Diduga Tak Terima Diminta Bermasker, Penyangkal COVID-19 Tembak Petugas Pom Bensin di Jerman

Oleh Liputan6.com pada 22 Sep 2021, 19:40 WIB
Diperbarui 22 Sep 2021, 19:40 WIB
Ilustrasi Penembakan
Perbesar
Ilustrasi Penembakan (Rudy and Peter Skitterians/Pixabay).

Liputan6.com, Berlin - Politikus Jerman mengumumkan pada Selasa 21 September 2021 tentang pembunuhan seorang petugas pom bensin setelah berargumen tentang masker, mengatakan bahwa penyangkal Virus Corona COVID-19 yang melakukan kekerasan tidak akan ditoleransi.

Pembunuhan yang terjadi di kota barat Idar-Oberstein, Jerman pada Sabtu malam telah menjadi berita utama, seperti dikutip dari News 24, Rabu (22/9/2021).

Jaksa mengatakan bahwa kasir pom bensin yang berusia 20 tahun telah meminta seorang pria berusia 49 tahun yang ingin membeli bir untuk mematuhi aturan selama pandemi COVID-19, dengan mengenakan masker.

Pelanggan tersebut menolak dan pergi, tetapi dia kembali lagi sambil mengenakan masker yang ditariknya ketika dia mendekati petugas kasir pom bensin.

Jaksa Kai Fuhrmann mengatakan bahwa pelaku mengeluarkan pistol dan menembak kepala kasir dari depan. Korban terjatuh ke lantai dan langsung tewas.

Tersangka kemudian menyerahkan diri di kantor polisi, mengatakan pembatasan akibat Virus Corona COVID-19 membuatnya stres, kata Kai Furhmann. Saat ini pelaku ditahan.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penyangkal Virus Corona COVID-19 Harus Dilawan

Jerman Kembali Lockdown
Perbesar
Orang-orang berjalan melewati zona pejalan kaki utama di Frankfurt, Jerman, Senin (14/12/2020). Mengurangi sebaran virus corona COVID-19, Jerman akan kembali menutup wilayahnya atau lockdown mulai 16 Desember 2020 mendatang. (AP Photo/Michael Probst)

Pembunuhan itu terjadi seminggu sebelum pemilihan federal di mana partai alternatif sayap kanan untuk Jerman (AfD) telah mencoba merayu pemilih dengan kampanye anti-lockdown dan anti-vaksin.

Partai tersebut, dengan sekitar 11 persen dalam jajak pendapat, menampung banyak penyangkal Virus Corona COVID-19.

Pada Selasa, sejumlah politikus menanggapi pesan yang beredar di media sosial dari kelompok sayap kanan dan apa yang disebut "Querdenker" (pemikir lateral) yang menyangkal Virus Corona COVID-19, dan yang menunjukkan simpati terhadap si pembunuh.

"Kebencian dan hasutan yang datang dari orang-orang yang tidak bisa diajari ini memecah belah komunitas kami dan membunuh orang. Mereka tidak memiliki tempat di masyarakat kita," ujar Menteri Luar Negeri Heiko Maas, yang mengatakan Querdenker sedang merayakan pembunuhan itu.

Menteri Kehakiman Christine Lambrecht, mengatakan itu menjijikkan bagaimana pembunuhan itu telah disalahgunakan untuk memicu kebencian.

"Negara harus melawan radikalisasi penyangkal Virus Corona COVID-19 yang berani menggunakan kekerasan dengan segala cara yang mungkin," katanya.

 

Reporter: Cindy Damara

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya