Sekjen NATO Ungkap Bahaya Jika Rusia Menang di Ukraina

Oleh Liputan6.com pada 05 Agu 2022, 11:24 WIB
Diperbarui 05 Agu 2022, 11:24 WIB
Gedung Pemerintah di Kota Mykolaiv Hancur Dirudal Rusia
Perbesar
Petugas pemadam kebakaran membawa mayat dari puing-puing gedung pemerintah yang terkena roket Rusia di Mykolaiv (29/3/2022). Serangan Rusia menghancurkan gedung pemerintah daerah di kota Mykolaiv, Ukraina selatan, pelabuhan utama yang diserang selama berminggu-minggu. (AFP/Bulent Kilic)

Liputan6.com, Oslo - Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengungkap bahaya jika invasi Rusia berhasil di Ukraina. Kemenangan Rusia bisa meningkatkan selera Rusia untuk terus melakukan kekerasan terhadap negara-negara lain.

Dilansir VOA Indonesia, Jumat (5/8/2022), Jens Stoltenberg mengatakan NATO memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung Ukraina dan rakyat Ukraina yang telah menjadi sasaran perang agresi.

“Kita melihat tindakan perang, serangan terhadap warga sipil dan penghancuran yang tidak terlihat sejak Perang Dunia II,” kata Stoltenberg, menurut pernyataannya yang dilansir NATO. “Kita tidak dapat acuh tak acuh terhadap hal ini.”

Stoltenberg mengatakan dunia akan menjadi tempat yang lebih berbahaya jika Presiden Rusia Vladimir Putin mendapatkan apa yang ia inginkan melalui penggunaan kekuatan militer. “Jika Rusia menang perang ini, ia akan mendapatkan pengukuhan bahwa kekerasan membuahkan hasil. Kemudian negara-negara tetangga lainnya mungkin menjadi sasaran berikutnya,” ujarnya.

Militer Ukraina, Kamis (4/8) mengatakan pasukan Rusia telah menggempur banyak daerah di Ukraina, termasuk di sekitar Kharkiv, Slovyansk dan Chernihiv.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan pasukan Ukraina menggunakan rudal dan serangan artileri terhadap “kubu-kubu militer Rusia, klaster personel, pangkalan pendukung logistik dan gudang amunisi.” Menurut pernyataan kementerian itu, serangan-serangan semacam itu kemungkinan besar berdampak tinggi terhadap upaya Rusia untuk menambah pasokan dan mendukung pasukannya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Pernyataan G7

FOTO: Tanda Perdamaian Raksasa dari Belgia untuk Perang di Ukraina
Perbesar
Bendera Ukraina berkibar ditiup angin saat tanda perdamaian raksasa dipasang para demonstran jelang KTT Uni Eropa dan NATO di Brussels, Belgia, 22 Maret 2022. Pengunjuk rasa meminta para pemimpin Uni Eropa memberlakukan larangan penuh terhadap bahan bakar Rusia. (AP Photo/Geert Vanden Wijngaert)

Menteri-menteri luar negeri dari negara-negara anggota kelompok G7 mengeluarkan pernyataan hari Rabu malam (3/8) yang mengatakan mereka sedang mencari cara untuk “mencegah Rusia mengambil keuntungan dari perang agresinya dan untuk membatasi kemampuan Rusia melancarkan perang.”

Seraya menyebut upaya-upaya untuk secara bertahap mengakhiri penggunaan energi Rusia, para menteri mengatakan mereka akan mencari langkah-langkah untuk mengurangi jumlah uang yang diperoleh Rusia dari ekspor energinya, sambil berupaya menstabilkan pasar energi global dan mencegah dampak ekonomi merugikan terhadap negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

“Kami tetap berkomitmen untuk mempertimbangkan serangkaian pendekatan, termasuk opsi-opsi untuk melarang secara komprehensif semua layanan yang memungkinkan pengangkutan minyak mentah dan produk-produk minyak Rusia melalui laut secara global, kecuali minyak itu dibeli pada harga atau di bawah harga yang akan disepakati dalam konsultasi dengan mitra-mitra internasional,” kata pernyataan itu.

Di New York, Sekjen PBB Antonio Guterres, Rabu (3/8) mengatakan kepada wartawan bahwa organisasi itu kini sedang mencari cara-cara untuk meredakan krisis energi global yang disebabkan oleh perang.


PBB: Ada Perkembangan di Isu Gandum

Biji Gandum
Perbesar
Ilustrasi Biji Gandum Credit: pexels.com/Sony

Guterres mengatakan sewaktu perundingan untuk memulai kembali pengiriman biji-bijian dari Ukraina menunjukkan sedikit hasil, harga gandum dan pupuk mulai turun dan kini berada pada kisaran sebelum invasi. “Tetapi ini tidak berarti harga roti di toko sama dengan harga sebelum perang,” katanya memperingatkan seraya menyebut tentang tingkat inflasi global.

Guterres berharap dapat menenangkan pasar energi dalam mengantisipasi bahwa suatu kesepakatan dapat dicapai di mana pasokan akan melampaui permintaan. “Untuk itu, ada dua hal yang sangat mendasar,” katanya. “Satu, mengurangi konsumsi sebanyak mungkin. Dan kedua, berharap besar pada investasi yang kuat dalam energi terbarukan,” imbuhnya.

Pemimpin PBB itu mengkritik apa yang ia sebut sebagai “keserakahan aneh” perusahaan-perusahaan minyak dan gas yang keuntungannya sangat besar dengan adanya krisis energi.

“Tidaklah bermoral bagi perusahaan minyak dan gas untuk menarik keuntungan yang mencapai rekor dari krisis energi ini dengan mengorbankan orang dan masyarakat termiskin, dan dengan kerugian sangat besar terhadap iklim,” katanya. Ia mendesak pemerintah negara-negara agar memungut pajak atas keuntungan itu dan menggunakan hasilnya untuk jaring pengaman sosial.


Gandum Ukraina Tiba di Perairan Turki, Bakal Diperiksa Lalu ke Lebanon

Keakraban Erdogan, Putin, Rouhani Saat Bahas Perdamaian Suriah
Perbesar
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara dalam menggelar pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Hassan Rouhani terkait perdamaian Suriah di Ankara, Turki, Rabu (4/4). (AFP PHOTO/ADEM ALTAN)

Sebelumnya dilaporkan, kapal gandum pertama yang meninggalkan Ukraina sejak invasi Rusia telah tiba di selat Bosphorus Turki.

Razoni, yang membawa 26.000 ton jagung, akan diperiksa pada Rabu (3/8) pagi sebelum melanjutkan perjalanannya ke Lebanon. 

Rusia telah memblokade pelabuhan Ukraina sejak menginvasi pada Februari, mengintensifkan kekurangan pangan global.

Berdasarkan ketentuan kesepakatan yang ditengahi oleh Turki dan PBB bulan Juli lalu, kedua belah pihak telah sepakat pengiriman dapat dilanjutkan.

Ukraina mengatakan kapal angkatan lautnya akan memandu kapal kargo melalui perairan tersebut.

Dalam pidato malamnya yang biasa pada hari Selasa, Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan dia ingin melihat ekspor biji-bijian menjadi teratur lagi.

"Tujuan kami sekarang adalah memiliki keteraturan: sehingga ketika satu kapal meninggalkan pelabuhan, ada kapal lain - baik yang memuat maupun yang mendekati pelabuhan," katanya.

Selain mengurangi kekurangan pangan di tempat lain, ia berharap ekspor akan mendorong petani Ukraina untuk menabur benih untuk musim depan.

"Ini adalah masalah ketahanan pangan untuk negara kita juga - kita sekarang memastikan tahun depan."

INFOGRAFIS JOURNAL_Konflik Ukraina dan Rusia Ancam Krisis Pangan di Indonesia?
Perbesar
INFOGRAFIS JOURNAL_Konflik Ukraina dan Rusia Ancam Krisis Pangan di Indonesia? (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya