militer.

“Ini semua setelah latihan harian mereka selesai,” katanya.

“Karena mereka diharuskan memproduksi pupuk alami di waktu luang setelah pelatihan wajib, para prajurit menjadi kelelahan. Semangat para prajurit yang berpartisipasi dalam pelatihan menurun dari hari ke hari.”

Komando tingkat tinggi sering melakukan inspeksi untuk mendorong produksi pupuk berbasis rumput dari tentara, sumber terkait militer di provinsi Ryanggang mengatakan kepada RFA.

“Staf di masing-masing unit wajib melaporkan kinerja unit-unit bawahannya,” kata sumber yang enggan disebutkan namanya itu dengan alasan yang sama.

“Setiap petugas yang bertanggung jawab atas unit berjuang untuk menyamai kinerja harian.”

Bahkan petugas mempertanyakan mengapa pihak berwenang memaksa mereka untuk memproduksi pupuk berbasis rumput, katanya.

“Beberapa perwira militer mengeluh dan berkata; Kita harus menjadikan pekerjaan utama pelatihan militer sebagai pekerjaan sampingan, dan mengubah pertanian menjadi pekerjaan utama militer,” kata seorang sumber.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Angka Perceraian di Korea Utara Meroket Akibat Stres Masalah Ekonomi

Bendera Korea Utara (AFP PHOTO)
Perbesar
Bendera Korea Utara (AFP PHOTO)

Kasus perceraian di Korea Utara sudah sangat parah. Salah satu pemicu cerai adalah stres akibat masalah ekonomi.

Pemerintah Korea Utara lantas mencoba mencegah perceraian dengan menggunakan taktik kuota cerai, sehingga sejumlah pasutri yang ingin cerai harus menunggu beberapa tahun. Namun, aksi menyogok malah terjadi.

Menurut laporan Radio Free Asia, Senin (8/8/2022), aksi cerai disebut pemerintah Korea Utara sebagai "anti-sosialis". Pejabat pun diminta jangan langsung menyetujui perceraian.

"Baru-baru ini, cekcok keluarga semakin parah akibat alasan-alasan ekonomi dan jumlah keluarga yang ingin cerai bertambah, tetapi pejabat berwenang memerintahkan pengadilan agar tidak mudah menyetujui perceraian," ujar seorang warga kabupaten Kyongsong kepada RFA.

Saksi mata yang memilih identitas anonim tersebut berkata kerap melihat pasangan cerai yang masih muda.

"Ketika saya terkadang melewati kantor pengadilan, saya selalu melihat selusin pria dan wanita muda berkumpul di depan gerbang utama. Banyak pasangan-pasangan muda ingin bertemu seorang hakim atau pengacara untuk meminta cerai," ujarnya.

Sumber itu juga menjelaskan bahwa pengadilan di Korut biasanya tidak mengizinkan cerai kecuali ada "alasan yang tak bisa dihindari." Pisah rumah pun tidak berarti langsung bisa cerai.

Turut dijelaskan bahwa perceraian dipandang negatif di Korea Utara karena dianggap bisa membuat kegaduhan. Sumber itu juga mendengar dari sahabatnya, yang menikahi pejabat pengadilan, bahwa angka perceraian dibatasi sesuai jumlah populasi.

Kabupaten Kyongsong yang punya 106 ribu populasi hanya bisa memberikan 40 perceraian per tahun.

"Jika pengadilan melebihkan kuota cerai mereka, itu akan dipertanyakan oleh pihak berwenang," ujar wanita itu yang mengaku kaget pada kuota perceraian.


Pilih Cerai Saja

Bendera Korea Utara (AFP)
Perbesar
Bendera Korea Utara (AFP)

Cerai sempat dianggap sebagai hal negatif di Korea Utara. Pandangan itu kini berubah. 

"Dalam beberapa tahun terakhir, pertikaian keluarga telah meningkat karena kesulitan dalam hidup, jadinya jumlah keluarga yang ingin bercerai bertambah. Dulu ada kecenderungan dipermalukan saat bercerai, tetapi tidak begitu lagi sekarang," ujar seorang warga di kabupaten Unhung.

Kesulitan ekonomi yang terjadi tak terlepas dari pandemi COVID-19. Korea Utara sangat bergantung pada China, namun pandemi mempersulit perdagangan. 

Saksi mata yang juga memilih anonim itu menyebut sogokan menjadi alternatif agar perceraian lebih mulus.

"Orang-orang ingin bercerai secepat mungkin, tetapi itu tidak mudah. Jumlah sogokan ke hakim pengadilan atau pengacara menentukan apakan perceraian bisa dikabulkan dan seberapa lama," ujarnya.

Lebih lanjut, saksi tersebut menyorot bahwa ada banyak yang ingin cerai, sehingga otomatis sulit melewati tahap awal dokumen tanpa menyogok.

"Realitanya adalah jika kamu tidak membayar sogokan, kamu tidak akan mendapat perceraianmu bahkan setelah menunggu tiga sampai lima tahun," ujarnya.

Infografis Ledakan Kasus Covid-19 di Korea Utara. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Ledakan Kasus Covid-19 di Korea Utara. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya