WHO Prihatin dengan Penderita Long COVID-19

Oleh Benedikta Miranti T.V pada 05 Agu 2021, 16:30 WIB
Diperbarui 05 Agu 2021, 16:30 WIB
FOTO: Perjuangan Paramedis Merawat Pasien COVID-19 di RSUD Kota Bogor
Perbesar
Paramedis menyisir rambut pasien COVID-19 di Ruang ICU RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (18/6/2021). Kepedulian paramedis terhadap pasien tetap mereka lakukan walau jumlah pasien COVID-19 terus bertambah. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Dengan 200 juta orang diketahui mengidap COVID-19, WHO mengatakan bahwa pihaknya sangat prihatin dengan jumlah tak dikenal yang mungkin masih menderita long COVID-19 -- Sindroma Pasca COVID-19 bukan berarti di dalam tubuh pasien masih ada virus Corona.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak orang-orang yang berjuang sembuh - meskipun telah pulih dari fase akut - untuk mencari bantuan medis.

Mengutip Channel News Asia, Kamis (5/8/2021), long COVID-19 sampai saat ini menjadi salah satu aspek pandemi yang paling misterius.

"Sindrom pasca-COVID ini, atau long  COVID, adalah sesuatu yang sangat dikhawatirkan oleh WHO," Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis COVID-19 badan kesehatan PBB, mengatakan pada konferensi pers.

WHO "memastikan bahwa kami memiliki pengakuan atas ini, karena ini nyata".

Dia mengatakan tentang mereka yang terinfeksi SARS-CoV-2 - virus yang menyebabkan penyakit COVID-19 - "banyak yang menderita efek jangka panjang".

"Kami tidak tahu berapa lama efek ini bertahan dan kami bahkan sedang mengerjakan definisi kasus untuk lebih memahami dan menggambarkan apa sindrom pasca-COVID ini," kata Van Kerkhove.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Efek COVID Jangka Panjang

FOTO: Perjuangan Paramedis Merawat Pasien COVID-19 di RSUD Kota Bogor
Perbesar
Paramedis merawat pasien COVID-19 di Ruang ICU RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (18/6/2021). Kepedulian paramedis terhadap pasien tetap mereka lakukan walau jumlah pasien COVID-19 terus bertambah. (merdeka.com/Arie Basuki)

Ia menambahkan bahwa WHO sedang bekerja untuk memiliki program rehabilitasi yang lebih baik untuk penderita long COVID ditambah penelitian yang lebih luas, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang apa sindrom itu dan bagaimana hal itu dapat ditangani.

WHO telah mengadakan serangkaian seminar tahun ini yang bertujuan untuk memperluas pemahaman tentang kondisi pasca-COVID-19, mendengar tidak hanya dari ilmuwan dan dokter tetapi juga langsung dari penderita itu sendiri.

Sedikit yang diketahui tentang mengapa beberapa orang, setelah melewati fase akut, berjuang untuk pulih dan menderita gejala yang berkelanjutan termasuk sesak napas, kelelahan ekstrem dan kabut otak serta gangguan jantung dan neurologis.

Janet Diaz, pemimpin perawatan klinis dalam program kedaruratan WHO yang memimpin upaya panjang COVID-19, mengatakan ada lebih dari 200 gejala yang dilaporkan.

Gejala tersebut termasuk nyeri dada, kesemutan dan ruam, katanya pada sesi media sosial langsung WHO.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Yuk Hindari 9 Kesalahan Ketika Gunakan Masker Cegah Covid-19:

Infografis Yuk Hindari 9 Kesalahan Ketika Gunakan Masker Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Yuk Hindari 9 Kesalahan Ketika Gunakan Masker Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya