Indonesia-Afrika Selatan Sepakat Tingkatkan Volume Perdagangan Bilateral di Masa Mendatang

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 07 Jul 2022, 15:32 WIB
Diperbarui 07 Jul 2022, 15:32 WIB
Ilustrasi bendera negara Afrika Selatan
Perbesar
Ilustrasi bendera negara Afrika Selatan. (Photo by Den Harrson on Unsplash)

Liputan6.com, Nusa Dua - Menteri Luar Negeri RI telah melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, G.N.M. Pandor, pada 7 Juli 2022, yang berada di Bali dalam rangka menghadiri Pertemuan Menlu G20, 7-8 Juli 2022.

Dalam kerja sama bilateral, kedua Menlu menyambut baik peningkatan perdagangan bilateral sebesar 115% pada tahun 2021, yang mencapai USD 2,8 miliar, dibandingkan tahun 2020 sebesar USD 1,3 miliar.

Kedua negara sepakat untuk lebih meningkatkan lagi volume perdagangan bilateral di masa datang, demikian disebutkan dalam rilis yang diterima Liputan6.com dari Kemlu RI, Kamis (7/7/2022).

Selain itu, kedua Menlu juga menyambut baik telah diselesaikannya pembahasan MoU kerja sama di bidang pertahanan dan perikanan, yang akan ditandatangani dalam waktu dekat.

Kedua Menlu juga sepakat untuk lebih mengintensifkan kerja sama kedua negara di bidang kesehatan.

Dalam konteks kerja sama multilateral, Menlu RI dan Menlu Afrika Selatan menyepakati pentingnya agar suara negara-negara berkembang dapat lebih di dengar dalam berbagai isu internasional.

Hal ini dapat dicapai antara lain melalui forum Gerakan Non Blok (GNB). Menlu Afrika Selatan menyampaikan apresiasi terhadap Indonesia sebagai Presiden G20 yang menunjukkan keberpihakan kepada negara berkembang.

Hal ini dapat dilihat pada diundangnya Uni Afrika danperwakilan dari negara-negara berkembang dalam berbagai pertemuan G20.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Pertemuan Bilateral RI-China

Wang Yi, Menteri Luar Negeri China (wikimedia commons)
Perbesar
Wang Yi, Menteri Luar Negeri China (wikimedia commons)

Menteri Luar Negeri RI telah melakukan pertemuan bilateral dengan State Councilor/Menlu China, Wang Yi, pada 7 Juli 2022, yang berada di Bali dalam rangka menghadiri Pertemuan Menlu G20.

Pada pertemuan bilateral dengan Indonesia, Menlu Wang Yi menyebut soliditas suara negara-negara berkembang diperlukan dalam upaya menghentikan perang.

Menurut Menlu Wang Yi, upaya tersebut mampu mengintegrasikan kembali ekspor pangan Ukraina dan Rusia ke rantai pasok global, demikian seperti disebutkan dalam rilis dari Kemlu RI yang diterima Liputan6.com, Kamis (7/7/2022).

Bersama Menlu Retno Marsudi, Menlu Yi melakukan Pertemuan ke-2 High-Level Dialogue and Cooperation Mechanism (HDCM) pada 9 Juli, di Bali.

Dari pihak Indonesia, delegasi akan dipimpin bersama oleh Menko Marinves dan Menlu RI.

Selain isu bilateral, Kedua Menlu juga membahas pentingnya kerja sama antar negara berkembang dalam rangka memelihara stabilitas kawasan dan mengatasi isu-isu global termasuk melalui penguatan kerja sama ASEAN dan RRT.

Menlu Wang Yi menyampaikan apresiasi terhadap Indonesia atas penyelenggaraan Pertemuan Menlu G20 yang inklusif mengingat peran strategis G20 dalam membahas isu-isu global.

Indonesia sampaikan apresiasi atas dukungan RRT untuk Presidensi Indonesia di G20 hingga KTT November nanti. Keduanya sepakat banyaknya tantangan yang dihadapi yang memerlukan kerja sama erat.


Pertemuan Bilateral RI-India

Ilustrasi bendera India (AFP Photo)
Perbesar
Ilustrasi bendera India (AFP Photo)

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri India, Dr. S. Jaishankar, pada 7 Juli 2022, yang berada di Bali dalam rangka menghadiri Pertemuan Menlu G20.

Pada kesempatan tersebut, Menlu Jaishankar menyampaikan kembali dukungan India terhadap Presiden G20 Indonesia. Menlu India juga sampaikan apresiasi terhadap kepemimpinan Indonesia yang dapat menghadirkan semua Menlu G20 dalam pertemuan kali ini ditengah situasi dunia yang menghadapi banyak tantangan saat ini.

Kedua Menlu sepandangan pentingnya penguatan suara negaraberkembang.

Sudah saatnya suara negara berkembang untuk didengarkan dalam berbagai isu internasional.

Mereka juga sepakat untuk menyuarakan pentingnya perang untuk dihentikan dan pentingnya reintegrasi ekspor produk pertanian dari Ukraina dan gandum serta pupuk dari Rusia dalam rantai pasok global.

Sebagai informasi, India akan menjadi Presiden G20 pada tahun 2023, setelah Indonesia.

Agenda pertemuan para menlu G20 di Bali, akan berlangsung pada 7-8 Juli 2022. Dengan mengusung tema “Membangun dunia yang lebih damai, stabil, dan sejahtera bersama”, pertemuan ini akan menjadi forum strategis untuk membahas upaya pemulihan global.​

G20 adalah platform multilateral strategis yang menghubungkan 20 ekonomi utama dunia.

G20 memainkan peran strategis dalam mengamankan masa depan pertumbuhan ekonomi global dan kemakmuran. Indonesia memegang Kepresidenan G20 2022 dan memprioritaskan kerja sama dalam memperkuat arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi.

Dengan situasi baru di Ukraina, isu terkait ketahanan pangan juga akan dibahas secara luas pada pertemuan G20.


Deretan Isu yang Akan Dibahas dalam FMM G20 2022

Indonesia ingin mencapai lima hal dalam bidang kesehatan saat memegang Presidensi G20.
Perbesar
Indonesia ingin mencapai lima hal dalam bidang kesehatan saat memegang Presidensi G20.

FMM G20 akan memiliki dua sesi. Sesi pertama Penguatan Multilateralisme akan membahas langkah-langkah bersama untuk memperkuat kolaborasi global dan membangun rasa saling percaya antar negara, yang akan menjadi lingkungan pendukung bagi stabilitas, perdamaian, dan pembangunan dunia.

Dua pembicara khusus akan berbagi ide dalam sesi ini, yaitu Sekjen PBB Antonio Guterres dan Prof. Jeffrey Sachs (Columbia University). Mereka akan berbagi pandangan tentang pemberdayaan prinsip dan forum multilateral di tengah situasi geopolitik saat ini, demikian dikutip dari laman Kemlu.go.id, Kamis (7/7/2022).

Sesi kedua tentang Ketahanan Pangan dan Energi akan membahas langkah-langkah strategis untuk mengatasi krisis pangan, kelangkaan pupuk, dan kenaikan harga komoditas global.

Naiknya harga komoditas dan terganggunya rantai pasokan global berdampak besar pada negara-negara berkembang. Untuk itu, G20, sebagai forum ekonomi yang mewakili berbagai kawasan di dunia, memiliki kekuatan untuk membahas isu-isu tersebut secara komprehensif untuk menemukan solusi sosial ekonomi yang berkelanjutan.

Untuk sesi ini, Indonesia mengundang tiga pembicara khusus, yaitu David Beasley (Executive Director World Food Programme), Damilola Ogunbiyi (Special Representative of the UN Secretary-General for Sustainable Energy for All and Co-Chair of UN-Energy), dan Mari Elka Pangestu (Direktur Pelaksana Bank Dunia).

Mereka akan memberikan wawasan tentang dampak konflik saat ini terhadap ekonomi dan pembangunan dunia.

Selain itu, di sela-sela Pertemuan Menlu G20, Menlu RI juga akan melakukan beberapa pertemuan bilateral dengan Menlu baik dari negara anggota G20 maupun negara undangan lainnya.

Infografis Indonesia Terima Tongkat Estafet Presidensi G20. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Indonesia Terima Tongkat Estafet Presidensi G20. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya