Jurnalis Indonesia-Malaysia Komitmen Perkuat Persahabatan di Kunjungan ISWAMI 2022

Oleh Tommy Kurnia pada 30 Jun 2022, 20:00 WIB
Diperbarui 30 Jun 2022, 20:00 WIB
Para jurnalis di acara ISWAMI bersama perwakilan pemerintah Putrajaya berfoto di atas kapal pesiar di Putrajaya, Malaysia.
Perbesar
Para jurnalis di acara ISWAMI bersama perwakilan pemerintah Putrajaya berfoto di atas kapal pesiar di Putrajaya, Malaysia. Dok: ISWAMI

Liputan6.com, Putrajaya - Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia dan Indonesia (ISWAMI) menggelar acara silaturahmi di Malaysia. Para jurnalis dari Indonesia diajak ke pusat pemerintah di Putrajaya

Acara dihadiri para jurnalis senior dari Indonesia, mulai dari Majalah Tempo, Detik, IDN Times, Bisnis Indonesia, Pikiran Rakyat, dan lain-lain. Ada juga jurnalis muda dari CNN Indonesia, Liputan6.com, Kompas, Kumparan, serta Astro Awani dan TV3 di Malaysia.

Para jurnalis sempat mengunjungi tempat tinggal para pekerja migran Indonesia, studio Upin-Ipin, dan pemerintah daerah Putrajaya untuk membahas isu seputar ibu kota mengingat Indonesia juga ingin pindah ibu kota.

"Hasrat tujuan utama program ini tak lain tak bukan agar kita terus bersama walaupun terpisah oleh lautan," ujar Presiden ISWAMI Malaysia Datuk Mokhta Hussain dalam jamuan makan malam bersama para jurnalis, Rabu malam (29/6).

"Kita bersama itu maksudnya bersama menuju satu destinasi, matlamat, arah kesejahteraan rakyat," tegas Datuk Mokhta Hussain.

Wakil Pemimpin Redaksi IDN Times, Umi Khalsum, memberikan ucapan apresiasi dari pihak Indonesia yang mengajak asrama pekerja migran dan studio Upin dan Ipin. Ia berharap sahabat karib antara jurnalis kedua negara bisa terus berkembang.

"Luar biasa karena kami mendapatkan banyak insight, juga banyak perspektif baru dari kunjungan ke dua tempat ini, sehingga Insya Allah bisa bermanfaat bagi kami semua," jelas Umi Khalsum.

"Kami berharap media-media di Indonesia dan Malaysia bisa semakin dekat, bisa semakin karib, kemudian kami berharap bisa membantu mengedukasi pembaca kami, audiens kami, di dua negara," ujarnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Bertemu Astro Awani

Pemimpin redaksi Astro Awani, Ashwad Ismail (tengah).
Perbesar
Pemimpin redaksi Astro Awani, Ashwad Ismail (tengah) dan jurnalis senior Tempo Bagja Hidayat (kiri). Dok: ISWAMI

Pada Kamis (30/6/2022), para wartawan Indonesia juga sempat berkunjung ke gedung Astro Awani, salah satu media mainstream yang paling berpengaruh di Malaysia. Para wartawan Indonesia bertemu para jurnalis senior di media Malaysia itu.

Di sana, Liputan6.com berbincang dengan para wartawan Astro Awani tentang rencana ibu kota baru RI, politik, industri hiburan, masalah SEO, dan kehidupan sosial di Jakarta dan Kuala Lumpur.

Pemimpin redaksi dari Astro Awani adalah seorang jurnalis muda yang berusia 30-an. Pria yang akrab dipanggil Ash itu sangatlah muda dibandingkan para editor-in-chief lainnya di Malaysia maupun Indonesia.

"Itulah kenapa saya disebut troublemaker," ujar Ash ketika mengobrol dengan Liputan6.com.

Ash dipercaya oleh para jurnalis Astro Awani yang usianya lebih senior. Para wartawan Astro Awani menyebut tidak mengikuti tradisi senioritas di ruang redaksi mereka, namun melihat dari segi kapabilitas.

Seorang jurnalis Astro berkata Ash memiliki kharisma dan gaya engagement yang kuat. Berkat kepemimpinan Ash, Astro yang hanya memiliki sekitar 70 staf kini merupakan media dengan pengaruh yang signifikan di media sosial negeri jiran Malaysia.


Pakar Media Berkumpul di Jerman Bahas Masa Depan Jurnalisme di Tengah Krisis

DW Global Media Forum 2022 (Liputan6.com/Irna Gustiawati)
Perbesar
DW Global Media Forum 2022 (Liputan6.com/Irna Gustiawati)

Beberapa hari sebelumnya, para tokoh jurnalis dari berbagai negara juga baru saja berkumpul di DW Global Media Forum membahas jurnalisme di masa krisis. Pakar media dari seluruh dunia berkumpul di bekas ibu kota Jerman, Bonn, untuk membahas masa depan jurnalisme di masa perang, krisis, dan bencana.

Dikutip dari laman DW, Selasa (21/6), krisis global bukan lagi pengecualian tetapi aturannya: Perubahan iklim, kepunahan spesies, meningkatnya ketimpangan sosial dan ekonomi, pandemi, perang, dan ini bukan hanya ancaman besar bagi kehidupan yang terjadi dalam interval yang semakin pendek.

Semuanya juga merupakan fenomena yang menarik satu sama lain ke dalam spiral kehancuran dan gangguan. Baru-baru ini, itu semua telah dimanifestasikan dalam rangkaian peristiwa yang digerakkan oleh invasi brutal Rusia ke tetangganya, Ukraina.

Banyak yang sekarat karena mereka terjebak dalam baku tembak. Lainnya karena mereka tidak punya cukup makanan. Tetapi perang juga telah membuat ekonomi global keluar dari keterpurukan, memaksa semakin banyak pria dan wanita yang putus asa untuk bergabung dengan gelombang migrasi yang semakin besar.

Di tengah itu semua adalah jurnalis. Tetapi bahkan sebagai penulis, reporter, dan koresponden, mereka terlalu sering menjadi sasaran kekerasan yang sewenang-wenang dan sistematis.


Jurnalis Peraih Nobel Maria Ressa Buka Global Media Forum di Bonn

Maria Ressa, jurnalis dari Filipina yang meraih Nobel Perdamaian 2021.
Perbesar
Maria Ressa, jurnalis dari Filipina yang meraih Nobel Perdamaian 2021. Dok: Nobel Prize

Jurnalis asal Filipina peraih Nobel Maria Ressa memberikan keynote speech di forum DW dengan pertanyaan: "Bagaimana kita membangun kembali kepercayaan? Karena itulah yang telah dihancurkan oleh pemerintah yang tidak liberal. Jika Anda tidak memiliki integritas fakta, bagaimana Anda bisa memiliki integritas pemilu?" 

Ressa menambahkan, "Tiga pilar teknologi, jurnalisme, dan komunitas akan membantu membangun kembali kepercayaan terhadap jurnalisme."

Dalam pidato pembukaannya, Direktur Jenderal DW Peter Limbourg menekankan tantangan pelaporan perang di Ukraina. "Ini adalah salah satu waktu dalam sejarah ketika jurnalisme pasti dapat membuktikan relevansinya. Kami tidak dapat menghentikan perang, tetapi kami dapat berkontribusi pada politik yang menentukan. tindakan dengan menjaga nasib ratusan ribu orang di berita utama," katanya.

"Kita menghadapi badai disinformasi, propaganda, dan sensor. Ketika suara-suara bebas dan independen bekerja sama, kita dapat menahan badai ini dan membuat perbedaan," ujarnya lagi. 

Dalam sebuah pernyataan video, Menteri Luar Negeri Federal Jerman Annalena Baerbock memuji pemenang Penghargaan Kebebasan Berbicara DW 2022 Mstyslav Chernov dan Evgeniy Maloletka.

"Saya senang bahwa Global Media Forum menghormati mereka dengan Penghargaan Kebebasan Berbicara hari ini. Mereka membela keberanian ratusan jurnalis yang meliput dari Ukraina," katanya. 

"Saya sangat yakin bahwa masyarakat yang bebas dan demokratis membutuhkan media yang bebas untuk menginformasikan warga dan meminta pertanggungjawaban mereka yang berkuasa. Global Media Forum DW memberikan kontribusi penting untuk mencapai tujuan ini. Orang-orang di seluruh dunia mengandalkan Deutsche Welle sebagai sumber untuk pelaporan faktual, objektif dan berimbang. Karena kebenaran sangat diperlukan – di Mariupol dan di Moskow, di Brussel dan di Bonn."

Infografis Gejala dan Pencegahan Covid-19 Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Gejala dan Pencegahan Covid-19 Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya