HEADLINE: Mahathir Mohamad Singgung Malaysia Harusnya Klaim Singapura dan Riau, Ada Apa?

Oleh Tanti YulianingsihAdy AnugrahadiDelvira HutabaratMuhammad Radityo PriyasmoroTeddy Tri Setio BertyTommy KurniaNafiysul Qodar pada 23 Jun 2022, 00:00 WIB
Diperbarui 23 Jun 2022, 04:59 WIB
Banner Infografis Mahathir Mohamad Singgung Malaysia Harusnya Klaim Singapura dan Riau. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Banner Infografis Mahathir Mohamad Singgung Malaysia Harusnya Klaim Singapura dan Riau. (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Sosok Mahathir Mohamad tengah jadi pergunjingan netizen di Singapura dan Indonesia. Bukan karena kehadirannya baru-baru ini atas undangan Rakernas NasDem di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Jumat 17 Juni 2022, tapi asal mulanya adalah perkara klaim wilayah di Singapura dan kepulauan Riau di Indonesia.

Kala itu, Minggu 19 Juni, Mahathir Mohamad dipercaya untuk berpidato di sebuah acara yang diselenggarakan oleh beberapa organisasi non-pemerintah di bawah bendera Kongres Survival Melayu di Selangor, Malaysia.

Dalam pidato pembukaannya yang disiarkan langsung di media sosial, Mahathir mengatakan bahwa apa yang dikenal sebagai Tanah Melayu dulu sangat luas, membentang dari Tanah Genting Kra di Thailand selatan sampai ke Kepulauan Riau, dan Singapura, tetapi sekarang terbatas di Semenanjung Malaya.

"Saya bertanya-tanya apakah Semenanjung Malaya akan menjadi milik orang lain di masa depan," katanya.

Pada momen tersebut, Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad juga mengatakan bahwa Singapura pernah dimiliki oleh Johor dan negara bagian Johor harus menuntut agar Singapura dikembalikan ke asalnya, yaitu Malaysia.

"Namun, tidak ada tuntutan apapun dari Singapura. Sebaliknya, kami menunjukkan apresiasi kami kepada kepemimpinan negara baru bernama Singapura ini," ujar Mahathir Mohamad saat berpidato.

Mantan perdana menteri berusia 96 tahun itu lantas mengatakan pemerintah Malaysia menganggap lebih berharga bahwa mereka memenangkan kendali atas Pulau Sipadan dan Ligitan di lepas Kalimantan melawan Indonesia di Mahkamah Internasional (ICJ), demikian seperti dikutip dari straitstimes, Selasa 21 Juni.

"Seharusnya kita tidak hanya menuntut agar Pedra Branca, atau Pulau Batu Puteh, dikembalikan kepada kita, kita juga harus menuntut Singapura dan Kepulauan Riau, karena mereka adalah Tanah Melayu,” tambahnya yang disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Ia juga mengatakan, Malaysia saat ini bukan milik bumiputera, karena banyak orang Melayu yang tetap miskin dan cenderung menjual tanahnya.

Mendesak pendengarnya untuk belajar dari masa lalu, dia berkata: "Jika kami menemukan kami salah, kami harus memperbaiki kesalahan ini sehingga tanah kami tetap tanah Melayu."

ICJ pada tahun 2002 memutuskan bahwa Sipadan dan Ligitan milik Malaysia dan bukan milik Indonesia.

Pada tahun 2008, ICJ memutuskan bahwa Pedra Branca milik Singapura, sementara kedaulatan atas Middle Rocks di dekatnya diberikan kepada Malaysia.

Pada 2017, Malaysia mengajukan permohonan kepada ICJ untuk merevisi putusan ini. Tetapi pada Mei 2018, setelah Mahathir menjadi perdana menteri lagi, Malaysia mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan proses tersebut.

Infografis Mahathir Mohamad Singgung Malaysia Harusnya Klaim Singapura dan Riau. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Mahathir Mohamad Singgung Malaysia Harusnya Klaim Singapura dan Riau. (Liputan6.com/Abdillah)

Netizen Indonesia dan Singapura Geram

Mengetahui pernyataan tersebut, netizen Indonesia dan Singapura pun geram. Tak sedikit yang meninggalkan jejak ketidaksukaannya di akun Instagram @chedetofficial, melalui komentar pada unggahan kedatangan Mahathir Mohamad ke Indonesia atas undangan Ketua Umum Partai Nasional Demokrasi (Nasdem).

"Ganyang," tulis akun @tioooekas pada postingan Instagram dua hari lalu itu.

Netizen lainnya juga mengungkapkan protesnya namun dengan komentar lebih bijak di akun @tomm.shon: Singapore is Singapore and will always be. Riau Islands are part of Indonesia and will always be. Speak good and right or remain silent.

(Singapura adalah Singapura dan akan selalu begitu. Kepulauan Riau adalah bagian dari Indonesia dan akan selalu begitu. Berbicaralah yang baik dan benar atau tetap diam.)

Komentar protes dengan nada serupa juga dilontarkan @stsantoWith all due respect sir, Singapore is not part of Malaysia. You can do whatever you think is good for you to get your political gain back, however please respect other nations. Rest assured Singaporeans cannot be bullied easily, it's a little red dot but it earns the global respect for a reason. It's pity that you would end your political career like this.

(Dengan segala hormat pak, Singapura bukan bagian dari Malaysia. Anda dapat melakukan apa pun yang menurut Anda baik untuk mendapatkan kembali keuntungan politik Anda, namun tolong hormati negara lain. Yakinlah bahwa orang Singapura tidak dapat diintimidasi dengan mudah, ini adalah titik merah kecil tetapi mendapatkan rasa hormat global karena suatu alasan. Sangat disayangkan bahwa Anda akan mengakhiri karir politik Anda seperti ini.)

Sedangkan seorang netizen @iftikharham terlihat geram dengan menyebut "aki-aki bau tanah". Dalam KBBI, aki adalah sebutan untuk kakek.

Lalu akun @samsul_arifin45 mempertanyakan perihal klaim Mahathir Mohamad. "Apakah ini provokasi ngajak perang dari. pihak sana", tulisnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Respons Indonesia

Mahathir Mohamad Mundur sebagai PM Malaysia
Perbesar
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad melambaikan tangan ke media setelah konferensi pers di Putrajaya, Malaysia, 15 April 2019. Tak ada penjelasan resmi terkait alasan di balik keputusan ini, apalagi selama ini rezim Mahathir tidak mengalami kontroversi. (AP Photo/Vincent Thian)

Pemerintah Indonesia kemudian merespons pernyataan kontroversial mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad soal Kepulauan Riau (Kepri). Mahathir dalam sebuah pidato menyatakan bahwa Malaysia seharusnya mengklaim Kepri sebagai bagian dari wilayahnya.

"Perlu dikonfirmasi apakah pernyataan Mahathir Mohamad merupakan posisi resmi Pemerintah Malaysia? Kalau tidak, maka pernyataan tersebut hanyalah pandangan pribadi," kata Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Jaleswari Pramodawardhani dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Rabu (22/6/2022).

Dia menegaskan, secara obyektif untuk menentukan pemegang kedaulatan atas suatu wilayah, hukum kebiasaan internasional maupun berbagai preseden putusan pengadilan internasional telah memberikan standar kendali efektif yang harus dipenuhi oleh suatu pemerintah terhadap wilayah yang diklaim berada dalam kendalinya.

"Hingga detik ini, satu-satunya entitas yang memiliki kendali atas wilayah Provinsi Riau adalah Pemerintah Republik Indonesia," ujar Jaleswari.

Hal tersebut, kata dia, bisa dilihat dari adanya administrasi pemerintahan Indonesia di Provinsi Kepulauan Riau yang dilakukan lewat proses demokratis, kapasitas menerapkan hukum nasional, pencatatan kependudukan, kemampuan penegakan hukum, dan unsur-unsur lain yang hanya bisa diterapkan oleh entitas pemerintah yang sah.

Saat dikonfirmasi perihal isu tersebut, pihak KBRI Kuala Lumpur mengatakan "kami merujuk pernyataan dari Kemlu Pusat ya."

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) kemudian menyatakan rasa kecewa atas retorika mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad terkait Kepulauan Riau. Mahathir yang notabene merupakan seorang politikus senior dinilai harus lebih bijak dalam menyampaikan pandangan. 

Retorika Mahathir Mohamad dianggap tidak memiliki dasar hukum, serta dikhawatirkan menganggu persatuan antara kedua negara di tengah kondisi global seperti sekarang.

"Indonesia tidak melihat dasar hukum dan alasan pernyataan Tun Mahathir. Ditengah situasi dunia yang sedang menghadapi banyak tantangan, seorang politisi senior seharusnya tidak menyampaikan statement yang tidak berdasar (baseless) yang dapat menggerus persahabatan," ucap juru bicara Kemlu RI Teuku Faizasyah kepada Liputan6.com.

"Wilayah NKRI ditentukan berdasarkan prinsip dan ketentuan hukum internasional yang berlaku," jelas Faiza. "Perlu ditekankan bahwa Kepulauan Riau adalah wilayah NKRI dan sampai kapanpun akan menjadi wilayah NKRI."

Ucapan mantan PM Malaysia itu mengemuka ketika Menteri Luar Negeri Retno Marsudi baru-baru ini membahas pentingnya kepercayaan antara negara saat ia berdialog di India. Menlu Retno menyebut butuh "vaksin" untuk melawan "virus" ketidakpercayaan tersebut.

"Untuk menangani dan mencegah virus ini menular secara cepat, di dalam Delhi Dialogue saya juga mengumpakam diperlukannya vaksin yang disebut Vaccine Strategic Trust atau Vaksin Penambah Rasa Saling Percaya," ujar Menlu Retno.

Menlu Retno Marsudi menjelaskan bahwa vaksin itu mengandung prinsip inklusivitas dan kerja sama konkret, namun masih banyak negara yang ragu-ragu dalam memakai vaksin tersebut. Ia pun meminta agar negara-negara memilih vaksin kepercayaan tersebut agar kawasan Indo-Pasifik dapat menjadi lebih sejahtera.

 

Infografis Alasan Mahathir Mohamad Sebut Malaysia Harusnya Klaim Singapura dan Riau. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Alasan Mahathir Mohamad Sebut Malaysia Harusnya Klaim Singapura dan Riau. (Liputan6.com/Abdillah)

Batas Negara Sudah Final

Rumah Perbatasan Indonesia-Malaysia (Rumah Patok 3)
Perbesar
Sumber: Twitter @ipanketapang (Irfan)

Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin menegaskan bahwa batas negara Indonesia dan Malaysia sudah final.

"Menurut hemat saya, pernyataan itu tidak tepat dan tak bijak. Batas antara Singapura, Kepulauan Riau (Indonesia), dan Malayasia saat ini sudah final dan tak perlu dipermasalahkan lagi," ujar TB Hasanuddin saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat hari Rabu.

Hasanuddin menyesalkan pernyataan kontroversial tersebut yang justru keluar dari mulut politikus senior Malaysia.

"Indonesia juga tak pernah mempermasalahkan dan mengungkit-ungkit wilayah Malaysia yang dulu menjadi bagian dari wilayah Majapahit," kata dia.

Lebih lanjut, politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini meminta semua pihak tetap tenang menyikapi pernyataan Mahathir Mohamad tersebut.

"Kita tak boleh terpancing oleh pendapat yang dapat memancing ketegangan di wilayah ini," ujar TB Hasanuddin menandaskan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (Sekjen PDIP) Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa jika hanya melihat sejarah, maka Pahang juga seharusnya bisa diklaim oleh Indonesia.

"Klaim itu harus melihat perspektifnya, kalau melihat perspektifnya historis, Pahang itu zaman Gajah Mada masuk ke Majapahit, kalau dilihat perspektif historisnya," kata Hasto saat ditemui di Sekolah Partai PDIP, Rabu (22/6/2022).

Hasto lantas meminta Malaysia menghormati kedaulatan Indonesia.

"Dalam kondisi bangsa-bangsa sudah merdeka, sebaiknya kita menghormati kedaulatan setiap negara, karena itu juga yang dilakukan oleh Indonesia," tegas Hasto.

Terkait hal ini, Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam mengatakan bahwa Kepulauan Riau sejak masa kolonial sudah termasuk dalam wilayah Hindia Belanda. Dengan begitu, maka Kepulauan Riau termasuk dalam wilayah Indonesia.

"Kepulauan Riau adalah bagian dari Hindia Belanda. Nah kita ini Indonesia mewariskan atau melanjutkan apa yang ada di wilayah Hindia Belanda. Sehingga kita mengatakan Papua Barat, Irian Barat bagian Indonesia karena bagian Hindia Belanda. Sementara Timor Timur bukan bagian dari Hindia Belanda," ujar Asvi saat dihubungi Liputan6.com.

Jika merujuk pada masa Majapahit, Asvi menyebut Malaysia justru masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan yang berpusat di Mojokerto, Jawa Timur tersebut. Namun klaim wilayah pada masa kerajaan tidak diakui. 

"Yang diakui adalah apa yang terjadi pada masa kolonial, itu pembagian-pembagian wilayah yang terjadi waktu itu," tutur Asvi.

Karena itu, menurut dia, Indonesia tidak perlu menanggapi berlebihan terhadap pernyataan kontroversial yang dilontarkan Mahathir Mohamad. Pernyataan tersebut dinilai hanya sebagai wacana sejarah yang tidak berpengaruh apapun secara hukum.

"Mungkin Maharthir berusaha mengungkapkan kejayaan kerajaan-kerajaan masa lalu di Malaysia. Bahwa pada masa lampau Johor itu mempunyai pengaruh terhadap Singapura," kata Asvi.

"Pernyataan seperti itu enggak menganggu, menurut saya. Seperti wacana sejarah yang menceritakan ada kerajaan dulu mempunyai wilayah atau pengaruh yang sangat luas. Jadi cerita tentang kejayaan Johor masa lalu. Sama seperti kita bisa bercerita kejayaan Majapahit pada masa lampau, tapi kita tidak melakukan klaim terhadap Malaysia," ujar Asvi menandaskan.


Respons Singapura

Ilustrasi bendera Singapura - Portrait (Wikimedia Commons)
Perbesar
Ilustrasi bendera Singapura - Portrait (Wikimedia Commons)

Ketua Parlemen Singapura Tan Chuan-Jin menanggapi bahwa ia bangga jadi orang Singapura.

Melalui Instagram, Tan Chuan-Jin menampilkan screenshot dari ucapan Mahathir Mohamad yang diberitakan oleh media massa. Awalnya, ia menyayangkan ada orang-orang Singapura yang menyanjung Malaysia berdasarkan pengalaman anekdotal mereka dan seakan menjatuhkan negara sendiri. 

"Kita tentunya tidak sempurna dan bisa menjadi lebih baik dan akan meningkatkan diri. Tetapi saya bangga menjadi orang Singapura dan tidak menghabiskan waktu saya menjatuhkan negara dan warga saya sendiri," ujar Tan Chuan-Jin.

Sementara, warga Singapura di kolom komentar mengingatkan bahwa dulu pemerintah Malaysia sendiri yang melepas Singapura. Ada juga netizen yang menyorot Malaysia menginginkan Singapura ketika negara itu sudah maju seperti sekarang.

Dulu, Perdana Menteri Pertama Malaysia Tunku Abdul Rahman mengakui sendiri bahwa melepas Singapura adalah idenya. Tunku Abdul Rahma berpendapat perbedaan pemerintahan di Singapura dan Malaysia sudah terlalu banyak, sehingga lebih baik Singapura lepas dari federasi. 

Perpisahan Malaysia dan Singapura dinilai bisa meningkatkan hubungan damai antara kedua negara. Singapura lantas merdeka pada 9 Agustus 1965 dengan Lee Kuan Yew sebagai pemimpin.

Sementara itu, pihak Kedutaan Malaysia di Indonesia mengomentari hal tersebut dengan mengembalikan kepada sosok yang karib disapa Dr. M itu.

"Everyone is entitled to his own opinion (sebagai individu, Tun Mahathir berhak untuk mengeluarkan pendapat)," ujar Adlan selaku Kuasa Usaha Sementara Kedubes Malaysia di Indonesia.

"Namun kenyataan beliau tidak mencerminkan pendirian Pemerintah Malaysia," pungkas Adlan.

Infografis Kilas Balik Sengketa Sipadan-Ligitan & Pedra Branca. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Kilas Balik Sengketa Sipadan-Ligitan & Pedra Branca. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya