Rendahnya Tingkat Vaksinasi di Jerman Dipengaruhi Aliran Kepercayaan hingga Reinkarnasi

pada 24 Nov 2021, 09:30 WIB
Diperbarui 24 Nov 2021, 09:30 WIB
Melihat Negara-Negara Uni Eropa Mulai Suntikan Vaksinasi COVID-19
Perbesar
Seorang penghuni Senior Centre Riehl menerima suntikan dosis vaksin COVID-19 di Senior Centre Riehl di Cologne, Jerman (27/12/2020). Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, vaksin Pfizer-BioNTech telah dikirimkan ke semua 27 negara anggota. (Xinhua/Tang Ying)

Berlin - Lonjakan kasus infeksi virus corona di satu jenis sekolah di Jerman yakni Waldorfschule telah membuat gerakan antroposofi kembali banyak disorot oleh media-media Jerman. Antroposofi adalah gerakan spiritual di balik sistem pendidikan yang diduga turut berperan atas tersendatnya gerakan vaksinasi di Jerman.

Setelah kampanye vaksinasi besar-besaran pada musim semi tahun ini, tingkat vaksinasi di Jerman sejak musim panas stagnan berada di bawah 70%. Kurva vaksinasi juga terlihat melandai di negara tetangganya yakni Austria dan sebagian daerah di Swiss yang berbahasa Jerman. Demikian seperti dikutip dari laman DW Indonesia, Rabu (24/11/2021).

Bagi penulis majalah Spiegel, Tobias Rapp, yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah Waldorf, landainya kurva ini tidak terlalu mengherankan. Menurut Tobias Rapp, salah satu alasannya adalah "skeptisisme vaksinasi dari kelompok kelas menengah yang berpusat di Jerman selatan dan Swiss."

Secara khusus, kelompok tersebut terdiri dari penganut antroposofi, sebuah filosofi yang dikembangkan oleh pendidik asal Austria, Rudolf Steiner, pada awal abad ke-20.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Aliran Kepercayaan di Jerman

Melihat Negara-Negara Uni Eropa Mulai Suntikan Vaksinasi COVID-19
Perbesar
Para staf bekerja di pintu masuk lokasi vaksinasi COVID-19 di Berlin, ibu kota Jerman (27/12/2020). Jerman sudah memberi suntikan pertamanya sehari lebih awal, hanya beberapa jam setelah menerima kiriman vaksin pertamanya. (Xinhua/Shan Yuqi)

Berpusat pada kepercayaan terhadap karma, reinkarnasi dan koneksi ke dunia spiritual, antroposofi mengajarkan bahwa penyakit adalah tantangan penting yang harus diatasi secara alami. Michael Blume, peneliti ilmu politik dan agama, mengatakan bahwa kondisi geografis juga berpengaruh terhadap perkembangan ide-ide esoteris semacam ini.

Jumlah orang-orangyang skeptis vaksin tergolong sangat tinggi di daerah pegunungan di Jerman selatan, Swiss dan Austria, ujar Blume. Hal ini karena gerakan antiotoriter yang dipicu oleh ide tentang federalisme dan kedekatan dengan alam ikut memantik perkembangan ide-ide seperti antroposofi. 

"Banyak antroposofis percaya pada aturan karma, yaitu bahwa penyakit dapat membantu menebus kesalahan dalam kehidupan sebelumnya dan membawa perkembangan spiritual," ujar Blume.

"Itulah mengapa, sayangnya, di beberapa Waldorfschule banyak yang skeptis terhadap vaksin. Beberapa juga percaya teori konspirasi," katanya.

Sebelum pandemi, Waldorfschule atau sering juga disebut Steinerschule sesuai nama pendirinya, populer dengan metode alternatif mereka yang memungkinkan anak-anak belajar dengan kecepatan belajar mereka sendiri. Sekolah yang jumlahnya sekitar 200 unit di Jerman ini sering menjadi sorotan karena beredarnya wabah campak di skala lokal.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Cara Alami Obati COVID-19

Ilustrasi Jahe
Perbesar
Ilustrasi Jahe (Dok.Unsplash)

Jumlah pengikut aliran antroposofi di Jerman memang hanya sekitar 12.000 orang, dari toal sekitar 83 juta penduduk. Namun pengaruh gerakan ini jauh lebih meresap dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jerman.

Selain sekolah, antroposofi juga merupakan akar dari grup kosmetik Weleda yang diciptakan oleh Steiner. Jaringan supermarket organik besar Alnatura dan raksasa toko obat DM juga didirikan oleh orang-orang yang mengaku sebagai antroposofis.

Ada juga federasi dokter yang menganut filosofi tersebut. Jaringan klinik antroposofis termasuk rumah sakit di Berlin yang memasukkan kompres jahe dan besi dari meteorit sebagai bagian dari obat untuk pasien COVID-19.

"Besi meteorit adalah obat yang kami gunakan dalam fase 2 penyakit COVID, yakni ketika gejala pertama penyakit muncul. Kami juga menggunakannya dalam sindrom setelah Covid, ketika kelelahan dan kelemahan muncul dalam tahap pemulihan," kata Harald Matthes, Kepala Rumah Sakit Havelhoehe, dalam wawancara dengan harian Tagesspiegel.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin Covid-19:

Infografis Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya