Studi di Belanda Laporkan Varian HIV yang Bisa Sebarkan AIDS Lebih Cepat

Oleh Liputan6.com pada 07 Feb 2022, 08:00 WIB
Diperbarui 07 Feb 2022, 08:00 WIB
Ilustrasi HIV/Aids (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Perbesar
Ilustrasi HIV/Aids (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Liputan6.com, Den Haag - Varian HIV yang sangat mematikan terdeteksi di Belanda, menurut studi ilmiah pada Kamis (3/2).

Lewat jurnal Science, analisis terhadap lebih dari 100 pasien HIV mengungkapkan bahwa orang-orang yang terinfeksi varian tersebut, yang dikenal VB, memiliki jumlah virus antara 3,5 sampai 5,5 kali lebih tinggi di dalam darah mereka.

Kondisi itu membuat mereka lebih memungkinkan menularkan virus, jurnal tersebut melaporkan sebagaimana diwartakan Anadolu Ajansi, dikutip dari Antara (6/2/2022).

Sejumlah temuan itu merupakan hasil studi gabungan Big Data Institute (BID) Universitas Oxford dan Yayasan Pemantau HIV Belanda.

Menurut jurnal tersebut, varian VB juga tampaknya menyebabkan penurunan sel imun. Akibatnya, orang-orang yang terinfeksi berpotensi menyebarkan AIDS jauh lebih cepat dibanding orang-orang yang terinfeksi varian HIV lain.

Namun, jurnal itu menegaskan bahwa varian baru tersebut dapat disembuhkan seperti HIV biasa dan dapat diketahui melalui tes diagnostik yang sama, yang digunakan untuk varian HIV lain.

 


Tingkat Keparahan Penyakit

Ilustrasi HIV/AIDS
Perbesar
Ilustrasi HIV/AIDS. (Foto oleh Anna Shvets dari Pexels)

Varian baru VB terdeteksi melalui proyek bernama Beehive, yang bertujuan untuk memeriksa hubungan antara genetik HIV dan tingkat keparahan penyakit.

Akan tetapi studi itu mencatatkan bahwa hanya ada 109 orang yang diketahui sebagai pembawa VB, 107 di antaranya berada di Belanda. Kemungkinan jumlah orang yang terinfeksi bertambah.

Analisis genetik menunjukkan bahwa varian yang sudah beredar sejak akhir 1980an itu, mulai muncul di Belanda pada1990an.

Pada 2000an diperkirakan varian tersebut telah melampau varian HIV lain dalam jumlah infeksi, meski terjadi penurunan setelah 2008, seperti yang tertulis di jurnal tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya