Ini Kata Peneliti AstraZeneca Soal Hoaks Terkait Vaksin dan Vaksinasi COVID-19

Oleh Liputan6.com pada 31 Jul 2021, 19:25 WIB
Diperbarui 01 Agu 2021, 09:46 WIB
Media Interview dengan Indra dan Carina (31/7/2021)
Perbesar
Media Interview dengan Indra dan Carina (31/7/2021)

Liputan6.com, Jakarta - Nama Indra Rudiansyah dan Carina Citra Dewi Joe saat ini sedang ramai jadi tajuk media-media. Pasalnya, dua anak bangsa tersebut ikut andil dalam pengembangan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Indra adalah lulusan S1 dan S2 Institut Teknologi Bandung (ITB) yang kemudian berkarir di Bio Farma. Ia kemudian melanjutkan jalur pendidikan dengan mulai berkuliah di Universitas Oxford, Inggris sejak 2018.

Adapun Carina Citra Dewi Joe juga turut berpartisipasi dalam pengembangan serupa.

Peran yang diemban keduanya adalah tahap uji klinis untuk melihat bagaimana respon antibodi dari para relawan yang sudah menerima vaksin.

Meskipun vaksinasi telah digalakkan oleh pemerintah, banyak hoaks dan berita palsu beredar di dunia digital. Hal tersebut pun kian membuat masyarakat untuk menerima vaksin, terutama vaksin AstraZeneca.

Menanggapi hal tersebut, Carina dalam media interview pada Sabtu (31/7) mengungkapkan kesedihannya terhadap hoaks dan berita yang beredar.

"Kita bekerja demi kemanusiaan dan dapat data dan rekomendasi dari badan kesehatan vaksin ini aman dan efektif. Tetapi karena ada isu-isu jadi, ya, berkembang seperti ini," ujar Carina.

"Ada banyak isu. Tentang pembekuan darah, tetapi kasusnya sangat jarang. Balik lagi dalam masalah satu vaksin itu tidak bisa cocok untuk semua orang," tambah Carina. "Tanpa vaksin ini pun  pembekuan darah banyak muncul di masyarakat tetapi ada rasionya."

Indra pun ikut angkat bicara mengenai hoaks dan isu yang beredar di masyarakat.

Indra mengatakan bahwa masyarakat banyak yang masih belum paham mengenai kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) setelah vaksinasi yang wajar terjadi.

"Kita harus paham bahwa medicine (obat) itu punya side effectnya. Ada side effect yang memang normal, ada side effect yang memang jarang terjadi," ujar Indra.

"Penggunaan obat itu pada dasarnya didasarkan pada benefit dan risk yang ditimbulkan. Sampai sekarang ini, risiko infeksi Covid-19 masih jauh lebih berbahaya daripada risiko yang ditimbulkan oleh vaksin,” tambah Indra.

Menurut Indra, dengan adanya pencatatan KIPI yang baik, akhirnya dapat mendeteksi kipi yang sangat jarang ini sehingga memungkinkan untuk memitigasi.    

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pelajaran Penting dari Pengalaman Indra dan Carina

FOTO: 6 Jenis Vaksin COVID-19 yang Ditetapkan Pemerintah Indonesia
Perbesar
Gambar ilustrasi menunjukkan botol berstiker "Vaksin COVID-19" dan jarum suntik dengan logo perusahaan farmasi AstraZeneca, London, Inggris, 17 November 2020. Vaksin buatan AstraZeneca yang bekerja sama dengan Universitas Oxford ini disebut 70 persen ampuh melawan COVID-19. (JUSTIN TALLIS/AFP)

Nilai kolaborasi adalah pelajaran yang dipetik oleh Indra melalui kontribusinya dalam pembuatan vaksin. Berbagai keterbatasan Oxford menyadarkannya penting melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk saling melengkapi dan menyempurnakan vaksin tersebut.

Sementara pelajaran yang diambil Carina melalui pengalamnnya adalah kesiapannya dalam mengantisipasi segala proyek yang dipercayakan padanya.  

 

Reporter: Ielyfia Prasetio

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya