Penurunan Kasus COVID-19 di Jepang Terjadi Sangat Drastis, Apa Penyebabnya?

Oleh Liputan6.com pada 18 Okt 2021, 20:10 WIB
Diperbarui 18 Okt 2021, 20:10 WIB
Darurat COVID-19, Begini Potret Lingkungan Shinjuku Tokyo
Perbesar
Orang-orang berjalan di sekitar lingkungan Shinjuku Tokyo, Kamis (7/1/2021). Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga mengatakan, status darurat itu berlaku mulai 8 Januari hingga 7 Februari 2021. (AP Photo/Hiro Komae)

Liputan6.com, Jepang - Kasus COVID-19 di Jepang hampir setiap hari anjlok dari puncak pertengahan Agustus 2021 yang dimana hampir 6.000. Hal misterius, hampir dalam semalam, Jepang menjadi kisah sukses virus corona yang menakjubkan.

Di Jepang, bar-bar dan kereta api penuh sesak, selain itu Jepang tidak seperti negara lain yang melakukan sistem lockdown, melainkan permintaan yang berfokus pada bar dan restoran untuk tutup lebih awal dan tidak menyajikan alkohol. Hal ini, membuat kebingungan umum tentang apa yang sebenarnya ada di balik penurunan tajam itu.

Dilansir AP News, Senin (18/10/21), beberapa faktor yang mungkin dalam keberhasilan Jepang yaitu, kampanye vaksinasi yang terlambat tetapi sangat cepat, mengosongkan banyak area kehidupan malam karena ketakutan menyebar selama lonjakan kasus baru-baru ini, menggunakan masker dan cuaca buruk pada akhir Agustus membuat orang tetap berada di rumah.

Tetapi musim dingin semakin dekat, para ahli khawatir dengan tidak mengetahui apa penyebab dari kasus yang turun begitu drastis, Jepang justru menghadapi gelombang lain seperti musim panas ini, ketika rumah sakit dipenuhi dengan kasus yang serius dan kematian melonjak.

Bisa dibilang, kampanye vaksinasi di Jepang berhasil, terutama di kalangan orang muda. Hampir 70 persen dari populasi telah divaksinasi lengkap.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Vaksinasi di Jepang

FOTO: Keluar dari Darurat COVID-19, Jepang Mulai Pulihkan Ekonomi
Perbesar
Warga berjalan melintasi persimpangan Shibuya di Tokyo, Jepang, Senin (11/10/2021). Setelah sepenuhnya keluar dari keadaan darurat COVID-19, Jepang mulai secara bertahap melonggarkan langkah-langkah untuk membantu memulihkan ekonomi. (AP Photo/Kiichiro Sato)

Dr. Kazuhiro Tateda, profesor virologi Universitasi Toho mengatakan, "vaksinasi yang cepat dan intensif di Jepang di antara mereka yang berusia kurang dari 64 tahun mungkin telah menciptakan kondisi sementara yang mirip dengan kekebalan kawanan". Tateda mencatat bahwa tingkat vaksinasi melonjak pada Juli hingga September.

Vaksinasi Jepang dimulai pada pertengahan Februari, dengan petugas kesehatan dan orang tua berada di urutan pertama. Kekurangan vaksin impor membuat kemajuan lambat sampai akhir Mei, ketika pasokan stabil dan target inokulasi harian dinaikkan menjadi di atas 1 juta dosis untuk memaksimalkan perlindungan sebelum 23 Juli-Agustus.

Jumlah suntikan harian meningkat menjadi sekitar 1,5 juta pada bulan Juli, mendorong tingkat vaksinasi dari 15% pada awal Juli menjadi 65% pada awal Oktober, melebihi 57% di Amerika Serikat.

Kasus baru harian melonjak hanya beberapa minggu menjelang Olimpiade, memaksa Jepang untuk mengadakan Olimpiade dengan beban kasus harian lebih dari 5.000 di Tokyo dan sekitar 20.000 secara nasional pada awal Agustus. Secara nasional, Jepang melaporkan 429 kasus pada hari Minggu dengan total akumulasi sekitar 1,71 juta dan 18.000 kematian sejak pandemi dimulai awal tahun lalu.

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Norio Ohmagari mengatakan menurunnya kasus di Jepang ini belum diketahui penyebabnya, dan mereka pun harus mempertimbangkan efek kemajuan vaksinasi yang sangat besar.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Rencana Jika Kasus Melonjak

FOTO: Aktivitas Warga Usai Berakhirnya Darurat COVID-19 di Tokyo
Perbesar
Seorang pria berjalan melewati cahaya iklan restoran di sepanjang jalan di Tokyo, Jepang, 4 Oktober 2021. Warga kembali beraktivitas setelah berakhirnya status pembatasan darurat virus corona COVID-19 di Jepang. (AP Photo/Koji Sasahara)

Beberapa berspekulasi bahwa penurunan kasus mungkin karena pengujian yang lebih sedikit, data pemerintah metropolitan Tokyo menunjukkan tingkat positif turun dari 25% pada akhir Agustus menjadi 1% pada pertengahan Oktober, sementara jumlah tes turun sepertiga. Masataka Inokuchi, wakil kepala Asosiasi Medis Tokyo, mengatakan penurunan tingkat positif menunjukkan infeksi telah melambat.

Profesor Universitas Kyoto Hiroshi Nishiura mengatakan pada pertemuan dewan penasihat pemerintah baru-baru ini bahwa dia memperkirakan vaksinasi membantu sekitar 650.000 orang menghindari infeksi dan menyelamatkan lebih dari 7.200 nyawa antara Maret dan September.

Perdana Menteri baru, Fimio Kishida mengatakan skenario terburuk yaitu rencana kesiapsiagaan yang akan disusun pada awal November akan mencakup batasan yang lebih ketat pada kegiatan dan mengharuskan rumah sakit untuk menyediakan lebih banyak tempat tidur dan staf untuk perawatan COVID-19 jika infeksi melonjak.

Pakar kesehatan masyarakat menginginkan penyelidikan komprehensif tentang mengapa infeksi menurun. Analisis data GPS menunjukkan bahwa pergerakan orang di distrik hiburan pusat kota utama turun selama keadaan darurat ketiga terakhir, yang berakhir 30 September.

 

Penulis : Alicia Salsabila

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Jangan Bebal, Kamu Tidak Kebal Covid-19

Infografis Jangan Bebal, Kamu Tidak Kebal Covid-19
Perbesar
Infografis Jangan Bebal, Kamu Tidak Kebal Covid-19 (Liputan6.com/Niman)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya