21 Oktober 2021: Tsunami COVID-19 Terjang Rusia, 241 Juta Warga Dunia Terinfeksi

Oleh Tommy Kurnia pada 21 Okt 2021, 12:26 WIB
Diperbarui 21 Okt 2021, 12:26 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin
Perbesar
Presiden Rusia Vladimir Putin (Mikhail Klimentyev/Pool Photo via AP)

Liputan6.com, Moskow - Kasus COVID-19 sedang meroket di Rusia. Total kasus sudah hampir 8 juta kasus. 

Berdasarkan data Johns Hopkins University, Kamis (21/10/2021), ada 241,9 juta total kasus COVID-19 di dunia. Pasien meninggal mencapai 4,9 juta.

Tren kasus di dunia sedang menurun, tetapi beberapa negara terus mencatat kenaikan kasus. Euronews menyebut lonjakan kasus ini telah menjadi tsunami COVID-19 dengan kasus harian bisa tembus 33 ribu per hari. 

Bila melihat grafik Our World in Data, kasus Rusia sudah meroket tinggi. Rekor kasus yang terjadi sepekan ini adalah yang tertinggi selama pandemi berlangsung di negara itu. 

Grafik harian kasus COVID-19 hingga 19 Oktober 2021. Dok: Our World in Data

Negara yang kondisinya parah juga dialami Turki yang sedang mengalami lonjakan kasus, meski tak separah lonjakan pada April 2021 lalu.

Di Asia Tenggara, Filipina mencatat kenaikan kasus baru yang tertinggi, yakni 329 ribu kasus dalam 28 hari. 

Terkait vaksinasi, sudah ada 6,6 miliar dosis vaksin COVID-19 yang disalurkan di seluruh dunia.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

AS Akan Beri Vaksin COVID-19 untuk Anak Usia 5-11

FOTO: Joe Biden Resmi Akhiri Perang Amerika Serikat di Afghanistan
Perbesar
Presiden Amerika Serikat Joe Biden mendekati podium untuk berbicara tentang berakhirnya perang di Afghanistan dari Ruang Makan Negara Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, Selasa (31/8/2021). Amerika Serikat mengakhiri perang hampir 20 tahun. (AP Photo/Evan Vucci)

AS bersiap untuk mulai memvaksinasi anak-anak berusia lima hingga 11 tahun terhadap COVID-19 mulai bulan depan. Ini merupakan sebuah langkah yang akan membuat 28 juta lebih orang Amerika memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin, kata Gedung Putih pada Rabu (20/10).

Pemerintahan Presiden Joe Biden mengatakan telah menyisihkan cukup pasokan dan bermitra dengan 25.000 situs di seluruh negeri - termasuk kantor dokter, rumah sakit, apotek, dan bahkan sekolah - untuk mengantisipasi bahwa regulator dapat segera mengesahkan vaksin Pfizer-BioNTech untuk anak-anak.

“Kami mengharapkan keputusan FDA dan CDC tentang vaksin COVID-19 Pfizer untuk anak-anak usia lima hingga 11 tahun dalam beberapa minggu ke depan,” kata koordinator COVID-19 Gedung Putih Jeff Zients kepada wartawan, merujuk pada Food and Drug Administration dan Centers for Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (21/10), 

"Kami tahu jutaan orang tua telah menunggu vaksin COVID-19 untuk anak-anak dalam kelompok usia ini, dan jika FDA dan CDC mengesahkan vaksin, kami akan siap untuk disuntik."

FDA akan mengadakan panel ahli tentang masalah ini minggu depan, diikuti oleh CDC pada 2 hingga 3 November, dengan otorisasi diharapkan segera setelahnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Masker Tetap Penting

FOTO: Angka Kesembuhan Pasien COVID-19 di Jakarta Meningkat
Perbesar
Pengendara melintas dekat mural imbauan untuk mematuhi protokol kesehatan di Jakarta, Selasa (20/7/2021). Kementerian Kesehatan mencatat pasien COVID-19 di Jakarta yang sembuh pada 19 Juli 2021 sebanyak 12.674 atau meningkat dibandingkan 18 Juli 2021 sebanyak 11.857 orang. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Peneliti Lingkungan Atmosfer Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRSTA-BRIN) Sumaryati meminta agar masyarakat tetap menggunakan masker meski ini dilaporkan kasus paparan pandemi menurun.

Menurut Sumaryati penggunaan masker dengan ketat masih diperlukan, mengingat virus Corona berpotensi menjadi bioaerosol di atmosfer.

"Ketika itu keluar dari tubuh pasien akan berupa droplet kalau butirannya besar, atau menjadi aerosol kalau butirannya kecil kurang dari lima mikron, itu kita nyebutnya aerosol. Karena aerosol itu sifatnya jadi mengikuti sifat aerosol di atmosfer, ya akan tersebar lebih jauh mengikuti arah angin. Namun juga akan mengendap ke permukaan," ujar Sumaryati dicuplik dari kanal You Tube PRTA LAPAN, Bandung, Selasa, 12 Oktober 2021. 

Sumaryati mengatakan COVID-19 yang menjadi aerosol itu akan dipaparkan melalui hembusan angin.

Namun, Sumaryati menerangkan paparan COVID-19 melalui aerosol di udara ini relatif lebih kecil dampaknya dibandingkan dengan paparan antarmanusia.

"Makanya kebijakan lockdown, kebijakan PSBB, sekarang kita PPKM lebih efektif. Meskipun kita tidak menafikan, tidak melalaikan juga faktor aerosol atau kita kenal bioaerosol atau COVID-19 aerosol yang menyebar di udara," kata Sumaryati.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis COVID-19:

Infografis Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Karantina dan Isolasi untuk Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Karantina dan Isolasi untuk Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya