8 Desember 2021: 267 Juta Kasus COVID-19 di Dunia, Jerman Zona Merah

Oleh Tommy Kurnia pada 08 Des 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 08 Des 2021, 11:00 WIB
FOTO: Kematian Akibat COVID-19 di Jerman Tembus 100 Ribu
Perbesar
Sebuah peti mati berlabel kertas 'SARS-CoV-2 positif - Corona' dikremasi di krematorium di Giesen, Jerman, 25 November 2021. Badan pengendalian penyakit Jerman mengatakan pihaknya mencatat 351 kematian tambahan akibat COVID-19 dalam 24 jam terakhir. (Julian Stratenschulte/dpa via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Kasus COVID-19 secara global sedang naik. Berdasarkan data Johns Hopkins University, Rabu (8/12/2021), ada 15,6 juta kasus baru COVID-19 dalam 28 hari terakhir, padahal beberapa pekan lalu angkanya sudah turun hingga 12 juta.

Lima negara dengan kasus baru COVID-19 yang terbanyak dalam 28 hari terakhir atau masuk zona merah adalah Amerika Serikat (2,6 juta kasus), Jerman (1,4 juta), Inggris (1,1 juta), Rusia (972 ribu), Prancis (699 ribu).

Zona merah adalah wilayah dengan tingkat infeksi tinggi COVID-19. 

Kasus di Jerman mulai menanjak sejak akhir Oktober lalu, kemudian meroket tinggi. Pada sepekan ini, ada 396 kasus baru di negara itu. 

Di Asia Tenggara, Kerajaan Thailand menjadi negara dengan kasus baru tertinggi. Dalam 28 hari terakhir, ada 173 ribu kasus baru di Thailand. 

Selanjutnya, ada negeri jiran Malaysia dengan 152 ribu kasus baru.

Korea Selatan juga sedang mengalami lonjakan kasus. Ada 98 ribu kasus baru dalam 28 hari terakhir. Pemerintah sedang memperketat prokes hingga usai tahun baru 2022.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Dr. Fauci: Varian Baru COVID-19 Omicron Tak Lebih Parah dari Varian Sebelumnya

Angka Infeksi Corona Kembali Meningkat di Jerman
Perbesar
Orang-orang mengantre di depan pusat vaksinasi kecil departemen kesehatan setempat di Frankfurt, Jerman, Senin (15/11/2021). Jumlah infeksi Corona Covid-19 kembali meningkat di Jerman. (AP Photo/Michael Probst)

Ilmuwan top AS Anthony Fauci mengatakan pada Selasa (7/12) bahwa indikasi awal menunjukkan varian COVID-19 Omicron tidak lebih buruk daripada jenis sebelumnya, dan mungkin lebih ringan, sambil memperingatkan perlu waktu berminggu-minggu untuk menilai tingkat keparahannya.

Berbicara kepada AFP, kepala penasihat medis Presiden Joe Biden membagi yang diketahui dan tidak diketahui tentang Omicron menjadi tiga bidang utama: penularan, seberapa baik ia menghindari kekebalan dari infeksi dan vaksin sebelumnya, dan tingkat keparahan penyakit.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Rabu (8/12), varian baru "jelas sangat menular," sangat mungkin lebih dari Delta, strain global yang dominan saat ini, kata Fauci.

Soal tingkat keparahan, "hampir pasti tidak lebih parah dari Delta," kata Fauci.

"Ada beberapa saran bahwa itu mungkin tidak terlalu parah, karena ketika Anda melihat beberapa kelompok yang diikuti di Afrika Selatan, rasio antara jumlah infeksi dan jumlah rawat inap tampaknya lebih sedikit dibandingkan dengan Delta."

Tetapi dia mencatat bahwa penting untuk tidak menginterpretasikan data ini secara berlebihan karena populasi yang diikuti cenderung muda dan kecil kemungkinannya untuk dirawat di rumah sakit. Penyakit parah juga bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk berkembang.

"Saya pikir itu akan memakan waktu setidaknya beberapa minggu lagi" untuk mengkonfirmasi di Afrika Selatan, di mana varian itu pertama kali dilaporkan pada bulan November, katanya.

"Kemudian saat kita mendapatkan lebih banyak infeksi di seluruh dunia, mungkin perlu waktu lebih lama untuk melihat tingkat keparahannya."

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis COVID-19:

Infografis 5 Tips Tidur Malam Berkualitas di Masa Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 5 Tips Tidur Malam Berkualitas di Masa Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya