Dianggap Tekan Demonstran, AS Jatuhkan Sanksi Terhadap Kuba

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 23 Jul 2021, 12:59 WIB
Diperbarui 23 Jul 2021, 12:59 WIB
Joe Biden, calon presiden AS penantang Donald Trump pada pemilu November 2020 mendatang.
Perbesar
Presiden Amerika Serikat ,Joe Biden. (AP Photo/Matt Rourke)

Liputan6.com, Washington D.C - Demonstrasi terjadi di Kuba, dalam langkah menyampaikan kritik atas pemerintah di negara tersebut. 

Amerika Serikat memberlakukan sanksi terhadap menteri pertahanan dan unit pasukan khusus Kuba, karena negara itu dianggap merepresi protes damai.

Dikutip dari AFP, Jumat (23/7/2021) Departemen Keuangan AS menyatakan Kantor Bagian Pengontrol Aset Asing telah membekukan aset Menteri Alvaro Lopez Miera dan Brigade Khusus Nasional (SNB), salah satu divisi dalam kementerian dalam negeri Kuba.

Langkah itu dilakukan karena pejabat dan pasukan khusus tersebut dianggap melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) selama protes-protes berlangsung di Kuba mulai awal Juli 2021.

"Ini baru permulaan - Amerika Serikat akan terus memberikan sanksi kepada individu yang bertanggung jawab atas penindasan rakyat Kuba," kata Presiden AS Joe Biden dalam sebuah pernyataan.

Sanksi dijatuhkan atas Magnitsky Act, atau undang-undang Akuntabilitas Hukum Sergei Magnitsky, yang memungkinkan seorang presiden AS untuk mengambil tindakan terhadap kasus pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi.

Biden mengatakan pemerintahannya menargetkan Lopez Miera dan SNB, pasukan khusus dengan sebutan Baret Hitam.

Selain itu, Presiden ke-46 AS tersebut juga mengecam penahanan masal dan pengadilan palsu untuk membungkam suara protes rakyat Kuba.

"Saat kami meminta pertanggungjawaban rezim Kuba, dukungan kami untuk rakyat Kuba tak tergoyahkan," ujar Biden.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Respons Kuba Terhadap Sanksi AS

Foto Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel (tengah) terlihat selama demonstrasi yang diadakan oleh warga untuk menuntut perbaikan di negara itu, di San Antonio de los Banos, Kuba, pada 11 Juli 2021 (AFP)
Perbesar
Foto Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel (tengah) terlihat selama demonstrasi yang diadakan oleh warga untuk menuntut perbaikan di negara itu, di San Antonio de los Banos, Kuba, pada 11 Juli 2021 (AFP)

Di sisi lain, Kuba menanggapi sanksi itu sebagai fitnah dan mengatakan AS harus fokus terhadap represi dan kebrutalan aparat di negaranya sendiri.

"Saya menolak sanksi fitnah yang tak berdasar dari pemerintah AS," tulis Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodrigueqz di Twitter.

Pada 11 dan 12 Juli 2021, demonstrasi terjadi di Kuba - ketika ribuan warga Kuba memenuhi jalanan di 40 kota sambil meneriakkan 'kebebasan' dan 'lengserkan kediktatoran', juga meneriakan, 'Kami lapar!'.

Satu orang tewas dan 100 orang ditangkap dalam demonstrasi itu.

Diketahui bahwa Kuba tengah dilanda krisis ekonomi terburuk. Kuba dinilai AS telah menyerang warga dan menangkap 100 demonstran.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi COVID-19

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi COVID-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya