Jurnalis Al Jazeera Dilaporkan Tewas Ditembak Pasukan Israel di Tepi Barat

Oleh Liputan6.com pada 11 Mei 2022, 13:31 WIB
Diperbarui 11 Mei 2022, 13:59 WIB
Para jurnalis dan petugas medis tampak membawa jenazah Shiren Abu Akleh, jurnalis Al Jazeera yang tewas tertambak oleh pasukan Israel, ke dalam kamar mayat di salah satu rumah sakit di Jenin, Tepi Barat, pada 11 Maret 2022. (Foto: AP/Majdi Mohammed)
Perbesar
Para jurnalis dan petugas medis tampak membawa jenazah Shiren Abu Akleh, jurnalis Al Jazeera yang tewas tertambak oleh pasukan Israel, ke dalam kamar mayat di salah satu rumah sakit di Jenin, Tepi Barat, pada 11 Maret 2022. (Foto: AP/Majdi Mohammed)

Liputan6.com, Tepi Barat - Seorang jurnalis media asing Al Jazeera dilaporkan tewas tertembak ketika meliput serangan Israel di Kota Jenin, di wilayah Tepi Barat yang diduduki, pada Rabu (11/5/2022). Demikian menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Mengutip laporan VOA Indonesia, pihak kementerian mengatakan Shiren Abu Akleh, jurnalis perempuan ternama yang bekerja untuk saluran televisi Al Jazeera, tewas seketika setelah ditembak. Seorang jurnalis Palestina lainnya yang bekerja untuk harian Al-Quds yang berbasis di Yerusalem juga terluka ketika meliput serangan tersebut.

Jurnalis Al-Quds itu kini dalam kondisi yang stabil setelah mendapatkan perawatan.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan kedua jurnalis tersebut terkena tembakan pasukan Israel. Dalam rekaman video insiden, terlihat jelas bahwa Abu Akleh mengenakan jaket berwarna biru yang bertuliskan kata "PERS."

Pihak militer Israel mengatakan pasukannya diserang dengan sejumlah tembakan dan ledakan ketika melancarkan operasi di Jenin. Mereka mengatakan "tengah menginvestigasi insiden (yang telah menewaskan Abu Akleh) dan mencari kemungkinan bahwa sang jurnalis tewas tertembak oleh peluru yang berasal dari pasukan Palestina."

Israel telah melancarkan serangan hampir setiap hari di wilayah Tepi Barat dalam beberapa minggu terakhir.

Serangan tersebut dilakukan di tengah sejumlah teror mematikan yang terjadi di Israel, di mana banyak dari pelaku teror tersebut adalah warga Palestina yang berasal dari sekitar Jenin. Kota itu, terutama kamp pengungsi di dalamnya, telah dikenal sebagai pusat pertahanan kelompok militan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Kritis Terhadap Jurnalis Al Jazeera

Ilustrasi jurnalis, wartawan, pers, media. (Freepik/Macrovector)
Perbesar
Ilustrasi jurnalis, wartawan, pers. (Freepik/Macrovector)

Israel sebelumnya telah dikenal kritis terhadap liputan-liputan yang dilakukan oleh Al Jazeera. Namun, pihak berwenang tetap membolehkan jurnalis Al Jazeera untuk tetap meliput.

Jurnalis Al Jazeera lainnya, Givara Budeiri, sempat ditahan ketika meliput sebuah protes di Yerusalem pada tahun lalu. Budeiri mengalami patah tangan yang menurut Al Jazeera disebabkan oleh perlakuan polisi Israel.

Jurnalis Palestina Tewas Ditembak Tentara Israel

2018 lalu, Ahmad Abu Hussein, seorang wartawan Palestina yang ditembak pasukan Israel saat meliput demonstrasi massal di sepanjang perbatasan Gaza meninggal dunia.

Pria berusia 24 tahun itu adalah fotografer yang bekerja untuk Voice of the People. Ia ditembak di bagian perut ketika bertugas meliput aksi protes di dekat Jebaliya pada 13 April 2018.

Hussein merupakan wartawan Palestina kedua yang tewas dibunuh tentara Israel sejak gelombang demonstrasi yang dikenal dengan sebutan the "Great March of Return" dimulai pada 30 Maret 2018.

Seperti dikutip dari Al Jazeera 26 April 2018, pihak Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan bahwa Hussein meninggal dunia pada hari Rabu di rumah sakit Tel Hashomer, di dekat Tel Aviv.

"Pada hari yang sama, jenazahnya dibawa ke rumah sakit Al-Andalusi di Jalur Gaza," ujar Ashraf al-Qudra, seorang juru bicara Kementerian Kesehatan Jalur Gaza.  

Pada awalnya, Hussein dirawat di Jalur Gaza sebelum akhirnya dipindah ke sebuah rumah sakit di Ramallah pada 15 April dan ke Tel Hashomer empat hari kemudian.

Menurut saksi di lokasi penembakan Hussein, korban menggunakan rompi pelindung bertuliskan "PRESS" saat kejadian.

"Alat pelindung yang jelas menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah anggota pers, menjadikannya harus mendapat perlindungan ekstra -- bukan sebagai target," terang Sherif Mansour, koordinator program Timur Tengah dan Afrika Utara di Committe to Protect Journalist.

"Kematian Ahmed Abu Hussein menggarisbawahi perlunya otoritas Israel meneliti kebijakannya terhadap wartawan yang meliput protes dan sesegera mungkin mengambil tindakan yang efektif," imbuhnya.

Sebelum Hussein, seorang fotografer Palestina lainnya, Yaser Murtaja (30), juga tewas setelah ditembak oleh pasukan Israel pada 6 April 2018. Murtaja bekerja untuk Ain Media agency.

Murtaja dihantam timah panas di bagian perut ketika sedang meliput aksi protes di Khuza'a. Sama seperti Hussein, pada saat kejadian, ia juga menggunakan rompi pelindung bertuliskan "PRESS".

 


Wartawan Indonesia Juga Pernah Tertembak

Veby Mega Indah
Perbesar
Jurnalis Indonesia yang tertembak di Hong Kong, Veby Mega Indah saat wawancara dengan The Associated Press di distrik Wan Chai pada 4 Desember 2019. Veby (39), mendesak kepolisian setempat membuka identitas anggota polisi yang menembaknya agar ia bisa menggugat secara pribadi. (AP/Vincent Thian)

Wartawan Indonesia Veby Mega Indah (39), yang bekerja sebagai editor di Suara Hong Kong News,juga pernah tertembak. Ia terkena proyektil yang ditembakkan oleh polisi Hong Kong saat meliput protes anti-pemerintah.

Ia kehilangan penglihatan di mata kanannya. 

Pada saat penembakan itu, Veby sedang melakukan siaran langsung tentang demo Hong Kong di jalan bersama wartawan lainnya dari sudut pandang jembatan.

Dia yakin bahwa matanya terkena peluru karet. Apa pun proyektil itu, sudah pasti penyebab dari hilangnya penglihatan permanen di mata kanannya.

Kehilangan penglihatan di mata sebelah kanannya disebabkan karena kekuatan benturan pada pupil matanya, sehingga dokter tidak bisa menyelamatkan penglihatannya. Hal itu tentu saja membuat dirinya merasa traumatis. Demikian mengutip dari channelnewsasia.com, Selasa 10 Desember 2019.

Dalam wawancara terbaru Veby dengan Post, dia mengatakan dirinya masih menyesuaikan diri dengan keadaan barunya karena mata kirinya yang normal mudah lelah.

"Saya merasa tidak tahan lagi. Saya pikir ini akan menjadi akhir saya," jelasnya kepada Reuters.

Veby teringat bagaimana suasana ketika mendengar sesama jurnalis di belakangnya berteriak, "Kami adalah jurnalis, berhentilah menembaki kami!"

Hong Kong melakukan aksi protes lebih dari enam bulan. Aktivis menyerukan demokrasi dan penyelidikan independen terhadap tindakan polisi, di antara tuntutan lainnya.

Veby dan perwakilan hukumnya mengatakan bahwa mereka telah mengajukan permintaan hukum yang meminta polisi untuk menyebutkan petugas yang terlibat dalam insiden tersebut. Sehingga mereka dapat melanjutkan kasus perdata, tetapi sejauh ini mereka tidak memiliki tanggapan yang berarti.

Terkait rencana gugatan, Veby telah menunjuk pengacara untuk menjadi kuasa hukumnya dalam mengajukan gugatan di pengadilan. Dengan demikian, pengacara tersebut akan mewakili Veby di persidangan nanti.

Mengetahui hal tersebut. pihak KJRI Hong Kong menyatakan siap untuk membantu Veby.

"KJRI siap mendampingi Veby selama proses persidangan apabila diminta. Bahkan siap menyediakan penerjemah dan memastikan hak-hak hukumnya terjamin," ujar Pensosbud KJRI Hong Kong, Vania Alexandra dalam keterangan tertulisnya kepada Liputan6.com.

Vania juga menambahkan bahwa sejak awal Veby dirawat di RS hingga melakukan rawat jalan, KJRI Hong Kong telah mengunjunginya secara berkala.

"Selain itu KJRI juga menghubungi pihak keluarga, memfasilitasi kedatangan pihak keluarga ke Hong Kong, dan memastikan Veby mendapat perawatan yang terbaik dari para dokter di rumah sakit," imbuh Vania.


Pasukan Rusia di Irpin Ukraina Tembak Mati Jurnalis AS dari New York Times

Ilustrasi perang Rusia Ukraina. (Unsplash/Ahmed Zalabany @zalab8)
Perbesar
Ilustrasi perang Rusia Ukraina. (Unsplash/Ahmed Zalabany @zalab8)

Jurnalis Amerika pemenang penghargaan Brent Renaud dibunuh oleh pasukan Rusia di Kota Irpin, Ukraina, kata polisi di Kiev dalam postingan media sosial pada Minggu 13 Maret 2022. Jurnalis Amerika lainnya, Juan Arredondo, dilaporkan terluka.

Dalam sebuah twit, seperti dikutip dari CNN, Senin (14/3/2022), polisi wilayah Kiev mengidentifikasi orang yang tewas itu sebagai Renaud, yang berusia 50 tahun. Polisi memposting foto jasadnya dan paspor Amerikanya sebagai bukti, serta foto lencana pers New York Times yang sudah ketinggalan zaman dengan nama Renaud.

Andriy Nebitov, kepala polisi wilayah Kiev, mengatakan dalam sebuah posting Facebook bahwa pasukan Rusia menembak Renaud, menambahkan bahwa "penduduk dengan sinis membunuh bahkan jurnalis media internasional, yang telah mencoba untuk mengatakan kebenaran tentang kekejaman militer Rusia di Ukraina."

"Tentu saja, jurnalisme membawa risiko, tetapi warga negara AS Brent Renaud membayar dengan nyawanya untuk upaya menjelaskan betapa licik, kejam, dan tanpa ampun si agresor," tambah Nebitov.

Renaud adalah jurnalis asing pertama yang diketahui tewas dalam perang di Ukraina. Seorang operator kamera Ukraina, Yevhenii Sakun, dilaporkan tewas ketika menara TV Kiev ditembaki awal bulan ini.

Kelompok kebebasan pers mengecam kekerasan hari Minggu sebagai pelanggaran hukum internasional.

"Pasukan Rusia di Ukraina harus menghentikan semua kekerasan terhadap jurnalis dan warga sipil lainnya sekaligus, dan siapa pun yang membunuh Renaud harus dimintai pertanggungjawaban," kata Komite Perlindungan Jurnalis dalam sebuah pernyataan.

Majalah Time mengatakan kepada CNN bahwa Renaud, seorang pembuat film terkenal, berada di Ukraina dalam beberapa pekan terakhir untuk mengerjakan "proyek Time Studios yang berfokus pada krisis pengungsi global."Hati kami bersama semua orang yang dicintai Brent," kata publikasi itu.

"Sangat penting bahwa jurnalis dapat dengan aman meliput invasi yang sedang berlangsung dan krisis kemanusiaan di Ukraina ini," sambung publikasi Time.

Jurnalis AS Lain Terluka

Sementara itu, Arredondo, seorang fotografer Kolombia-Amerika, muncul dalam video media sosial dari rumah sakit Okhmatdyt di Kiev dan menceritakan penembakan Brent Renaud. Dia mengatakan dirinya dan Renaud sedang mengemudi melalui pos pemeriksaan di Irpin dalam perjalanan untuk memfilmkan pengungsi yang meninggalkan kota ketika pasukan Rusia melepaskan tembakan.

Arredondo mengatakan ada "dua dari kita," dan Renaud "ditembak dan ditinggalkan," menambahkan bahwa Renaud ditembak di leher. "Kami terpisah dan saya ditarik ke (tandu)." Ditanya bagaimana dia sampai di rumah sakit, dia menjawab, "ambulans, saya tidak tahu."

Arredondo, seorang pembuat film dan jurnalis visual yang juga seorang profesor di Columbia Journalism School, memposting foto dari Zhytomyr, Ukraina, pada hari Sabtu, menuliskan sebuah posting Instagram dengan tagar "#onassignment."

Dekan Columbia Journalism School, Steve Coll, mengatakan kepada CNN: "Kami tidak memiliki informasi independen tentang luka-lukanya saat ini tetapi tengah mempelajari lebih lanjut dan untuk melihat apakah kami dapat membantu."

Arredondo adalah fotografer terkemuka, dengan karya yang ditampilkan di The New York Times, National Geographic, The Wall Street Journal, Newsweek, ESPN, Vanity Fair, dan outlet media lainnya, menurut bio situs web pribadinya.

Anton Gerashchenko, seorang penasihat menteri dalam negeri Ukraina, mengatakan dalam sebuah pernyataan di Telegram bahwa Renaud "membayar dengan nyawanya karena berusaha mengungkap kejahatan, kekejaman, dan kekejaman agresor."

Irpin, di utara Ukraina di luar Kiev, telah menjadi lokasi penembakan Rusia yang substansial dalam beberapa hari terakhir dan telah mengalami kehancuran yang luas, menurut pemerintah daerah Kiev pada hari Jumat.

Infografis 4 Cara Tampil Menawan Saat Foto Pakai Masker Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 4 Cara Tampil Menawan Saat Foto Pakai Masker Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya