Presiden Ukraina Minta Rusia Setop Jadi Negara Teroris

Oleh Tommy Kurnia pada 27 Mei 2022, 19:10 WIB
Diperbarui 27 Mei 2022, 19:10 WIB
Presiden Ukraina Vladimir Zelensky di acara FPCI membahas invasi Rusia.
Perbesar
Presiden Ukraina Vladimir Zelensky di acara FPCI membahas invasi Rusia. Dok: FPCI

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membahas potensi perdamaian di tengah invasi Rusia bersama Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). Dalam perbicangangan tersebut Presiden Zelensky mengaku sulit melakukan negosiasi karena Rusia masih terus bertindak agresif. 

Tindakan Rusia dianggap mirip teroris karena terus menyerang-terusan, kemudian memberikan tuntutan.

"Mereka menembak kita. 'Kami (Rusia) tak bisa membiarkanmu ke NATO' dan mereka menembak kita. Mereka merebut wilayah kita, dan mereka berkata, 'ini persyaratan dari kami'. Inilah bagaimana teroris selalu bertingkah," ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Jumat (27/5/2022).

"Jika Rusia berhenti menjadi negara teroris, saat mereka mengakui kesalahan berdarah yang mereka lakukan, maka mereka bisa melihat meja negosiasi," tegas Presiden Zelensky. 

Masalah NATO dan Narasi Rusia 

Percakapan FPCI dengan Presiden Zelensky dipandu oleh mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal. Ia merupakan founder FPCI. Dino lantas bertanya reaksi Presiden Zelensky terkait simpatisan Rusia. 

Dino Patti Djalal bercerita bahwa ada yang menilai Ukraina pantas diserang Rusia karena dekat dengan NATO. Menjawab hal itu, Presiden Ukraina menegaskan bahwa Ukraina punya hak untuk memilih sebagai negara berdaulat. Narasi gabung ke NATO dinilai sebagai perang informasi dari Rusia. 

"Kita tidak berada di blok manapun. Ini (narasi masuk NATO) adalah bagian dari  perang informasi yang dikerahkan Federasi Rusia. Kami tidak pernah menjadi bagian aliansi mana pun," ucap Zelensky. 

Presiden Zelensky pun menyorot Rusia yang tidak bergeming ketika Finlandia dan Swedia memilih masuk NATO. Swedia dan Finlandia juga berbatasan dengan Rusia. Presiden Ukraina lantas menilai permasalahan ada di Rusia yang ingin mengatur Ukraina.

"Rusia tidak mau Ukraina hidup dengan bebas, karena ia tidak percaya Ukraina sebagai negara independen," ujar Presiden Zelensky. "Adalah urusan rakyat Ukraina yang secara independen memilih jalur politik mereka."

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Bencana Kemanusiaan

Rudal Rusia Hantam Depot Minyak Ukraina
Perbesar
Asap mengepul setelah serangan rudal Rusia menghantam depot minyak di kota Vasylkiv di luar Kiev, Ukraina (27/2/2022). Menteri luar negeri Ukraina mengatakan pada 27 Februari, bahwa Kyiv tidak akan menyerah pada pembicaraan dengan Rusia mengenai invasinya. (AFP/Dimitar Dilkof)

Dino Patti Djalal turut menyayangkan pandangan sejumlah elemen masyarakat yang salah persepsi terhadap invasi Rusia ke Ukraina. Dino menilai ada yang menilai perang ini adalah masalah NATO melawan Rusia, padahal tidak demikian.

"Banyak orang Indonesia yang melihat perang ini sebagai kontes geopolitik antara AS dan NATO melawan Rusia, (dan) benar-benar mengabaikan fakta bahwa ini adalah bencana kemanusiaan yang terjadi di negara tersebut," ujar Dino. 

Ia pun menegaskan bahwa tidak mungkin jika Indonesia membela Rusia yang mengerahkan pasukan militer ke negara orang dan memicu bencana kemanusiaan. Jutaan orang Ukraina juga mengungsi akibat serangan Rusia.

Dino menegaskan bahwa perang di Ukraina bukan seperti pertandingan sepak bolah yang harus disorak-soraki, melainkan sebuah peristiwa yang dampaknya bisa mendunia. 

Lebih lanjut, tindakan Rusia yang melanggar kedaulatan wilayah Ukraina juga telah melanggar hukum internasional dan Piagam PBB.

Sebelumnya, Rusia sempat membantah akan menginvasi Ukraina. Pihak Rusia berkata narasi invasi hanyalah "histeria" semata. Namun, ternyata pemerintah Rusia melakukan penyerangan.


Perusahaan Multinasional Berbondong-bondong Tinggalkan Rusia

McDonald's Bakal Keluar Moskow Usai 32 Tahun Operasional
Perbesar
Menara Kremlin tercermin di jendela restoran McDonald's yang tutup di Moskow, Rusia pada 16 Mei 2022. Dalam sebuah pernyataan McDonald's mengatakan: "Setelah lebih dari 30 tahun beroperasi di negara itu, McDonald's Corporation mengumumkan akan keluar dari pasar Rusia dan telah memulai proses untuk menjual bisnis Rusia-nya." (Natalia KOLESNIKOVA / AFP)

Sebelumnya dilaporkan, ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer di Ukraina tiga bulan lalu, konflik tampak terasa jauh dari wilayah Rusia.

Namun dalam beberapa hari, datang rangkaian sanksi dari pemerintah Barat terhadap Rusia yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Beberapa perusahaan juga menerapkan hukuman ekonomi terhadap negara tersebut. Banyak rakyat Rusia yang terguncang akibat sejumlah pukulan finansial dan isolasi yang kini berlaku.

Pusat perbelanjaan yang luas di Moskow berubah menjadi hamparan menakutkan dari etalase pengecer Barat yang kini tutup, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Rabu (25/5).

Raksasa makanan cepat saji Amerika McDonald's keluar dari Rusia sepenuhnya sebagai tanggapan atas operasi militer tersebut.

Produsen mobil besar Renault juga pergi, walaupun memiliki jumlah investasi besar di negara Beruang Merah tersebut.

Sementara perusahaan multinasional pergi, ribuan orang Rusia juga melarikan diri, khawatir akan tindakan pemerintah mereka.

Chris Weafer, analis kawakan ekonomi Rusia di Macro-Advisory, kepada kantor berita Associated Press mengatakan "Terdapat ketakutan nyata bahwa pengangguran akan meningkat dalam bulan-bulan mendatang pada musim panas, bahwa akan ada penurunan besar dalam konsumsi dan penjualan ritel dan investasi."

Jika aksi militer berlarut, lebih banyak perusahaan akan keluar dari Rusia, kata Weafer. Ia memperkirakan perusahaan yang tersisa yang hanya menangguhkan operasi mungkin melanjutkan operasi jika gencatan senjata dan kesepakatan damai untuk Ukraina tercapai. Tetapi jendela untuk kemungkinan tersebut kini tampaknya tertutup, imbuhnya. 


Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky Muncul di World Economic Forum

Presiden Ukraina Vladimir Zelensky di acara World Economic Forum (WEF).
Perbesar
Presiden Ukraina Vladimir Zelensky di acara World Economic Forum (WEF) ke-51. Ia hadir secara virtual tak lama setelah hadir di Festival Film Cannes. Dok: Laurent Gillieron /Keystone via AP

Presiden Zelensky juga baru-baru ini muncul di World Economic Forum (WEF) sebelum berbicang di FPCI. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tampil dalam video di acara tahunan World Economic Forum (WEF) di Davod-Klosters. Zelensky berbagi cerita tentang angka kematian akibat invasi yang dilakukan Rusia, serta meminta adanya sanksi maksimum ke negara tersebut.

Ketika berbicara di WEF, Presiden Zelesky mengungkap berapa orang yang tewas hari itu.

"Kami kehilangan 87 orang dan masa depan Ukraina akan tanpa 87 orang tersebut," ujar Presiden Zelensky seperti dilansir situs WEF, Selasa (24/5).

Presiden Zelensky berkata dunia harus bertindak untuk memutuskan apakah membiarkan kekuatan brutal mengatur dunia.

"Ini adalah momen ketika diputuskan apakah kekuatan brutal akan mengatur dunia," ujar Presiden Volodymyr Zelensky. "Kekuatan brutal tidak berdikusi, ia membunuh, seperti yang Rusia lakukan di Ukraina saat kita bicara hari ini."

"Ketimbang ada kota-kota damai yang sukses, hanya ada reruntuhan-reruntuhan hitam. Ketimbang ada perdagangan normal, ada lautan yang penuh ranjau dan pelabuhan yang diblokir. Ketimbang ada pariwisata, ada langit-langit yang tertutup dan ribuan bom Rusia dan cruise missile," ucap Presiden Zelensky.

Infografis Rusia Vs Ukraina, Ini Perbandingan Kekuatan Militer. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Rusia Vs Ukraina, Ini Perbandingan Kekuatan Militer. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya