Badai Matahari Mendadak Hantam Bumi, Para Ilmuwan Bingung

Oleh Benedikta Miranti T.V pada 30 Jun 2022, 20:32 WIB
Diperbarui 30 Jun 2022, 20:32 WIB
Badai Matahari
Perbesar
Badai Matahari ( NASA/SDO/Goddard)

Liputan6.com, Jakarta - Para ilmuwan baru-baru ini kebingungan setelah badai matahari yang "berpotensi mengganggu" menghantam Bumi secara mendadak tanpa peringatan.

Menurut Spaceweather.com, Kamis (30/6/2022), badai matahari yang mengejutkan menghantam Bumi tepat sebelum tengah malam pada 25 Juni dan berlanjut hampir sepanjang 26 Juni. Para ilmuwan mengklasifikasikannya sebagai badai kelas G1, yang berarti cukup kuat untuk membuat fluktuasi jaringan listrik yang lemah.

Hal ini menyebabkan dampak kecil pada operasi satelit, mengganggu kemampuan navigasi beberapa hewan Bumi yang bermigrasi dan menyebabkan aurora yang sangat kuat, seperti dilansir Live Science

Badai matahari yang tak terduga bertepatan dengan puncak penyelarasan lima planet yang sangat langka, di mana Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus berbaris di langit dalam urutan kedekatannya dengan matahari (yang belum pernah terjadi sejak 1864).

Astronom amatir di belahan bumi utara mampu menangkap gambar aurora kejutan saat mereka melakukan photobomb pada planet-planet yang tersusun rapi.

Fotografer Harlan Thomas mengambil gambar aurora terang di Calgary, Kanada, yang melintas di langit fajar di depan penyelarasan planet pada 26 Juni. "Wow, bicara tentang kejutan," kata Thomas kepada Spaceweather.com. 

"Aurora menjadi [terlihat oleh] mata telanjang dengan pilar-pilar yang indah," dan berlangsung selama sekitar 5 menit, imbuh Thomas.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 ha dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Dugaan Ilmuwan

Badai Matahari 2012
Perbesar
Badai Matahari 2012 (NASA)

Para ilmuwan awalnya menduga coronal mass ejection (CME) menyebabkan badai aneh - sendawa plasma besar dengan medan magnet tertanam yang dikeluarkan dari bintik matahari - tetapi mereka tidak tahu apakah itu terjadi di sisi Bumi atau sisi jauh Bumi.

Namun, para ahli sekarang menyalahkan wilayah interaksi rotasi bersama (CIR) matahari yang jauh lebih jarang; ini adalah "zona transisi antara aliran angin matahari yang bergerak lambat dan cepat."

Zona ini menciptakan penumpukan plasma yang tiba-tiba dapat melepaskan gelombang kejut yang mirip dengan CME tetapi tidak menyebabkan bintik matahari — yang membuatnya lebih sulit untuk dideteksi di permukaan matahari.

Angin matahari yang meledakkan Bumi pada 25 dan 26 Juni mencapai puncaknya sekitar 1,57 juta mil per jam (2,52 juta kilometer per jam), yang konsisten dengan CIR lain di masa lalu.

Badai matahari yang mengejutkan menghantam Bumi kurang dari seminggu setelah bintik matahari raksasa, yang dikenal sebagai AR3038, berukuran dua kali lipat selama periode 24 jam dan mencapai diameter maksimum lebih dari 2,5 kali ukuran Bumi.

Bintik matahari raksasa memicu kekhawatiran CME yang berpotensi merusak menghantam planet kita, tetapi titik itu akhirnya menjauh dari Bumi saat matahari berotasi. Para ilmuwan tidak tahu apakah bintik matahari raksasa dan badai matahari terhubung.

Infografis Waspada Covid-19 Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 Terdeteksi di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Waspada Covid-19 Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 Terdeteksi di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya