Harga Mie Instan di Beberapa Negara, Ikut Naik karena Perang di Ukraina?

Oleh Tommy Kurnia pada 11 Agu 2022, 17:01 WIB
Diperbarui 13 Sep 2022, 21:07 WIB
Mie Instan
Perbesar
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Liputan6.com, Jakarta - Harga mie instan di Indonesia dikabarkan akan naik hingga tiga kali lipat. Kenaikan harga mie instan tentunya akan menyulitkan masyarakat, terutama anak kuliah, maupun ketika harus menyumbang di saat darurat. 

Kementerian Pertanian RI menyebut perang di Ukraina menjadi pemicu terjadinya kenaikan harga mie instan. Rusia dan Ukraina merupakan pemasok gandum yang signifikan di dunia. Ukraina kesulitan mengirim gandum karena invasi yang dilancarkan Rusia. 

Bagaimana dengan negara-negara tetangga? Berdasarkan informasi yang dihimpun Liputan6.com, harga-harga di Asia Tenggara masih terbilang stabil. Tak ada pula isu-isu kenaikan harga. 

Kenaikan harga baru tercatat di Eropa, namun banyak harga-harga yang naik. Berikut pantauan harga mie instan di empat negara: 

1. Vietnam

Mie juga merupakan menu yang populer di Vietnam. Ketika ada bencana, mie instan juga disumbangkan ke orang-orang.

Jurnalis Vietnam, Mien Nguyen, menjelaskan bahwa di tengah perang Ukraina-Rusia harga mie instan masih sama seperti sebelumnya. Nguyen berkata mie instan lokal yang populer di negaranya adalah merk Hao Hao, dan harga satu bungkusnya adalah 4.000 Dong (Rp 2.500).

"Sama untuk 2021 dan 2022," ujar jurnalis Mien Nguyen kepada Liputan6.com, Kamis (11/8/2022). 

Nguyen turut memberikan informasi melalui situs belanja Bách Hoá Xanh menunjukkan harga satu dus Hao Hao dengan isi 30 bungkus adalah 108 ribu Dong (Rp 67 ribu). 

Sumber dari KBRI Hanoi menyebut harga merk Indomie adalah 5500 per bungkus (sekitar Rp.3500). Sementara, di Shopee harga Indomie goreng sekitar 110.000 Dong per box isi 40 bungkus (sekitar Rp.68.000 - Rp.70.000), meski ada lokasi yang menjual hingga 190 ribu Dong.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

Negara Lainnya

makan mie
Perbesar
Ilustrasi makan mie instan/copyright unsplash.com/Renji Desh

2. Singapura

Sementara, harga di Singapura masih fluktuatif. Ada sejumlah toko yang menaikkan harga, namun terkait pajak. 

"Konflik Ukraina, jika dibahas, hanyalah satu faktor, bukan satu-satunya faktor," ujar seorang pegawai muda bernama Claudia (nama samaran) kepada Liputan6.com

Ia pun menunjukkan situs Fair Price yang merupakan supermarket besar di Singapura. Di situs itu, harga mie instan justru banyak yang diskon. Harga paket lima bungkus Indomie goreng adalah 1,8 dollar (Rp 19 ribu). 

Ibumie Mi Goreng juga diskon dari 2,35 dollar menjadi 1,95 dollar (Rp 21 ribu). Harga Fortune Cooked Hokkien (450 gram) juga diskon jadi 1,35 dollar (Rp 14 ribu). 

3. Filipina

Di situs Lazada setempat, harga satu bungkus Indomie goreng dijual seharga 16 peso (Rp 4.200). 

Pihak KBRI Manila mengarahkan Liputan6.com ke situs belanja populer di Filipina, yakni SM Markets. Pada situs itu, mie instan merk Quick Chow dijual sekitar 7,25 peso (hampir Rp 2.000).

Selain itu, pihak KBRI Manila berkata tidak ada isu kenaikan harga mie instan di Filipina.

4. Belanda

Perang yang terjadi di Eropa tentunya berdampak langsung kepada ekonomi Uni Eropa. Harga-harga pun naik, termasuk harga mie instan Indomie.

"Semuanya naik. Seperti Indomie? Tadinya 50 cent sekarang 70 cent," ujar seorang programmer bernama Tasya kepada Liputan6.com. Selama setahun belakangan ini, ia menetap di Belanda.

Harga 70 cent di Belanda setara dengan Rp 10.700. 

 

Asumsi kurs:

1 Dong: Rp 0,6

1 Dollar Singapura: Rp 10.770

1 Peso Filipina: Rp 266

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Kabar Harga Mie Instan Naik

mie instan kuah
Perbesar
ilustrasi mie instan kuah/copyright by Ariyani Tedjo (Shutterstock)

Sebelumnya dilaporkan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengingatkan akan ada kenaikan harga mie instan. Kenaikan tersebut dikarenakan perang dari Rusia dan Ukraina.

Kemungkinan kenaikan harga mie instan akan mencapai sekitar tiga kali lipat.

"Belum selesai dengan climate change, kita dihadapkan Perang Ukraina-Rusia, di mana ada 180 juta ton gandum enggak bisa keluar, di hati-hati yang makan mi banyak dari gandum, besok harganya (naik) 3 kali lipat," kata Syahrul Yasin Limpo selaku Menteri Pertanian dalam webinar Direkorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Selasa (9/8).

Alasan mengapa harga mi instan bakal naik karena gandum sebagai bahan baku utamanya berasal dari negara tersebut. Adapun Indonesia sendiri sampai saat ini masih melakukan impor gandum.

Rusia dan Ukraina adalah negara penghasil gandum yang terbesar di dunia, keduanya menyuplai sekitar 30% hingga 40% dari kebutuhan gandum yang ada di dunia. Maka dari itu, dengan situasi perang yang terjadi pada saat ini gandum pun menjadi salah satu bahan yang langka dikarenakan pasokannya yang terhambat.

Kenaikan harga gandum tersebut turut dirasakan di pasar internasional dan salah satunya termasuk Indonesia yang membutuhkan gandum sebagai salah satu bahan baku mie instan.


Inggris Salahkan Rusia

Sisa-sisa pertempuran tertinggal di Hari ke 37 Perang Rusia vs Ukraina
Perbesar
Petugas penyelamat Ukraina membawa seorang wanita tua di bawah jembatan yang hancur di Irpin, dekat Kyiv, Ukraina, Jumat, 1 April 2022. Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022, kini perang yang berkecamuk memasuki hari ke-37. (AP Photo /Efrem Lukatsky)

Sementara, Kedutaan Besar Inggris di Jakarta mengingatkan bahwa Rusia bertanggung jawab atas melonjaknya harga gandum. Hal itu disebut berdampak kepada masyarakat miskin dan melonjaknya harga mie instan. 

Rusia juga dianggap melanggar perjanjian dengan kembali menyerang jalur logistik Ukraina, sehingga mempersulit pengiriman gandum. 

Menurut pernyataan Kedubes Inggris di Jakarta, Jumat (29/7), pekan lalu Rusia kembali menyerang pelabuhan Odesa di Ukraina. Serangan dilancarkan pada 22 Juli, yakni 24 jam setelah menyetujui kesepakatan untuk memungkinkan dimulainya kembali ekspor melalui perairan Ukraina di Laut Hitam.

Dua rudal Rusia menghantam infrastruktur pelabuhan dan dua ditembak jatuh oleh pertahanan udara Ukraina.

"Rusia bertanggung jawab atas penghentian ekspor gandum Ukraina; Rusia memegang kendali untuk ekspor ini agar dapat dimulai kembali. Sangat mengenaskan sekali bahwa hanya sehari setelah mencapai kesepakatan, Rusia meluncurkan serangan rudal di pelabuhan Odessa. Rusia harus menerapkan perjanjiannya dan mengizinkan ekspor yang aman dari Ukraina; dunia akan menyaksikan," ujar Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rob Fenn.

Calon kuat perdana menteri Inggris, Liz Truss, menyatakan serangan Rusia sebagai hal biadab. 

"Invasi biadab Putin ke Ukraina berarti beberapa orang termiskin dan paling rentan di dunia berisiko tidak memiliki apa pun untuk dimakan. Sangat penting bahwa gandum Ukraina bisa mencapai pasar makanan internasional, dan kami memuji Turki dan Sekretaris Jenderal PBB atas upaya mereka untuk memediasi perjanjian ini," ujar Liz Truss yang kini menjabat sebagai menteri luar negeri.

INFOGRAFIS JOURNAL_Konflik Ukraina dan Rusia Ancam Krisis Pangan di Indonesia?
Perbesar
INFOGRAFIS JOURNAL_Konflik Ukraina dan Rusia Ancam Krisis Pangan di Indonesia? (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya