Taliban Sita Uang Mantan Pejabat Afghanistan Lantaran Kehabisan Uang

pada 17 Sep 2021, 07:01 WIB
Diperbarui 17 Sep 2021, 19:44 WIB
FOTO: Taliban Duduki Istana Kepresidenan Afghanistan
Perbesar
Pejuang Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, Afghanistan, Minggu (15/8/2021). Taliban menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu. (AP Photo/Zabi Karimi)

, Kabul - Taliban berhasil menyita uang tunai dan emas senilai lebih dari 12 juta dolar AS dari penggeledahan yang dilakukan terhadap mantan pejabat pemerintahan Afghanistan.

Saat ini Afghanistan tengah mengalami kelangkaan uang tunai, demikian dikutip dari laman DW Indonesia, Jumat (17/9/2021).

Bank sentral Afghanistan pada hari Selasa (14/09) mengatakan bahwa Taliban menyita uang tunai dan emas senilai lebih dari 12 juta dolar AS (lebih dari Rp 170 miliar) dari para mantan pejabat pemerintah.

Taliban kemudian menyerahkan hasil sitaan tersebut ke bank.

Menurut sebuah pernyataan dari bank sentral, penggeledahan oleh Taliban terjadi di kediaman mantan Wakil Presiden Amrullah Saleh, dan "sejumlah pejabat tinggi pemerintah."

Sejak mengambil alih kekuasaan di Afghanistan, Taliban juga mengambil alih kendali atas bank sentral.

Dalam sebuah cuitan, bank sentral memperlihatkan beberapa pria tampak serius menghitung tumpukan uang tunai.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bank Sentral Kehabisan Uang Tunai

Denyut Ekonomi Afghanistan usai Berkuasanya Taliban
Perbesar
Orang-orang berlalu-lalang di jalanan menyusul pembukaan kembali bank dan pasar setelah Taliban mengambil alih kekuasaan di Kabul, Afghanistan, pada Sabtu (4/9/2021). Setelah 20 tahun digulingkan, kelompok Taliban kembali menguasai Afghanistan. (AP Photo/Wali Sabawoon)

Sejak Afghanistan dikuasai Taliban, bank-bank di Afghanistan kehabisan uang tunai. Beberapa di antaranya bahkan berada di ambang penutupan.

Bank-bank yang mengalami kesulitan lantas menyampaikan kekhawatirannya perihal kelangkaan uang tunai kepada Taliban.

Sebagai respons, Taliban meluncurkan penyelidikan terhadap aset-aset para mantan pejabat pemerintah yang kemudian berujung pada terjadinya penyitaan aset.

Dalam pernyataan bank sentral, hanya Amrullah Saleh satu-satunya pejabat yang disebutkan namanya. Ia diyakini tengah berada di pegunungan Panjshir bersama para pejuang oposisi lainnya.

Sebelumnya, mantan presiden Afghanistan Ashraf Ghani juga dituduh melarikan diri dengan membawa uang jutaan dolar. Namun Ghani membantah tuduhan tersebut dengan menyebutnya sebagai tuduhan "tidak berdasar."

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pembekuan Aset Asing Memperburuk Masalah Keuangan

FOTO: Taliban Duduki Istana Kepresidenan Afghanistan
Perbesar
Pejuang Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, Afghanistan, Minggu (15/8/2021). Seorang pejabat senior Kementerian Dalam Negeri Afghanistan menyebut Presiden Afghanistan Ghani telah pergi ke Tajikistan. (AP Photo/Zabi Karimi)

Bank-bank di Afghanistan pun terpaksa harus menjatah jumlah uang yang akan dikeluarkan di kantor-kantor cabangnya. Hal ini dilakukan agar bank tidak benar-benar kehabisan uang. Batas penarikan mingguan yang dilaporkan adalah sebesar $200 (sekitar Rp 2,8 juta).

Masalah keuangan di Afghanistan turut diperparah dengan dibekukannya aset asing bank sentral sejak Taliban mengambil alih kekuasaan.

Menurut mantan gubernur bank tersebut, Ajmal Ahmadi, jumlah aset yang dibekukan diperkirakan sekitar $10 miliar (lebih dari Rp 142 triliun).

Meski begitu, bank sentral yang dikendalikan Taliban mengklaim bahwa semua operasi komersial berlangsung di bawah pengawasan ketat dan melaporkan semua operasi berjalan lebih baik dari sebelumnya. "Bank-bank semuanya aman,” kata pelaksana tugas gubernur bank sentral.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya