Anthony Fauci: AS Tak Akan Lockdown Meski Ada COVID-19 Varian Delta

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 02 Agu 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 02 Agu 2021, 11:43 WIB
Total Kasus COVID-19 di AS Tembus 16 Juta
Perbesar
Para pejalan kaki melintas di Times Square New York, Amerika Serikat (AS) (12/12/2020). Total kasus COVID-19 di AS menembus angka 16 juta pada Sabtu (12/12), menurut Center for Systems Science and Engineering (CSSE) di Universitas Johns Hopkins. (Xinhua/Michael Nagle)

Liputan6.com, Washington D.C - Amerika Serikat tidak akan memberlakukan lockdown lagi untuk mengekang infeksi, tetapi "situasi akan menjadi lebih buruk" karena COVID-19 varian Delta memicu lonjakan kasus, yang sebagian besar terjadi di antara mereka yang belum divaksinasi.

Hal itu disampaikan oleh pakar penyakit menular AS, Dr. Anthony Fauci, seperti dikutip dari Channel News Asia, Senin (2/8/2021).

Kepada This Week ABC, Fauci menyampaikan bahwa kini sudah ada persentase yang cukup dari warga AS yang sudah divaksinasi untuk menghindari lockdown.

"Tidak cukup untuk menghancurkan wabah, tetapi saya cukup percaya itu tidak akan membuat kita masuk ke situasi seperti yang terjadi di musim dingin lalu," kata Fauci.

Sementara itu, analisis yang dilakukan kantor berita Reuters menunjukkan, jumlah rata-rata kasus baru COVID-19 yang dilaporkan secara nasional di AS naik hampir dua kali lipat dalam 10 hari terakhir.

Bahkan, jika negara bagian AS tidak memberlakukan lockdown lagi, penyebaran COVID-19 varian Delta masih dapat mengancam perekonomian.

Presiden Minneapolis Federal Reserve Bank, Neel Kashkari, mengatakan kepada acara CBS: Face the Nation bahwa Virus Corona varian Delta "menciptakan banyak kehati-hatian" di antara jutaan warga AS yang tidak bekerja dan dapat memperlambat pemulihan pasar tenaga kerja.

Diketahui bahwa lonjakan kasus COVID-19 varian Delta juga mengguncang dunia. Beberapa wilayah Asia yang sebelumnya relatif berhasil menahan Virus Corona, seperti Filipina, Thailand, dan Vietnam, kini kembali menerapkan lockdown.

Di Australia, otoritas negara itu mengerahkan tentara tak bersenjata dalam langkah membantu polisi kota Sydney memeriksa apakah warga yang dites positif menjalani isolasi.

Di Prancis, di mana pemerintah sedang memerangi gelombang keempat infeksi, ribuan orang memprotes selama tiga pekan berturut-turut untuk menentang protokol kesehatan yang mengatakan vaksinasi akan diperlukan untuk masuk ke banyak tempat umum.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

58 Persen Warga AS Telah Terima Setidaknya 1 Dosis Vaksin COVID-19

FOTO: Kasus Corona di Amerika Serikat Tembus 1 Juta
Perbesar
Layar menunjukkan ucapan terima kasih terhadap petugas kesehatan terlihat di Times Square, New York, AS, Senin (27/4/2020). Menurut Center for Systems Science and Engineering di Universitas Johns Hopkins hingga 29 April 2020 WIB, jumlah kasus COVID-19 di AS melampaui 1 juta. (Xinhua/Michael Nagle)

Sementara vaksin COVID-19 masih langka di sebagian besar negara dan wilayah di dunia, vaksin gratis sudah tersedia bagi warga berusia 12 tahun atau lebih di Amerika Serikat, di mana hadiah uang tunai, mobil baru, dan insentif lainnya gagal memotivasi lebih dari sepertiga populasi di sana untuk divaksinasi.

"Kami memiliki 100 juta orang di negara ini yang memenuhi syarat untuk divaksinasi yang tidak divaksinasi," ungkap Fauci, yang juga menjabat sebagai direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases.

Sekitar 58 persen warga AS telah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19, mulai dari yang tertinggi 76 persen di negara bagian Vermont hingga yang terendah 40 persen di Mississippi.

Setelah menurun selama berminggu-minggu, jumlah warga AS yang divaksinasi sudah mulai meningkat lagi.

"Intinya adalah bahwa orang-orang sadar akan hal ini dan ini mungkin menjadi titik kritis bagi mereka yang ragu-ragu," kata Direktur National Institutes of Health Francis, Collins kepada CNN.

"Itulah yang sangat perlu terjadi jika kita ingin mengembalikan varian Delta ini ke tempatnya, karena saat ini sedang mengadakan pesta yang cukup besar di tengah negara," pungkasnya.

Florida menghaddapi salah satu wabah COVID-19 terburuk di AS berdasarkan kasus baru per kapita dan telah melihat kenaikan infeksi hingga 50% dari minggu ke minggu.

Namun, Gubernur Ron DeSantis telah mencabut mandat masker di sekolah-sekolah negara bagian, dengan mengatakan hal itu kini merupakan keputusan orang tua murid.

"Masuk akal dalam komunitas di mana virus menyebar, dan itu hampir di seluruh Florida saat ini, untuk melakukan semua yang Anda bisa untuk mencegahnya, termasuk mengenakan masker untuk anak-anak di sekolah," sebut Collins.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Gejala COVID-19 Varian Alpha, Beta dan Delta

Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Gejala Covid-19 Varian Alpha, Beta dan Delta. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Gejala COVID-19 Varian Alpha, Beta dan Delta. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya