Kim Jong-un Siapkan Bantuan ke 800 Keluarga di Korea Utara Penderita Gangguan Pencernaan

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 17 Jun 2022, 16:03 WIB
Diperbarui 17 Jun 2022, 16:03 WIB
Korea Utara Dilanda COVID-19, Kim Jong-un Sidak ke Apotek
Perbesar
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengenakan masker memeriksa apotek di tengah wabah Covid-19 di Pyongyang, Korea Utara pada 15 Mei 2022. Sejak negara itu pertama terkena wabah COVID-19, Apotek Korea Utara sekarang buka 24 jam sehari. (STR/KCNA VIA KNS/AFP)

Liputan6.com, Pyongyang - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan pejabat senior lainnya menyiapkan bantuan untuk dikirim ke 800 keluarga yang menderita epidemi usus, media pemerintah melaporkan pada Jumat (17/6), ketika negara itu juga memerangi wabah COVID-19 pertamanya.

Korea Utara mengungkapkan minggu ini bahwa mereka menghadapi "epidemi enterik akut" di atas wabah COVID-19 selama berminggu-minggu.

Mereke tidak menjelaskan apa penyakit itu, tetapi enterik mengacu pada saluran pencernaan, demikian dikutip dari laman Channal News Asia, Jumat (17/6/2022).

"Para pejabat menyiapkan obat-obatan, bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan untuk pengobatan epidemi dan kehidupan yang stabil untuk memberikan bantuan kepada orang-orang di Kota Haeju dan Kabupaten Kangryong (Provinsi Hwanghae Selatan)," kata Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).

Kim Jong-un meminta para pejabat "untuk memenuhi tugas mereka dalam pekerjaan meringankan masalah dan penderitaan rakyat sesegera mungkin", tambahnya.

Pada Kamis (16/6), seorang pejabat di Kementerian Unifikasi Korea Selatan yang menangani urusan antar-Korea mengatakan Seoul sedang memantau wabah tersebut, yang diduga kolera atau tipus.

Provinsi Hwanghae Selatan adalah wilayah pertanian utama Korea Utara dan wabah tersebut menimbulkan kekhawatiran dapat menambah kekurangan pangan kronis di tengah gelombang infeksi COVID-19.

Korea Utara telah melaporkan jumlah pasien dengan gejala demam, daripada kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, berpotensi karena kurangnya kemampuan pengujian.

KCNA pada Jumat (17/6) melaporkan 23.160 lebih banyak orang dengan gejala demam, sehingga jumlah total di negara itu sejak akhir April menjadi di atas 4,58 juta. Korban tewas terkait wabah ini mencapai 73 orang.

Korea Utara mengatakan, lebih dari 99 persen pasien demam telah pulih dan bahwa gelombang COVID-19 telah menunjukkan tanda-tanda mereda, tetapi Organisasi Kesehatan Dunia meragukan klaim Pyongyang awal bulan ini, dengan mengatakan pihaknya yakin situasinya semakin buruk.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Klaim Wabah COVID-19 Korea Utara Terkendali

FOTO: Ribuan Orang Hadiri Kongres ke-8 Partai Buruh Korea
Perbesar
Wanita yang mengenakan masker wajah untuk membantu mengekang penyebaran virus corona COVID-19 berparade dengan bendera saat rapat umum menyambut Kongres ke-8 Partai Buruh Korea di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, Korea Utara, Senin (12/10/2020). (AP Photo/Jon Chol Jin)

Kim Jong-un terlihat tanpa masker sebagai salah satu pengusung jenazah pada pemakaman kenegaraan untuk seorang perwira tinggi militer, media pemerintah Korea Utara melaporkan Senin 23 Mei 2022. Ini beberapa hari setelah Pyongyang mengklaim wabah COVID-19 sudah terkendali.

Kim Jong-un pada Minggu 22 Mei menghadiri pemakaman Hyon Chol Hae, seorang marshal Tentara Rakyat Korea dan dilaporkan sebagai mentor Kim, mempersiapkannya untuk kepemimpinan sebelum ayah dan pendahulunya Kim Jong-il meninggal pada tahun 2011.

Korean Central News Agency (KCNA) seperti dikutip dari AFP, Selasa (24/5/2022), merilis foto Kim tidak mengenakan masker, mengangkat peti mati Hyon bersama dengan pejabat rezim lainnya, yang bermasker.

Pemimpin Korea Utara telah menempatkan dirinya di depan dan di tengah tanggapan COVID-19 negaranya, menyalahkan pejabat negara yang malas karena memperburuk wabah dipicu varian Omicron.

Selama akhir pekan, KCNA mengatakan epidemi itu sekarang "dikendalikan secara stabil", dan melaporkan jumlah kematian "menurun tajam dari hari ke hari".


Hitungan Kasus di Korea Utara Dipertanyakan

Waspada Virus Corona COVID-19 di Korea Utara
Perbesar
Mahasiswa menjalani pemeriksaan suhu sebagai upaya mencegah penyebaran pandemi Covid-19 di Universitas Kedokteran Pyongyang di Pyongyang, Rabu (22/4/2020). Korea Utara memberlakukan pembatasan ketat guna mengantisipasi penyebaran pandemi yang telah menyebar hampir di seluruh dunia. (KIM Won Jin/AFP)

Para ahli mempertanyakan klaim dan penghitungan resmi, mengingat bahwa negara miskin itu memiliki salah satu sistem perawatan kesehatan terburuk di dunia dan tidak ada obat COVID-19 atau kemampuan pengujian massal.

Korea Utara juga belum memvaksinasi sekitar 25 juta penduduknya, setelah menolak suntikan vaksin yang ditawarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Korea Utara mengumumkan kasus Virus Corona pertamanya pada 12 Mei, meskipun blokade dua tahun dipertahankan sejak awal pandemi.

Pyongyang melaporkan 167.650 kasus "demam" pada Senin 23 Mei melalui KCNA, penurunan penting dari puncak sekitar 390.000 yang dilaporkan sekitar seminggu sebelumnya.

Korea Utara melaporkan satu kematian lagi dan mengklaim tingkat kematian untuk "demam" adalah 0,002 persen.

Laporan media pemerintah tidak merinci berapa banyak kasus dan kematian yang dites positif terkena Virus Corona COVID-19.


Belum Terima Bantuan Asing

Seorang guru mengukur suhu tubuh seorang siswi untuk membantu mengekang penyebaran virus corona sebelum memasuki Sekolah Dasar Kim Song Ju di Distrik Pusat di Pyongyang, Korea Utara, Rabu, 13 Oktober 2021. (Foto AP/Cha Song Ho, File)
Perbesar
Seorang guru mengukur suhu tubuh seorang siswi untuk membantu mengekang penyebaran virus corona sebelum memasuki Sekolah Dasar Kim Song Ju di Distrik Pusat di Pyongyang, Korea Utara, Rabu, 13 Oktober 2021. (Foto AP/Cha Song Ho, File)

Pyongyang sejauh ini belum menanggapi tawaran bantuan dari Seoul, menurut kementerian unifikasi Korea Selatan.

Selama kunjungannya ke Seoul pada akhir pekan, Presiden AS Joe Biden mengatakan Washington juga telah menawarkan vaksin COVID-19 ke Pyongyang tetapi "tidak mendapat tanggapan".

Rezim Korea Utara yang terisolasi sebelumnya telah menolak tawaran vaksin dari Covax, skema berbagi vaksin global, dan dari Korea Selatan, serta dilaporkan menolak tawaran lain.

Sebaliknya negara itu mengklaim telah berhasil mencegah Covid keluar dari negara itu dengan menyegel perbatasannya, meskipun para ahli percaya virus itu telah ada di sana selama beberapa waktu.

Media pemerintah telah merekomendasikan obat-obatan seperti teh herbal, berkumur air garam dan minum obat penghilang rasa sakit seperti ibuprofen, sementara pemimpin negara itu, Kim Jong-un, menuduh para pejabat mengacaukan distribusi cadangan obat nasional.

Infografis Nuklir Korut
Perbesar
Ambisi Korea Utara Punya Senjata Nuklir
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya