Militer China Makin Maju dan Punya Rudal Hipersonik, AS: Kami Tidak Panik

Oleh Liputan6.com pada 05 Des 2021, 16:00 WIB
Diperbarui 05 Des 2021, 16:00 WIB
Bendera AS dan China berkibar berdampingan (AP/Andy Wong)
Perbesar
Bendera AS dan China berkibar berdampingan (AP/Andy Wong)

Liputan6.com, D.C - Para pejabat pertahanan Amerika Serikat (AS) mengakui kemajuan militer China baru-baru ini, termasuk uji coba sistem senjata hipersonik, merupakan hal yang mengkhawatirkan.

Namun, Menteri Pertahanan AS mengatakan jika Beijing ingin mengintimidasi atau menakut-nakuti AS, itu tidak akan terjadi, demikian seperti dikutip dari VOA Indonesia,

“Amerika bukan negara yang takut dengan kompetisi," kata Lloyd Austin kepada para pejabat pemerintah dan perusahaan-perusahaan pertahanan dalam pidato pada Sabtu (4/12) pada Forum Pertahanan Nasional Regan di Simi Valley, California.

“Kita menghadapi tantangan hebat," ujarnya dalam pidato itu. "Dan kita akan mengatasi tantangan ini dengan kepercayaan diri dan keteguhan -- bukan kepanikan dan pesimisme."

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

AS Pantau Krisis Ukraina-Rusia, China-Taiwan

Taiwan Kerahkan Jet Tempur F-16 Baru untuk Hadapi Ancaman China
Perbesar
Pembawa bendera Angkatan Udara Taiwan melewati salah satu jet tempur F-16V yang baru di pangkalan Angkatan Udara di Chiayi di barat daya Taiwan, Kamis (18/11/2021). Langkah Taiwan tersebut untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya dalam menghadapi ancaman berkelanjutan dari China. (AP Photo/Johnson

Dalam pidatonya, Austin berbicara soal China dan Taiwan, tapi ia juga menyinggung tentang Ukraina dan Rusia, dimana puluhan ribu tentara dikerahkan di perbatasan.

AS tetap fokus pada Ukraina, katanya. Ia menambahkan bahwa Rusia pernah menginvasi Ukraine sebelumnya, pada 2014 ketika mencaplok Semenanjung Krimea.

AS menjamin agar Ukraina memiliki upaya untuk membela wilayahnya, kata Austin.

Terkait Taiwan, Austin mengatakan AS berusaha mencegah konflik, bukan mengubah status quo. Ia mengatakan AS berusaha berkomunikasi dengan para pemimpin militer China untuk mencegah salah perhitungan.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya