Earth Day 2022: Kunto Aji Bahas Perubahan Iklim di Acara Uni Eropa

Oleh Tommy Kurnia pada 22 Apr 2022, 18:00 WIB
Diperbarui 22 Apr 2022, 18:00 WIB
Kunto Aji
Perbesar
Kunto Aji merayakan Hari Bumi 2022 dengan para Dubes Eropa. (Daniel Kampua/Fimela.com)

Liputan6.com, Jakarta - Penyanyi Kunto Aji merayakan Hari Bumi (Earth Day) 2022 dalam acara Kedutaan Besar Uni Eropa bertajuk "Membumi: Berkisah dan Beraksi untuk Bumi." Acara Earth Day ini melibatkan para duta besar negara-negara Eropa dan aktivis muda lingkungan untuk bercerita aksi inspiratif yang mereka lakukan.

Duta Besar Uni Eropa Vincent Piket membuka acara dengan menyampaikan pentingnya berinvestasi pada Bumi untuk menghindari perubahan iklim. Ia mengajak agar adanya norma baru untuk menjaga kelestarian Bumi. 

"Norma tersebut adalah selalu berinvestasi di planet kita untuk menjaga keindahan dan keajaibannya untuk generasi masa depan," ujarnya Dubes Uni Eropa Vincent Piket, Jumat (22/4/2022). 

Acara yang digelar secara virtual itu turut menampilkan para duta-duta besar di Eropa yang menampilkan pandangan mengenai perubahan iklim. Pidato-pidato mereka yang terpisah disinkronisasi dengan menarik. 

Kunto Aji menyanyikan sejumlah hits andalannya selama acara berlangsung. Ia sesekali bercerita mengenai dampak perubahan iklim yang ia rasakan, seperti area gunung yang terasa kurang sejuk, serta gaya hidupnya yang kini mulai mengurangi sampah plastik dan hemat listrik. 

Turut tayang pula sejumlah video dari para aktivis lingkungan. Salah satunya adalah Nur Almira dari Greeneration Foundation. Almira bercerita mengenai aktivitas EcoRanger di lokasi wisata Banyumas yang mengelola sampah-sampah pariwisata. 

Berkat aksi EcoRanger, warga lokal, bahkan turis, makin sadar tentang kebersihan lingkungan, bahkan nelayan ikut membawa pulang sampah laut ketika baru pulang melaut. 

"650 ton sampah telah berhasil di kelola sehingga tak berakhir di lautan," ucap Almira. "Kami bangga masyarakat yang semula tak peduli kini bersemangat mendukung kegiatan kami."

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Ekonomi Hijau

Suharso Monoarfa
Perbesar
Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa membahas manfaat ekonomi berkelanjutan.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa juga hadir dan menegaskan bahwa kondisi Bumi tidak sedang baik-baik saja. Ia mendukung seruan bersama untuk menjaga lingkungan dan mengembangkan bisnis dan energi yang terbarukan

“Pemerintah Indonesia secara eksplisit menempatkan penanganan perubahan iklim sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024. Sebagai salah satu program prioritas nasional, Pembangunan Rendah Karbon dan Pembangunan Berketahanan Iklim memegang peranan penting sebagai backbone menuju Ekonomi Hijau dan pembangunan berkelanjutan,” ujar Menteri Suharso.

Melalui Membumi, Uni Eropa hendak menumbuhkan kesadaran terhadap tiga krisis planet - perubahan iklim, kerusakan alam dan keanekaragaman hayati, serta polusi. Lebih lanjut, acara ini mengajak tanggung jawab kolektif untuk mengatasi krisis tersebut. Tiga hal itu juga disorot oleh Suharso.

Laporan dari  Panel Lintas Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) mengungkap bahwa perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia memberikan dampak yang lebih besar, lebih sering, dan mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari yang pernah diperkirakan, baik kepada alam maupun masyarakat. Sementara menurut Platform Sains-Kebijakan Lintas Pemerintah untuk Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES), sekitar satu juta spesies berada di ambang kepunahan dalam beberapa tahun ke depan.


Tiga Krisis

FOTO: 105 Orang Tewas Akibat Bencana Alam di Vietnam
Perbesar
Banjir merupakan salah satu dampak perubahan iklim.

Melalui Membumi, Uni Eropa hendak menumbuhkan kesadaran terhadap tiga krisis planet - perubahan iklim, kerusakan alam dan keanekaragaman hayati, serta polusi. Lebih lanjut, acara ini mengajak tanggung jawab kolektif untuk mengatasi krisis tersebut. 

Isu tiga krisis ini juga disorot Kepala Bappenas, sebab adanya perilaku ekonomi yang ekstraktif dan tidak berwawasan lingkungan. 

"Dampaknya terasa di berbagai belahan dunia. Beberapa tahun terakhir idnyatakan suhu terpanas yang tinggi sepanjang sejarah Bumi," ujar Kepala Bappenas.

"Akibatnya, permukaan laut naik, muncul cuaca ekstrim, terjadi peningkatan bencana hidrometeorologi dalam bentuk banjir dan sejenisnya. Kemudian pencemaran lingkungan yang kian memprihatinkan serta hilangnya bebragai keanekaragaman hayati," ujarnya.

Laporan dari  Panel Lintas Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) mengungkap bahwa perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia memberikan dampak yang lebih besar, lebih sering, dan mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari yang pernah diperkirakan, baik kepada alam maupun masyarakat. Sementara menurut Platform Sains-Kebijakan Lintas Pemerintah untuk Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES), sekitar satu juta spesies berada di ambang kepunahan dalam beberapa tahun ke depan.


Para Aktivis Lingkungan

[Fimela] ilustrasi bisnis ramah lingkungan
Perbesar
Aktivis lingkungan turut terlibat di acara ini.

Rinawati Eko, Ketua Umum Gerakan Hutan Itu Indonesia, menyampaikan, “Melalui acara ‘Membumi’ tentunya menjadi momentum bersama untuk saling mengingatkan bahwa kita semua punya andil membuat bumi, tempat tinggal kita, menjadi lebih sehat.

Hal ini bisa terjadi dengan memastikan keberlangsungan ekosistem hutan dan fungsi ekologisnya. Menjaga hutan bisa jadi adalah investasi terbesar kita untuk memastikan planet bumi lebih hijau dan sehat sehingga kualitas kehidupan kita menjadi lebih baik”

Tampil sebagai pembuka acara Membumi, Kunto Aji melantunkan lagu-lagu terbaiknya, sembari menuturkan kenangan dan harapan terhadap lingkungan yang lebih hijau. Membumi juga menyajikan kisah penggiat lingkungan dan pemimpin muda dalam aksinya di berbagai belahan bumi Indonesia.

Peneliti konservasi Sheherazade menuturkan pengalamannya memimpin upaya pelestarian satwa liar di Sulawesi, sementara Denia dan Aldy, sosok pasangan di balik Cleanomic, berbagi gaya hidup berkelanjutan bagi masyarakat urban.

Dari Jawa Timur, Almira dari Greeneration Foundation menceritakan pengalamannya menginisiasi gerakan zero-waste bersama masyarakat, sementara Mohammad Fikri mewakili L’Oreal  menunjukkan bagaimana korporasi beraksi nyata untuk keberlanjutan.

Infografis: 4 Unsur Wisata Ramah Lingkungan atau Berkelanjutan
Perbesar
Infografis lingkungan.
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya