Serangan Bom di Dua Kota Afghanistan Tewaskan 16 Orang, ISIS Klaim Dalangnya

Oleh Tanti Yulianingsih pada 22 Apr 2022, 10:39 WIB
Diperbarui 22 Apr 2022, 11:04 WIB
Masjid Syiah di Mazar-i-Sharif setelah ledakan bom yang dilaporkan menewaskan 12 orang pada 21 April 2022 [AFP].
Perbesar
Masjid Syiah di Mazar-i-Sharif setelah ledakan bom yang dilaporkan menewaskan 12 orang pada 21 April 2022 [AFP].

Liputan6.com, Jakarta Serangan bom menghantam dua kota di Afghanistan, termasuk 12 orang di sebuah masjid Syiah di Mazar-i-Sharif di Provinsi Balkh yang diklaim oleh kelompok ISIL (ISIS).

12 orang tewas dan 58 lainnya terluka - termasuk 32 dalam kondisi serius - oleh ledakan bom pada hari Kamis di masjid Seh Dokan di Mazar-i-Sharif.

"Darah dan ketakutan ada di mana-mana," kata Ahmad Zia Zindani, juru bicara departemen kesehatan masyarakat Provinsi Balkh seperti dikutip dari Al Jazeera, Jumat (22/4/2022).  

"Orang-orang berteriak saat mencari berita tentang kerabat mereka di rumah sakit," tambah Zindani.

"Banyak juga warga yang datang untuk mendonorkan darahnya," imbuh Zindani lagi.

Ledakan lain terjadi di Kunduz.

"Sedikitnya empat orang tewas dan 18 orang luka-luka akibat bom yang disembunyikan di sebuah sepeda yang menargetkan kendaraan yang membawa mekanik yang bekerja untuk pemerintah Taliban," kata juru bicara polisi Obaidullah Abedi.

Seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengatakan ledakan pinggir jalan itu menargetkan sebuah van mekanik militer dan siswa sekolah termasuk di antara yang terluka.

Ledakan pinggir jalan lainnya di Kabul melukai tiga orang, termasuk seorang anak, tambahnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Serangan Bom Berkurang Sejak Afghanistan Dikuasai Taliban

FOTO: Taliban Kuasai Bandara Kabul Usai AS Tarik Pasukan dari Afghanistan
Perbesar
FOTO: Taliban Kuasai Bandara Kabul Usai AS Tarik Pasukan dari Afghanistan

Jumlah pengeboman di Afghanistan telah berkurang sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021, tetapi ISIL (ISIS) telah mengklaim beberapa serangan termasuk pengeboman Masjid Seh Dokan pada Kamis 21 April.

"Tentara kekhalifahan berhasil mendapatkan tas jebakan di dalam masjid, meledakkannya dari jauh setelah dikemas dengan jemaah," kata ISIL dalam sebuah pernyataan.

Pada Selasa 19 April, dua ledakan di luar sebuah sekolah di lingkungan Syiah di Kabul menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai 25 lainnya.

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Pejabat Taliban bersikeras pasukan mereka telah mengalahkan ISIL, tetapi analis mengatakan kelompok itu tetap menjadi tantangan keamanan utama.

Richard Bennett, Pelapor Khusus PBB untuk Afghanistan tentang hak asasi manusia, mengutuk serangan itu.

"Hari ini, lebih banyak ledakan mengguncang Afghanistan … Serangan sistematis yang ditargetkan ke sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang ramai menyerukan penyelidikan segera, pertanggungjawaban, dan diakhirinya pelanggaran hak asasi manusia semacam itu," katanya dalam sebuah twit.

 


Aturan dan Kebijakan Baru Taliban Bikin Perpecahan Internal di Afghanistan

Kaleidoskop Foto Global 2021: Rangkuman Berita dan Peristiwa Sepanjang Tahun 2021
Perbesar
Ilustrasi Taliban. (AP)

Sejak Taliban kembali berkuasa baru-baru ini, remaja perempuan di Afghanistan tidak lagi bisa bersekolah, perempuan dewasa dilarang menaiki pesawat tanpa muhrim, sementara laki-laki atau perempuan dikenakan jadwal terpisah untuk mengunjungi taman kota.

Pembatasan dan kekangan bagi kebebasan sosial di Afghanistan itu diputuskan dalam sebuah pertemuan selama tiga hari pada pekan lalu di Kandahar, kota kelahiran Taliban, lapor pejabat senior Taliban seperti dikutip Associated Press.

Pemimpin spiritual Haibatullah Akhundzada mengumpulkan petinggi Taliban di kota itu, dan menetapkan haluan baru dengan model Syariah, yang mengingatkan orang pada masa awal kekuasaannya pada awal 1990an, demikian dikutip dari laman DW Indonesia, Rabu (30/3/2022).

Pada masa itu, Taliban memberlakukan Syariah Islam secara brutal, yang diwarnai dengan eksekusi massal di stadion olarhaga atau penghancuran benda serta artefak peninggalan sejarah.

Senin (28/3), pemerintah di Kabul mencabut izin operasi bagi media-media luar negeri, antara lain BBC dan Deutsche Welle. Nantinya, media lokal seperti ToloNews tidak lagi dapat menyiarkan atau memancar ulangkan konten-konten dari media internasional.

"Fakta bahwa Taliban mengkriminalkan distribusi program-program DW oleh media mitra kami justru menghalangi pembangunan berkesinambungan di Afghanistan,” kata Direktur DW, Peter Limbourg.

Gesekan internalLangkah Taliban membatasi pendidikan menengah dan tinggi bagi perempuan melanggar komitmennya kepada dunia internasional. Sejumlah negara, termasuk Indonesia, sebelumnya sepakat akan mengirimkan bantuan pembangunan, antara lain dengan jaminan terbukanya akses pendidikan bagi perempuan.

Tidak heran, perubahan haluan yang diputuskan Akhundzada memicu keraguan di kalangan sendiri. "Terutama kaum muda Taliban tidak setuju dengan beberapa aturan baru ini, tapi mereka tidak merasa nyaman untuk membantah para senior,” kata Torek Fargadi, analis keamanan Afghanistan.


Masa Transisi Taliban

Melihat Pasukan Taliban Berbuka Puasa Bersama saat Ramadhan
Perbesar
Melihat Pasukan Taliban Berbuka Puasa Bersama saat Ramadhan

Sejak kembali menguasai Afganistan, setelah hengkangnya Amerika Serikat secara terburu-buru, Taliban berada dalam masa transisi dari kelompok pemberontak menuju pemerintahan. Selama itu pula, perbedaan antara kaum garis keras dan pragmatis di tubuh Taliban mulai terlihat.

Generasi muda pemimpin Taliban meyakini, hak perempuan untuk mendapat pendidikan atau bekerja dijamin di dalam Islam. Kebanyakan mendukung pembukaan sekolah perempuan, sebelum keputusan itu akhirnya diveto oleh Akhunzada.

Haibatullah Akhundzada diyakini ingin membangun Afganistan sesuai visi pendiri Taliban, Mullah Omar. Mereka yang mengenal sang pemimpin spiritual mengatakan, dia tidak terpengaruh oleh tekanan dunia internasional.

Sebab itu Farhadi berharap agar generasi muda berani menyuarakan pandangannya dan mengubah Taliban dari dalam. "Gerakan Taliban membutuhkan reformasi,” kata dia. "Prosesnya memang sangat lambat dan membuat semua yang terlibat merasa frustasi. Tapi kita tidak boleh menyerah,” pungkas analis keamanan Afganistan itu. 

Infografis Taliban Rebut Kabul, Afghanistan Genting. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Taliban Rebut Kabul, Afghanistan Genting. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya