Iran Masih Tunggu Tanggapan Amerika Serikat Soal Kesepakatan Nuklir

Oleh Liputan6.com pada 18 Mei 2022, 11:02 WIB
Diperbarui 18 Mei 2022, 11:02 WIB
Ilustrasi nuklir Iran
Perbesar
Ilustrasi nuklir Iran (AFP)

Liputan6.com, Teheran - Iran mengatakan, Senin (16/5), pihaknya menunggu tanggapan AS atas "solusi" yang didiskusikan dengan utusan Uni Eropa untuk memecahkan kebuntuan dalam pembicaraan yang bertujuan memulihkan kesepakatan nuklir 2015.

Koordinator Uni Eropa untuk pembicaraan nuklir dengan Iran, Enrique Mora, mengadakan dua hari diskusi dengan kepala perunding nuklir Iran Ali Bagheri di Teheran pekan lalu.

Negosiasi untuk membawa AS kembali ke kesepakatan iu, dan Iran untuk sepenuhnya mematuhinya tersebut, telah terhenti selama sekitar dua bulan, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Rabu (18/5/2022).

"Negosiasi serius dan berorientasi hasil dengan inisiatif khusus dari Iran telah diadakan," kata juru bicara kementerian luar negeri Iran Saeed Khatibzadeh kepada wartawan.

"Jika AS memberi tanggapannya terhadap beberapa solusi yang diusulkan, kita dapat berada dalam posisi bahwa semua pihak kembali ke Wina," di mana pembicaraan diadakan, tambahnya dalam konferensi pers mingguannya itu.

Iran terlibat dalam negosiasi langsung dengan Prancis, Jerman, Inggris, Rusia dan Tiongkok untuk menghidupkan kembali kesepakatan, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Amerika Serikat berpartisipasi secara tidak langsung.

Perjanjian 2015 memberi keringanan sanksi Iran dengan imbalan pembatasan program nuklirnya untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir --- sesuatu yang selalu disangkal Iran.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


AS Keluar dari Kesepakatan di Masa Kepemimpinan Donald Trump

Bendera Iran di luar gedung yang menampung reaktor fasilitas nuklir Bushehr di kota pelabuhan selatan Iran Bushehr pada tahun 2007 AFP / BEHROUZ MEHRI
Perbesar
Bendera Iran di luar gedung yang menampung reaktor fasilitas nuklir Bushehr di kota pelabuhan selatan Iran Bushehr pada tahun 2007 AFP / BEHROUZ MEHRI

Tetapi penarikan sepihak AS dari perjanjian itu pada 2018 di bawah presiden saat itu Donald Trump dan penerapan kembali sanksi-sanksi ekonomi yang menggigit, mendorong Iran untuk mulai membatalkan komitmennya sendiri.

"Jika AS mengumumkan keputusan politiknya hari ini, yang belum kami terima, kami dapat mengatakan bahwa langkah penting telah diambil dalam kemajuan negosiasi," kata Khatibzadeh.

Di antara poin yang mencuat adalah permintaan agar Iran menghapus Garda Revolusi, tangan ideologis militer Iran, dari daftar terorisme AS.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell pada hari Jumat mengatakan misi Mora ke Teheran berjalan "lebih baik dari yang diperkirakan" dan negosiasi yang macet "telah dibuka kembali."

Namun, Washington, mengungkapkan nada yang kurang optimistis. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan pada Jumat bahwa "pada saat ini, kesepakatan masih jauh dari pasti."


Menlu Iran: Kesepakatan Nuklir Akan Tercapai Jika AS Realistis

Presiden Iran Hassan Rouhani sedang meninjau program pengembangan nuklir negaranya (AFP Photo)
Perbesar
Presiden Iran Hassan Rouhani sedang meninjau program pengembangan nuklir negaranya (AFP Photo)

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian pada hari Senin mendesak Amerika Serikat untuk menjadi "realistis" untuk membantu mencapai kesepakatan dalam pembicaraan Wina yang bertujuan menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA).

Diplomat Iran mengatakan dalam sebuah tweet bahwa "tuntutan berlebihan" dari Amerika Serikat dapat menyebabkan jeda dalam negosiasi Wina karena Iran "tidak akan pernah menyerah" pada tuntutan tersebut.

Amir-Abdollahian juga menunjukkan bahwa "kesepakatan dapat dicapai jika Amerika Serikat realistis."

Sebelumnya pada hari itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan bahwa Amerika Serikat harus bertanggung jawab atas penundaan pembicaraan di Wina.

Iran menandatangani JCPOA dengan kekuatan dunia pada Juli 2015. Namun, mantan Presiden AS Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian pada Mei 2018 dan menerapkan kembali sanksi sepihak terhadap Teheran, mendorong republik Islam itu untuk mengurangi beberapa komitmen nuklirnya di bawah kesepakatan sebagai pembalasan.


AS Yakin Kesepakatan Nuklir dengan Iran Akan Tercapai

Iran mengonfirmasi pada Januari bahwa mereka sedang memperkaya uranium hingga melampaui ambang batas yang ditetapkan oleh kesepakatan nuklir 2015 di pabrik Fordow-nya. (Foto: AFP)
Perbesar
Iran mengonfirmasi pada Januari bahwa mereka sedang memperkaya uranium hingga melampaui ambang batas yang ditetapkan oleh kesepakatan nuklir 2015 di pabrik Fordow-nya. (Foto: AFP)

Washington mengatakan, pada Rabu (16/3), bahwa pihaknya “sudah hampir mencapai” kesepakatan dengan Iran untuk menghidupkan kembali perjanjian tahun 2015 yang memungkinkan negara-negara Barat melonggarkan sanksi terhadap Iran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklir Teheran.

Hal itu merupakan tanda kemajuan terbaru menyusul kebuntuan yang berkepanjangan yang selama ini terjadi.

Berhari-hari setelah Rusia memyampaikan tuntutan yang tampaknya akan membahayakan pembicaraan di Wina mengenai pemulihan perjanjian tersebut, Sinyal positif terlihat pada minggu ini yang menandakan bahwa kesepakatan nuklir akhirnya dapat tercapai.

Kesepakatan tersebut termasuk pembebasan dua warga negara Inggris keturunan Iran pada Rabu (16/3) setelah sebelumnya ditahan selama bertahun-tahun di Iran, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Jumat (18/3/2022).

Selain itu, beberapa masalah yang masih harus diselesaikan sebagai bagian dari menghidupkan kembali perjanjian tahun 2015 itu, kini telah menyempit menjadi hanya dua.

Infografis Dampak Global Konflik AS Vs Iran
Perbesar
Infografis Dampak Global Konflik AS Vs Iran. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya