Thailand Akan Setop Penggunaan Vaksin COVID-19 Sinovac Buatan China

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 19 Okt 2021, 18:00 WIB
Diperbarui 19 Okt 2021, 18:00 WIB
FOTO: Tenaga Kesehatan Thailand Jalani Vaksinasi COVID-19
Perbesar
Seorang tenaga kesehatan menerima suntikan booster vaksin virus corona COVID-19 Pfizer-BioNTech di Rumah Sakit Bangkok Metropolitan Administration General, Bangkok, Thailand, Selasa (10/8/2021). Total kasus COVID-19 di Thailand mencapai 736.522 kasus sejak awal pandemi. (AP Photo/Sakchai Lalit)

Liputan6.com, Bangkok - Thailand telah menggunakan lebih dari 31,5 juta dosis vaksin Corona COVID-19 Sinovac sejak Februari 2021, dimulai dengan dua dosis untuk pekerja garis depan, kelompok berisiko tinggi, dan penduduk Phuket.

Namun, pada bulan Juli 2021 Thailand mulai menginokulasi orang dengan Sinovac sebagai dosis pertama diikuti oleh AstraZeneca.

Thailand adalah negara pertama yang menggabungkan suntikan perpaduan antara vaksin China dan Barat.

Dikutip dari laman Bangkok Post, Selasa (19/10/2021) mulai bulan ini Thailand tidak akan lagi menggunakan Sinovac.

"Kami berharap telah mendistribusikan semua dosis Sinovac minggu ini," kata Dr Opas Karnkawinpong, direktur jenderal Departemen Pengendalian Penyakit.

Ia juga menambahkan program selanjutnya akan beralih dengan menggabungkan vaksin COVID-19 AstraZeneca dengan Pfizer serta BioNTech.

Thailand sejauh ini telah memvaksinasi 36% dari perkiraan 72 juta orang yang tinggal di negara itu dan berharap mencapai 70% pada akhir tahun 2021.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pemulihan Ekonomi di Thailand

Wisata di Pattaya Sepi
Perbesar
Perempuan Suku Kayan berbicara dengan turis yang mengenakan masker di sebuah toko suvenir di Taman Chang Siam, Pattaya, Thailand, Rabu (12/2/2020). Chang Siam Park adalah salah satu primadona bagi wisatawan China di Pattaya yang kini berangsur sepi karena virus corona. (Mladen ANTONOV / AFP)

Menteri keuangan dan menteri industri Thailand pernah menyatakan keyakinan bahwa pelonggaran lockdown pemerintah sejak Agustus 2021 akan membantu ekonomi menjadi normal secara bertahap.

Menteri Keuangan Arkhom Termpittayapaisith mengatakan, pelonggaran aktivitas ekonomi di bidang ritel dan tempat makan diperlukan untuk menghidupkan kembali perekonomian, demikian dikutip dari laman Xinhua.

"Kami melihat tren stabilisasi kasus baru COVID-19. Jika penguncian ketat masih berlanjut, kami memperkirakan ekonomi akan menyusut tajam. Pelonggaran pembatasan untuk bisnis ritel dan restoran akan membantu orang untuk bangkit kembali," kata Arkhom dalam wawancara dengan media lokal.

Dia menambahkan, karena pandemi masih berlangsung, pelonggaran harus dilakukan secara bertahap dengan aman dan hati-hati.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Thailand Suriya Jungrungreangkit juga meyakini pelonggaran lockdown akan menjadi faktor positif bagi sektor manufaktur.

"Pemerintah bekerja sama dengan pemilik pabrik untuk mengendalikan infeksi melalui berbagai langkah. Tren positif dari peluncuran vaksin di negara itu dan pelonggaran pembatasan lebih lanjut akan mendukung pemulihan keseluruhan kegiatan manufaktur," kata Suriya.

Menurut Kantor Ekonomi Industri (OIE), indeks produksi manufaktur Thailand (MPI) pada Juli meningkat sebesar 5,12 persen tahun-ke-tahun untuk bulan kelima berturut-turut. Otomotif dan elektronik, termasuk papan sirkuit, ban dan industri karet adalah pendorong pertumbuhan utama untuk ekspor.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya