Daftar Negara yang Telah Deteksi Omicron Varian Baru COVID-19

Oleh Liputan6.com pada 29 Nov 2021, 16:02 WIB
Diperbarui 29 Nov 2021, 16:02 WIB
Orang-orang memakai masker mencegah COVID-19 di kawasan perniagaan Cape Town, Afrika Selatan
Perbesar
Orang-orang memakai masker mencegah COVID-19 di kawasan perniagaan Cape Town, Afrika Selatan. (Xinhua/Lyu Tianran)

Liputan6.com, Jakarta - Varian baru COVID-19 bernama Omicron dilaporkan telah menyebar ke banyak negara di dunia. Sejumlah kasus Omicron terkonfirmasi ditemukan di Belanda, Denmark, dan Australia, bahkan setelah makin banyak negara memberlakukan larangan perjalanan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan belum ada kejelasan apakah Omicron, yang pertama kali terdeteksi di Afrika bagian selatan, lebih mudah menular dibandingkan varian-varian COVID-19 lainnya, atau apakah varian itu bisa menyebabkan penyakit lebih parah.

"Data awal menunjukkan bahwa ada kenaikan jumlah orang yang dirawat di rumah sakit di Afrika Selatan, namun keadaan ini kemungkinan menyangkut jumlah keseluruhan orang yang terinfeksi daripada merupakan akibat infeksi yang spesifik," kata WHO dalam keterangannya, dikutip Senin (29/11/2021).

Proses untuk mengetahui tingkat keparahan Omicron, menurut WHO, "akan memakan waktu berhari-hari hingga beberapa minggu". Pada pekan lalu, WHO menyatakan Omicron sebagai "varian yang perlu diwaspadai" karena berpotensi lebih mudah menular dibandingkan dengan varian-varian COVID-19 lain.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Daftar Negara yang Deteksi Omicron

Pusat skrining cepat COVID-19 di Paris, Prancis
Perbesar
Pusat skrining cepat COVID-19 di Paris, Prancis. (Xinhua/Gao Jing)

Penemuan kasus Omicron membuat negara-negara meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah negara di seluruh dunia bergegas memberlakukan larangan perjalanan atas kekhawatiran bahwa varian tersebut mungkin kebal terhadap vaksin.

Negara-negara juga khawatir bahwa varian baru itu bisa berdampak pada pemulihan ekonomi setelah mereka dilanda pandemi selama dua tahun. Melalui pernyataan, WHO bersama para pakar teknis sedang berupaya memahami kemungkinan dampak Omicron terhadap langkah-langkah anti-COVID-19, termasuk pemberian vaksin.

Inggris mengatakan akan mengadakan sidang darurat para menteri kesehatan kelompok G7 pada Senin untuk membahas perkembangan terbaru. Sementara itu, badan kesehatan Belanda mengatakan 13 kasus varian Omicron ditemukan pada orang-orang di dua penerbangan yang tiba di Amsterdam dari Afrika Selatan pada Jumat 26 November.

Pihak berwenang Belanda telah melakukan pengujian terhadap lebih dari 600 penumpang kedua penerbangan tersebut. Setelah 61 kasus virus corona ditemukan, pengujian dilanjutkan untuk mendeteksi varian Omicron.

"Ini mungkin seperti puncaknya gunung es," kata Menteri Kesehatan Hugo de Jonge.

Kepolisian militer Belanda mengatakan telah menangkap satu pasangan yang meninggalkan hotel tempat mereka dikarantina setelah dinyatakan positif terpapar COVID-19. Pasangan tersebut dilaporkan mencoba kabur dari negara itu.

Omicron sejauh ini telah terdeteksi di Australia, Belgia, Botswana, Inggris, Denmark, Jerman, Hong Kong, Israel, Italia, Belanda, Prancis, Kanada, dan Afrika Selatan.

 


Gejala Omicron

ilustrasi whole genome sequencing COVID-19 dan tuberkulosis
Perbesar
ilustrasi whole genome sequencing COVID-19 dan tuberkulosis Foto oleh RF._.studio dari Pexels

Larangan perjalanan telah diberlakukan oleh banyak negara terhadap Afrika Selatan, sebagai upaya untuk menghadang penyebaran varian virus corona tersebut. Pasar-pasar keuangan pun anjlok pada Jumat 26 November dan harga minyak juga jatuh.

Seorang dokter Afrika Selatan, yang merupakan salah satu orang pertama yang mencurigai kemunculan suatu galur berbeda virus corona, mengatakan pada Minggu bahwa gejala-gejala Omicron sejauh ini ringan dan penyembuhannya bisa ditangani di rumah.

Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan Dr. Angelique Coetze, mengatakan kepada Reuters bahwa, tidak seperti Delta, para pasien yang terkena varian Omicron sejauh ini tidak melaporkan kehilangan penciuman atau rasa. Tingkat oksigen pasien-pasien itu juga tidak anjlok.

 


Upaya Cegah Omicron

Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19. Kredit: Fernando Zhiminaicela via Pixabay (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Perbesar
Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19 Fernando Zhiminaicela via Pixabay (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Israel pada Sabtu malam mengumumkan akan melarang masuk semua warga asing serta akan memberlakukan kembali teknologi pelacakan telepon untuk kontraterorisme guna menghindarkan penyebaran Omicron.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennet mengatakan larangan itu, yang saat ini sedang menunggu persetujuan dari pemerintah, akan berlaku selama 14 hari. Para pejabat Israel berharap selama masa tersebut sudah akan ada informasi lebih lanjut soal seefektif apa vaksin bisa menangkal Omicron.

Pakar utama Amerika Serikat soal penyakit menular, Dr. Anthony Fauci, pada Minggu 28 November mengatakan kepada Presiden Joe Biden bahwa akan diperlukan waktu selama dua pekan untuk mendapatkan informasi pasti soal penularan dan karakteristik Omicron, kata Gedung Putih dalam pernyataan.

Kantor presiden AS itu juga menyebutkan bahwa Fauci meyakini bahwa vaksin-vaksin yang ada saat ini "kemungkinan bisa melindungi kasus-kasus parah COVID".

Biden pada Senin akan menyampaikan perkembangan terkini soal varian baru tersebut beserta langkah penanganan yang akan ditempuh AS, kata Gedung Putih.

Di Inggris, pemerintah telah mengumumkan sejumlah langkah, termasuk aturan pengujian yang ketat bagi orang-orang yang tiba di negara tersebut. Pemerintah juga mewajibkan penggunaan masker di beberapa jenis lokasi.

 


Termasuk Indonesia

Larangan WNA Masuk Indonesia
Perbesar
Seorang Warga Negara Asing (WNA) dengan barang bawaan tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Selasa (29/12/2020). Pemerintah Indonesia melarang masuk WNA dari semua negara mulai 1 hingga 14 Januari 2021 menyusul varian baru COVID-19 yang ditemukan di Inggris. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Makin banyak negara, termasuk Indonesia dan Arab Saudi, yang pada Minggu mengumumkan pemberlakuan larangan perjalanan pada negara-negara Afrika. Afrika Selatan mengecam larangan tersebut dengan menyebutnya tidak adil dan kemungkinan bisa merusak ekonominya.

Afsel mengatakan merasa dihukum justru saat menunjukkan kemampuan keilmuannya dalam mengidentifikasi varian-varian virus corona lebih dini.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, mengatakan pemerintahnya sedang mempertimbangkan untuk menerapkan kewajiban vaksinasi COVID-19 pada warga di tempat-tempat dan dengan kegiatan tertentu.

Ramaphosa mengecam negara-negara Barat yang kaya atas larangan perjalanan yang mereka terapkan. "Larangan perjalanan itu tidak berdasarkan prinsip keilmuan, juga tidak akan efektif dalam menghindarkan penyebaran varian ini," katanya.

"Satu-satunya adalah hanya akan semakin merusak ekonomi negara-negara yang terdampak dan mengecilkan kemampuan mereka untuk menangani pandemi."


Infografis Pakai Masker dan Segera Vaksin Covid-19

Infografis Yuk! Pakai Masker dan Segera Vaksin Covid-19
Perbesar
Infografis Yuk! Pakai Masker dan Segera Vaksin Covid-19 (Liputan6.com/Niman)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya