Kasus Cacar Monyet di Inggris Tembus Angka 500

Oleh Benedikta Miranti T.V pada 17 Jun 2022, 08:02 WIB
Diperbarui 17 Jun 2022, 08:02 WIB
Monkeypox atau penyakit cacar monyet.
Perbesar
Monkeypox atau penyakit cacar monyet. (www.who.int)

Liputan6.com, Jakarta - Jumlah kasus cacar monyet atao monkeypox di Inggris melebihi 500 kasus pada Rabu, menurut angka resmi terbaru.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengatakan pihaknya mendeteksi 52 kasus cacar monyet tambahan di Inggris, satu di Skotlandia dan satu di Wales, meningkatkan jumlah total kasus yang dikonfirmasi di Inggris menjadi 524 pada Selasa.

Dilansir laman Xinhua, Kamis (16/6/2022), ada 504 kasus yang dikonfirmasi di Inggris, 13 di Skotlandia, dua di Irlandia Utara dan lima di Wales, kata UKHSA.

"Siapa pun bisa terkena cacar monyet, terutama jika Anda pernah melakukan kontak dekat, termasuk kontak seksual, dengan individu yang memiliki gejala. Saat ini kebanyakan kasus terjadi pada pria gay, biseksual atau berhubungan seks dengan pria," kata UKHSA.

David Heymann, profesor epidemiologi penyakit menular di London School of Hygiene and Tropical Medicine, mengatakan: "Penting untuk tidak langsung mengambil kesimpulan atau menstigmatisasi kelompok atau individu tertentu."

"Meskipun risiko keseluruhan tampaknya kecil, semua orang harus tetap waspada karena badan kesehatan masyarakat bekerja untuk mengatasi wabah ini karena cacar monyet berpotensi mempengaruhi siapa saja yang terpapar dengan kontak dekat dengan seseorang yang terinfeksi," kata Heymann.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


WHO Ubah Nama Cacar Monyet

Orang Sakit
Perbesar
Ilustrasi orang yang merasakan gejala cacar monyet. Credits: pexels.com by Andrea Piacquadio

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan secara resmi mengganti nama penyakit cacar monyet atau "monkeypox", di tengah kekhawatiran munculnya stigma dan tindakan rasisme karena nama virus tersebut.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan pada Selasa 14 Juni 2022 pagi bahwa organisasi tersebut "sedang bekerja sama dengan mitra dan pakar dari seluruh dunia mengenai penggantian nama virus cacar monyet dan organisme penyebab virus tersebut".

Tedros mengatakan WHO akan mengumumkan nama baru dari cacar monyet secepat mungkin.

Keputusan WHO tersebut muncul kurang dari seminggu setelah 30 ilmuwan internasional menulis laporan mengenai "segera perlunya" untuk "menggunakan nama yang tidak bersifat diskriminatif dan tidak memberikan stigma berkenaan dengan virus cacar monyet."


Jenis Virus Cacar Monyet

Gejala Awal Cacar Monyet
Perbesar
Ilustrasi demam, gejala awal cacar monyet. Credits: pexels.com by Polina Tankilevitch

WHO menyebut adanya dua jenis virus yang disebut sebagai "clade" atau klad cacar monyet di situs mereka, satu dari Afrika Barat, dan lainnya dari Cekungan Kongo (Afrika Tengah).

Namun menurut para ilmuwan dari Afrika dan dari bagian dunia lain tersebut, pemberian nama penyakit menular berdasarkan di mana penyakit tersebut pertama kali terdeteksi adalah hal yang tidak akurat.

Dalam usulannya, para ilmuwan meminta adanya klasifikasi cacar monyet yang sejalan dengan penamaan penyakit menular dengan cara "yang bisa memberikan dampak negatif seminimal mungkin terhadap bangsa, kawasan geografi, ekonomi dan orang dan juga mempertimbangkan evolusi dan penyebaran virus".


Pertemuan Darurat

Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) (AP Photo)
Perbesar
Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) (AP Photo)

Hari Selasa lalu 14 Juni, Dirjen WHO Tedros mengatakan telah memutuskan untuk mengadakan pertemuan darurat tanggal 23 Juni karena virus tersebut telah menunjukkan perilaku yang "tidak biasa" belakangan ini dengan menyebar ke negara di luar kawasan Afrika di mana penyakit itu sudah menjadi endemi.

"Kami berkeyakinan bahwa ini memerlukan respons terkoordinasi karena penyebarannya yang meluas," katanya kepada wartawan.Lebih dari 1.600 kasus dan hampir 1.500 kasus suspek atau diduga sudah dilaporkan tahun ini di 39 negara. Ini termasuk di tujuh negara di mana sebelumnya virus ini tidak ada selama bertahun-tahun.

Total 72 kematian sudah dilaporkan. Namun tidak ada kematian di negara-negara yang baru tersebut termasuk Inggris, Kanada, Italia, Polandia, Spanyol dan Amerika Serikat.


Undang-Undang Inggris

Ilustrasi Bendera Inggris
Perbesar
Ilustrasi (iStock)

Sebuah undang-undang baru menyatakan cacar monyet sebagai penyakit yang dapat diberitahukan secara hukum mulai berlaku di seluruh Inggris pada Rabu (8/6).

Ini berarti, semua dokter di Inggris diharuskan untuk memberi tahu dewan lokal atau Tim Perlindungan Kesehatan setempat tentang dugaan kasus cacar monyet.

Laboratorium juga harus memberi tahu Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) jika virus diidentifikasi dalam sampel laboratorium.

"Diagnosis dan pelaporan yang cepat adalah kunci untuk menghentikan penularan dan mencegah penyebaran cacar monyet lebih lanjut. Undang-undang baru ini akan mendukung kami dan mitra kesehatan kami untuk mengidentifikasi, mengobati, dan mengendalikan penyakit dengan cepat," kata Wendi Shepherd, direktur insiden cacar monyet di UKHSA .

Francois Balloux, seorang profesor biologi sistem komputasi dan direktur Institut Genetika di University College London, mengatakan undang-undang baru berarti bahwa "semua kasus yang diduga cacar monyet harus dilaporkan."

"Ini adalah perubahan peraturan yang masuk akal karena meningkatkan pengawasan dan memfasilitasi kontak. pelacakan, meskipun itu tidak mencerminkan perubahan dalam tindakan penahanan saat ini di tempat."

Dalam buletin terbaru pada hari Rabu, UKHSA mengatakan telah mendeteksi 321 kasus cacar monyet di seluruh negeri pada hari Selasa, dengan 305 kasus yang dikonfirmasi di Inggris, 11 di Skotlandia, dua di Irlandia Utara dan tiga di Wales.

Infografis Gejala dan Pencegahan Cacar Monyet
Perbesar
Infografis Gejala dan Pencegahan Cacar Monyet (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya