Rusia Akan Pasok Senjata dan Pesawat Militer ke Myanmar

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 22 Jul 2021, 14:03 WIB
Diperbarui 22 Jul 2021, 14:03 WIB
Polisi tangkap pengunjuk rasa anti kudeta militer Myanmar
Perbesar
Polisi menangkap seorang pria saat pengunjuk rasa ikut serta dalam unjuk rasa menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, Sabtu (27/2/2021). Negara itu diguncang gelombang protes pro-demokrasi sejak kudeta militer Myanmar menggulingkan kekuasaan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari. (Ye Aung THU/AFP)

Liputan6.com, Moskow - Rusia akan memasok perangkat militer termasuk pesawat kepada Junta Militer Myanmar. Informasi ini diperoleh dari Alexander Mikheev, kepala pedagang senjata negara Rusia Rosoboronexport pada Rabu (21/7).

Aktivis HAM menuduh Moskow melegitimasi junta Myanmar, yang merebut kekuasaan dalam kudeta 1 Februari dengan melanjutkan kunjungan bilateral dan kesepakatan senjata, demikian dikutip dari Channel News Asia, Kamis (22/7/2021).

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan kepada pemimpin junta Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing selama kunjungannya ke ibukota Rusia bulan lalu bahwa Moskow berkomitmen untuk memperkuat hubungan militer.

Berbicara di sela-sela pertunjukan MAKS Air Show Rusia, yang dihadiri Presiden Vladimir Putin, Mikheev mengatakan Myanmar adalah salah satu pelanggan utama Rosoboronexport di Asia Tenggara.

Mikheev tidak memberikan rincian lebih lanjut apa lagi yang ada dalam kesepakatan kedua negara.

Hubungan pertahanan antara kedua negara telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Di mana, Moskow memberikan pelatihan tentara dan beasiswa kepada ribuan tentara Myanmar, serta menjual senjata ke militer yang masuk daftar hitam oleh beberapa negara Barat.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Rusia Dukung Rencana ASEAN Atasi Krisis di Myanmar

FOTO: Demonstran Myanmar Lakukan Aksi Mogok, Kota Yangon Sunyi Sepi
Perbesar
Suasana jalanan yang kosong di samping Pagoda Shwedagon, Yangon, Myanmar, Rabu (24/3/2021). Demonstran menyerukan "silent strike" sebagai protes terhadap kudeta militer di Myanmar. (AFPTV/AFP)

Sementara itu, Rusia menyampaikan dukungannya atas upaya diplomatik Asia Tenggara untuk mengakhiri krisis di Myanmar.

Negara itu pun juga menyampaikan pesan serupa kepada para pemimpin militer Myanmar.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov dalam kunjungannya ke Jakarta menyampaikan bahwa konsensus lima poin yang disepakati oleh blok Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) harus menjadi dasar di mana situasi di Myanmar dapat diselesaikan.

"Dalam kontak kami dengan para pemimpin Myanmar, para pemimpin militer, kami mempromosikan posisi ASEAN yang menurut pandangan kami harus dipertimbangkan sebagai dasar untuk menyelesaikan krisis ini dan mengembalikan situasi ke keadaan normal," kata Lavrov.

Lavrov juga akan mengadakan pembicaraan virtual dengan rekan-rekan ASEAN-nya selama kunjungan ke Jakarta, kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi.

Komentar Lavrov muncul di tengah keterlibatan yang semakin dalam antara Rusia dan militer Myanmar, ketika negara kekuatan dunia tersebut menjatuhkan sanksi kepada bisnis dan pemimpin Myanmar serta menyerukan larangan global atas penjualan senjata ke negara tersebut.

Diketahui bahwa Myanmar, sedang berada dalam krisis sejak terjadi kudeta militer yang menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi - memicu kemarahan nasional yang dengan cepat berubah menjadi protes dan pemogokan yang ditekan secara keras oleh pasukan keamanan.

Pertempuran antara tentara dan kelompok milisi di beberapa daerah di Myanmar juga telah membuat puluhan ribu orang mengungsi.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya