Dubes Inggris: Butuh Strategi Luar Biasa di Indo-Pasifik

Oleh Tommy Kurnia pada 06 Okt 2021, 09:08 WIB
Diperbarui 06 Okt 2021, 10:05 WIB
Wajah Jakarta yang Kian Cantik
Perbesar
Pemandangan dari udara memperlihatkan Halte Transjakarta Centrale Stichting Wederopbouw (CSW) di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (29/07/2021). (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Duta Besar InggrisOwen Jenkins, kembali membahas isu geopolitik Indo-Pasifik usai deklarasi kemitraan Australia, Inggris, dan Amerika Serikat (AUKUS). Aliansi itu berfokus pada keamanan di Indo-Pasifik. 

Dubes Owen mengajak semua pihak agar fokus pada tujuan bersama meski memiliki strategi berbeda-beda. Ia yakin strategi Inggris (Indo-Pacific Tilt), Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik, dan Strategi Uni Eropa untuk Indo-Pasifik sama-sama memiliki tujuan positif.

Hal-hal yang ia sorot adalah pertumbuhan yang berkelanjutan dan kesejahteraan ekonomi, dengan memperkuat hubungan, meningkatkan perdagangan dan memperkuat norma dan aturan yang mendukung perdagangan bebas, keamanan dan stabilitas, hingga HAM. 

"Yang terpenting, semua (strategi) sejalan dengan tujuan negara-negara di kawasan itu sendiri; termasuk juga sejalan dengan ambisi Kepresidenan G20 Indonesia yang sangat disambut baik, untuk mempromosikan produktivitas, ketahanan, pemberdayaan, kemitraan, dan kepemimpinan kolektif," ujar Dubes Owen dalam acara CSIS tentang masa depan kawasan Indo-Pasifik, Selasa (5/10). 

Meski begitu, ia menekankan perlunya strategi luar biasa, sebab kondisi di Indo-Pasifik sangatlah dinamis. Ia pun mengingatkan pentingnya rules-based international order untuk menjaga keamanan bersama.

"Karena dunia dan kawasan Indo-Pasifik khususnya terus berubah. Kita tidak bisa terus-menerus melakukan hal yang sama dan dengan cara yang sama," jelas Dubes Owen. 

"Kesejahteraan dan keamanan kita bersama bergantung pada ketaatan kita untuk mengikuti aturan yang sama, ditetapkan dalam norma, hukum, dan kesepakatan internasional yang telah kita semua tanda tangani. Kami para ahli kebijakan luar negeri menyebut jaringan hukum dan kesepakatan itu sebagai 'Sistem Internasional Berbasis Aturan'", ujarnya.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


AUKUS

Pertemuan antara Presiden Joe Biden dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson selama pertemuan bilateral menjelang KTT G7, Kamis (10 Juni 2021) di Carbis Bay, Inggris. (Foto AP/Patrick Semansky)
Perbesar
Pertemuan antara Presiden Joe Biden dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson selama pertemuan bilateral menjelang KTT G7, Kamis (10 Juni 2021) di Carbis Bay, Inggris. (Foto AP/Patrick Semansky)

Dubes Owen Jenkins menyebut kemitraan AUKUS sebagai salah satu inisiatif Inggris di Indo-Pasifik. Ia menyebut AUKUS bukanlah aliansi atau pakta, melainkan kemitraan keamanan. 

"Kami telah menandatangani kesepakatan ini – bukan perjanjian, pakta atau aliansi – karena kami percaya (kesepakatan ini) akan menyediakan kemampuan yang akan mendorong stabilitas dan keamanan di Kawasan Indo-Pasifik," ujarnya. 

Kesepakatan AUKUS ini berawal dari kolaborasi kapal selam bertenaga nuklir untuk Angkatan Laut Australia ketika Australia memutuskan untuk membeli dari AS. Keputusan itu tidak disambut dengan baik oleh Prancis yang menarik duta besarnya dari Australia dan AS. 

Dubes Owen juga menyentuh isu hukum maritim internasional agar terus dijaga, serta membahas usaha Inggris untuk bergabung ke Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik, atau CPTPP.

Peran penting Indo-Pasifik yang penting turut dibahas karena memiliki banyak pemain. Pada 2030, kawasan ini diprediksi akan menghasilkan 40 persen PDB dunia.

Lebih lanjut, ia lantas menegaskan bahwa Inggris berkomitmen mendukung sentralitas ASEAN.

"Inggris menghormati dan berkomitmen untuk mendukung dan mempromosikan sentralitas ASEAN dan ASEAN sendiri sebagai landasan multilateralisme yang terbuka, saling menghormati, dan transparan di Indo Pasifik," pungkasnya.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya