Demi Lawan ISIS, Maroko Gelar Pertemuan dengan Negara Koalisi

Oleh Liputan6.com pada 12 Mei 2022, 11:35 WIB
Diperbarui 12 Mei 2022, 11:35 WIB
Ilustrasi ISIS
Perbesar
Ilustrasi ISIS (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Marrakech - Sebuah pertemuan untuk memberantas ISIS digelar di Maroko. Negara tersebut menjadi tuan rumah pPara anggota koalisi dunia untuk membahas kampanye melawan kelompok militan itu pada Rabu 11 Mei 2022.

Mengutip VOA Indonesia, Kamis (12/5/2022), pertemuan itu sebagai pengingat atas ancaman yang terus-menerus dari kelompok ekstremis ISIS, meskipun perhatian yang luar biasa sedang tertuju pada perang Rusia di Ukraina.

Wakil Menteri Urusan Politik AS, Victoria Nuland menjadi ketua bersama Menteri Luar Negeri Maroko, Nasser Bourita dalam pertemuan para pejabat senior blok yang beranggotakan 83 negara itu. Blok itu telah aktif mengangani hal itu selama delapan tahun.

"Anggota koalisi ini harus melakukan lebih banyak pekerjaan. Kami perlu mempertahankan fokus kami pada upaya kestabilian di Irak dan Suriah untuk mengatasi hal mendasar yang memungkinkan ISIS merekrut dan mengeksploitasi," kata Nuland.

"Tahun ini, kami berupaya mengumpulkan $700 juta untuk kegiatan stabilisasi penting di komunitas yang dibebaskan dari kendali ISIS di Irak dan Suriah. Dana itu masing-masing $350 juta untuk Irak dan Suriah," imbuh Nuland.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita mengatakan, "Dari hasil penjajakan bersama kami tentang timbulnya ancaman teroris yang berbahaya di Afrika, memicu adanya pendekatan penting yang didukung koalisi itu ke benua Afrika. Pendekatan itu mencakup Africa Focus Group, yang dipimpin bersama oleh Amerika, Italia, Niger, dan Maroko. Utusan negara-negara itu bertemu di Marrakech kemarin."

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Puncak Kekuasaan ISIS

Ilustrasi militan ISIS (AFP)
Perbesar
Ilustrasi militan ISIS (AFP)

Pada puncak kekuasaannya kelompok ekstremis ISIS menguasai lebih dari 40.000 mil persegi atau 103.600 kilometer persegi yang membentang dari Suriah ke Irak, serta memerintah lebih dari 8 juta orang.

AS dan anggota koalisi lainnya memperingatkan bahwa benua Afrika kini menjadi sasaran utama kelompok ISIS.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) mengumumkan kemenangannya atas kelompok (ISIS) di Suriah 2019 lalu. Hal itu disampaikan oleh juru bicara SDF Mustafa Bali lewat pernyataan tertulisnya di akun Twitter.

"Pasukan Demokrat Suriah mengumumkan penghapusan total apa yang disebut kekhalifahan dan 100 % kekalahan teritorial ISIS #SDFDefalahanISIS," tulis Mustafa.

Dikutip dari laman BBC, Sabtu (23/3/2019),meskipun kehilangan wilayah, kelompok ini masih dipandang sebagai ancaman keamanan utama yang mampu meningkatkan serangan di wilayah tersebut dan di seluruh dunia.

Aliansi SDF yang dipimpin Kurdi memulai serangan terakhirnya pada awal Maret, dengan gerilyawan yang tersisa bersembunyi di Desa Baghuz di Suriah timur.

Aliansi itu terpaksa memperlambat ofensifnya setelah diketahui bahwa sejumlah besar warga sipil ada di sana untuk berlindung di gedung, tenda dan terowongan.


Kekhawatiran Amerika Serikat

Ilustrasi Anggota ISIS (AFP Photo)
Perbesar
Ilustrasi Anggota ISIS (AFP Photo)

Terlepas dari jatuhnya ISIS, Amerika Serikat masih menyimpan kekhawatiran. Pejabat AS meyakini bahwa ISIS memiliki 15.000 hingga 20.000 pengikut bersenjata yang aktif di wilayah tersebut.

Banyak dari mereka yang hidup membaur bersama masyarakat. Sejumlah orang itu dikhawatirkan akan kembali tumbuh dan melakukan tindakan ekstremisme lainnya.

Bahkan, sebelum kekalahannya di Baghuz sudah dekat, ISIS melalui Abu Hassan al-Muhajir merilis rekaman audio yang berisikan pernyataan bahwa kekhalifahan mereka belum selesai. 


ISIS Bakal Manfaatkan Perang Rusia Ukraina untuk Balas Kematian Pemimpinnya

(ilustrasi) Tentara Afghanistan saat melaksanakan operasi militer melawan ISIS di Provinsi Nangarhar, Afghanistan pada 2016 (sumber: Sputnik News Agency)
Perbesar
(ilustrasi) Tentara Afghanistan saat melaksanakan operasi militer melawan ISIS di Provinsi Nangarhar, Afghanistan pada 2016 (sumber: Sputnik News Agency)

Pemimpin kelompok ISIS dilaporkan tewas pada awal Februari 2022 saat ia meledakkan bom untuk menghindari penangkapan, ketika AS melakukan penyerbuan di wilayah Suriah barat laut, kata Gedung Putih dan para pejabat pertahanan AS.

Pada 10 Maret, kelompok itu mengonfirmasi kematiannya dan bekas juru bicara kelompok itu. ISIS kemudian mengangkat Abu Hasan Al-Hashemi Al-Qurashi sebagai pemimpin yang baru.

Mengutip VOA Indonesia, Senin (18/4/2022), ISIS kemudian pada Minggu 17 April berjanji akan melakukan "pembalasan" atas pembunuhan bekas pemimpinnya. Kelompok militan itu menyerukan para pendukungnya untuk memanfaatkan perang Rusia Ukraina guna merencanakan serangan di Eropa.

"Kami mengumumkan, kampanye pembalasan yang diberkati atas kematian Abu Ibrahim al-Qurashi dan bekas juru bicara kelompok itu," demikian menurut sebuah pesan audio dari kelompok tersebut yang disebarkan lewat aplikasi pesan Telegram.

Juru bicara baru kelompok ISIS, Abu-Omar Al-Muhajir, juga menyerukan para pendukungnya untuk memulai lagi serangan di Eropa, dengan memanfaatkan "peluang yang tersedia" di mana "orang-orang bertikai satu sama lain" -- merujuk pada invasi Rusia ke Ukraina.

Sejauh ini tak banyak yang diketahui mengenai pemimpin baru itu, yang merupakan pemimpin ketiga ISIS sejak kelompok itu dibentuk.

Infografis ISIS Kalah
Perbesar
Infografis ISIS Kalah (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya