Cerita Dubes Sulis Soal Hubungan Indonesia dan Korea Selatan di Bawah Presiden Yoon

Oleh Tanti Yulianingsih pada 21 Jun 2022, 15:09 WIB
Diperbarui 23 Jun 2022, 13:25 WIB
Ilustrasi hubungan Indonesia dan Korea Selatan. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)
Perbesar
Ilustrasi hubungan Indonesia dan Korea Selatan. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)

Liputan6.com, Seoul - Mei tahun ini Korea Selatan (Korsel) memiliki pemimpin baru, Yoon Suk Yeol. Ia resmi dilantik pada Selasa 10 Mei 2022 waktu setempat.

Yoon Suk Yeol adalah pendatang baru di dunia politik, setelah menghabiskan 27 tahun terakhir karirnya sebagai jaksa. Dia memulai karir politiknya setelah menjabat sebagai kepala jaksa yang memimpin investigasi tingkat tinggi atas skandal korupsi yang melanda para pembantu Presiden Moon Jae-in.

Kemenangan Yoon menempatkan pemerintah Korea kembali ke tangan konservatif, lebih dari lima tahun setelah konservatif Park Geun-hye dimakzulkan karena skandal korupsinya sendiri.

Presiden RI Kelima yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menghadiri prosesi pelantikan Presiden Korea Selatan (Korsel) yang baru, Yoon Suk Yeol di plaza depan Gedung Parlemen Korsel di Kota Seoul. Megawati yang memakai baju kebaya berwarna merah, hadir ke lokasi itu dari tempat penginapan di Lotte Hotel Seoul, dengan iring-iringan protokol tamu negara.

Duta Besar RI untuk Korea Selatan Gandi Sulistyanto juga turut menghadiri acara tersebut. Ia mengatakan telah berbicara langsung dengan Presiden Yoon tentang hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan.

Menurut penuturannya, hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan di bawah pemerintahan yang baru oleh Presiden Yoon Suk Yeol akan terus dipertahankan.

"Adanya Presidensi Indonesia di G20, saya juga ingatkan Presiden Yoon betapa ini penting, sehingga mengundang Presiden Yoon untuk hadir di Bali pada November tahun ini dan beliau mengatakan akan hadir di G20," ujar Dubes Sulis saat bercengkrama dengan jurnalis dalam program 'Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea' kerja sama Korea Foundation dan Forum Policy Community Indonesia (FPCI) akhir Mei 2022 lalu.

Dubes Sulis juga mengatakan, Menteri Luar Negeri Korea Selatan yang baru, Park Jin yang bersahabat dekat dengan Indonesia juga dikonfirmasi bakal menghadiri summit setingkat menlu di Bali bulan Juli. 

"Ini semua memberikan sinyal jelas bilateral Indonesia-Korsel akan tetap dipertahankan dengan pemerintahan yang baru," ungkap Sulis.

"Saya sudah bicara langsung dengan Presiden Yoon. Saya mengingatkan kembali bahwa pada tahun 2017 sudah ditandatangani adanya special strategic partnership," ucapnya.

"Indonesia jadi satu-satunya negara ASEAN yang punya hubungan spesial dengan Korsel, saya ingatkan pada beliau tentang hubungan spesial itu," tutur Sulis.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Peluang Indonesia di Pasar Batu Bara Korea Selatan

Duta Besar RI untuk Korea Selatan Gandi Sulistyanto. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)
Perbesar
Duta Besar RI untuk Korea Selatan Gandi Sulistyanto. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)

Isu invasi Rusia ke Ukraina juga menjadi pembahasan oleh Dubes Sulis.

Sebagaimana diketahui, invasi Rusia telah berdampak ke banyak hal, salah satunya merubah peta kebutuhan energi pengguna batu bara.

Sanksi atas aksi militer Rusia di Ukraina telah membuat Korea Selatan menghentikan impor batu bara Rusia dalam beberapa bulan terakhir. Jika sanksi diperluas, bukan tak mungkin akan terjadi perebutan sumber baru untuk impor dalam hal tersebut.

Dubes Sulis mengatakan, Indonesia berpeluang mengisi celah pasar untuk menyuplai batu bara ke Korea Selatan.

"Usaha ke sana sudah ada," ujar Dubes yang karib disapa Sulis itu dalam pertemuan dengan sejumlah jurnalis dalam 'Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea' kerja sama Korea Foundation dan Forum Policy Community Indonesia (FPCI) akhir Mei 2022 lalu.

"Pada rapat dengan menteri perdagangan Korea, Indonesia siap mensubstitusi kekurangan pasokan batu bara yang ditinggalkan oleh negara yang sedang perang," jelasnya.

Dubes Sulis menceritakan bahwa dirinya pernah mendapat laporan dari seorang trader, yang menyuplai sekitar 29 juta ton batu bara per tahun ke Korea Selatan dan seluruh dunia. Meskipun dengan harga yang sedang tinggi.

Untuk diketahui, batu bara yang dibutuhkan oleh Korea Selatan adalah yang berkalori tinggi, sedangkan batu bara Indonesia banyak yang tidak setinggi itu kalorinya (seperti yang di minta Korea Selatan). Oleh sebab kategori itu, Korea Selatan banyak menglmpor batu bara dari Australia dan Rusia.


Komitmen Meningkatkan Nilai Perdagangan

Duta Besar RI untuk Korea Selatan Gandi Sulistyanto. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)
Perbesar
Duta Besar RI untuk Korea Selatan Gandi Sulistyanto. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)

Pada kesempatan itu, Dubes Sulis juga mengutarakan komitmen untuk meningkatkan nilai perdagangan Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) hingga dua kali lipat dibanding tahun lalu. Sebelumnya pada 2021, nilai perdagangan Indonesia – Korea Selatan sebesar USD 17 miliar, dan pada tahun ini targetnya bisa naik menjadi USD 30 miliar (sekitar Rp 436 miliar).

Beberapa upaya untuk meningkatkan nilai perdagangan tersebut adalah mengambil kesempatan komoditas yang bisa disubtitusi oleh Indonesia. Mengingat sejumlah negara terdampak perang antara Rusia dan Ukraina.

"Ini kesempatan komoditasnya, bisa kita subtitusi. Misalnya batu bara khususnya, kemudian nanti ada CPO (Crude Palm Oil atau minyak kelapa sawit) yang akan kita coba langsung masuk ke Korea Selatan karena masih sedikit volume yang masuk," kata Dubes Sulis.

Selain itu, Dubes Sulis mengungkap juga bisa memanfaatkan investasi pabrik dari Korea di Tanah Air.

"Banyaknya pabrik-pabrik dari Korea yang invest ke kita, barang jadinya bisa diekspor Indonesia ke Korea. Ini semua nanti akan menjadi kumulatif perdagangan ditambah setelah nanti Indonesia-Korea (IK) CEPA diratifikasi."

Ia mengatakan bahwa perjanjian tersebut sudah ditandatangani tahun 2021 tapi masih ada di DPR. "Itu nanti kalau sudah ditandatangani DPR, barang-barang tidak ada bea masuk-keluar Indonesia," jelasnya.

Dubes Sulis berharap perjanjian tersebut akan diratifikasi DPR pada tahun 2022 ini. 


Upaya KBRI Seoul Dorong Investasi

Duta Besar RI untuk Korea Selatan Gandi Sulistyanto. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)
Perbesar
Duta Besar RI untuk Korea Selatan Gandi Sulistyanto. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)

Sementara itu untuk mendorong investasi, Dubes Sulis mengungkap langkah terkini yang dilakukan oleh KBRI Seoul adalah menggandeng Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) di Seoul. Dengan mengadakan "Road to G20:Briefing Session on Indonesia Investment Opportunity 2022" pada 31 Mei 2022.

"Fokus promosi investasi ke Indonesia di Korsel sesuai dengan tiga prioritas utama Presidensi G20 Indonesia, yaitu arsitektur kesehatan global, transformasi digital dan transisi energi," ucap Dubes Sulis.

Forum investasi tersebut disebutkan menampilkan enam proyek investasi, di antaranya:

  1. Zona Kawasan Industri Batang dan Kota Grand Batang, Jawa Tengah
  2. Peternakan Lobster Terintegrasi Menggunakan Teknologi Kolam RAS di Kabupaten Garut, Jawa Barat
  3. Manajemen limbah Manggar di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur
  4. Taman Wisata Tumpak Sewu, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur
  5. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Tolo 2, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan
  6. Proyek start up dan percepatan start up oleh Next Indonesia Unicorn/NEXTICORN

Dubes Sulis pun mengatakan tiga prioritas utama dalam Presidensi G20 Indonesia juga jadi prioritasnya sebagai dubes. "Saya akan kejar sebagai sebuah deliverable program."

INFOGRAFIS: Deretan Prestasi Mendunia Artis Korea (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
INFOGRAFIS: Deretan Prestasi Mendunia Artis Korea (Liputan6.com / Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya