Turki Ogah Berikan Sanksi ke Rusia, Ini Alasannya?

Oleh Tommy Kurnia pada 14 Mar 2022, 13:00 WIB
Diperbarui 14 Mar 2022, 14:28 WIB
Seorang nenek di Irpin, di perbatasan Kyiv dievakuasi. Rusia masih terus serang Ukraina.
Perbesar
Seorang nenek di Irpin, di perbatasan Kyiv dievakuasi. Rusia masih terus serang Ukraina. Dok: AP Photo/Vadim Ghirda

Liputan6.com, Ankara - Menteri Luar Negeri Turki mengaku enggan memberikan sanksi kepada Rusia. Pernyataan itu diungkap di tengah banjir sanksi kepada Rusia dari berbagai negara, terutama negara-negara barat. 

Media pemerintahan Rusia, TASS, melaporkan bahwa Turki tidak menilai sanksi akan efektif. 

"Kami percaya bahwa sanksi-sanksi tidak akan menyelesaikan masalah," ujar Menlu Mevlut Cavusoglu, dikutip TASS, Senin (14/3/2022).

Turki juga mengaku masih tak bisa menutup zona udara mereka untuk Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah meminta negara-negara untuk memberikan sanksi ke Rusia, termasuk dengan no-fly zone. 

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin berkata akan menutup zona udara negaranya juga apabila pesawat Rusia dilarang terbang. 

"Mereka harus menambah waktu travel, dan mereka harus menghabiskan lebih banyak bahan bakar, mereka harus menambah harga tiket, dan seterusnya," ujar Presiden Vladimir Putin ketika bertemu dengan pilot dan pramugari beberapa waktu lalu.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Ukraina: Rusia Tembak Konvoi Evakuasi Perempuan dan Anak-Anak

Militer Ukraina Sulap Bioskop Jadi Markas Pertahanan
Perbesar
Seorang anggota pertahanan teritorial bersiap untuk berpatroli dari ruang teknis di bioskop di Kyiv, Ukraina, Senin (7/3/2022). Ukraina mengklaim lebih dari 11.000 tentara Rusia tewas dalam perang antara Rusia-Ukraina sejak 24 Februari 2022 lalu. (AP Photo/Vadim Ghirda)

Upaya baru untuk mengevakuasi warga sipil dari kota-kota yang dikepung di Ukraina diperumit oleh penembakan dan bombardir artileri Rusia yang terus-menerus, kata para pejabat Ukraina.

Koridor kemanusiaan sedang diupayakan di Mariupol, Sumy dan kota-kota dan desa-desa di luar ibukota Kiev, dengan tujuan untuk mengevakuasi warga sipil dari lokasi pertempuran.

Namun para pejabat Ukraina menuduh pasukan Rusia menembaki konvoi perempuan dan anak-anak dari desa Peremoha, dekat Kiev yang menewaskan tujuh orang, demikian seperti dikutip dari BBC, Minggu (13/3).

Dan evakuasi terjadi ketika pertempuran berlanjut di sekitar Kiev dan kota-kota lain.

"Sebuah konvoi warga sipil, khususnya perempuan dan anak-anak, ditembaki oleh penjajah," kata sebuah pernyataan oleh dinas intelijen militer Ukraina.

"Hasil dari tindakan biadab ini adalah tujuh orang tewas, salah satunya adalah seorang anak."

BBC sebelumnya melaporkan bahwa tidak mungkin untuk mengatakan bahwa gencatan senjata kemanusiaan berlangsung karena ledakan dan tembakan artileri, termasuk dari pihak Ukraina, masih bisa didengar.

Pejabat regional juga mengatakan bahwa pertempuran di daerah itu terus berlanjut dan bahwa ada ancaman serangan udara yang terus-menerus.


Infografis Invasi Rusia:

Infografis Reaksi Global terhadap Serbuan Rusia ke Ukraina. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Reaksi Global terhadap Serbuan Rusia ke Ukraina. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya