11 Keluarga WNI Terdampak Banjir Jerman

Oleh Tommy Kurnia pada 17 Jul 2021, 17:20 WIB
Diperbarui 17 Jul 2021, 17:31 WIB
Kondisi Jerman Usai Dilanda Banjir Parah
Perbesar
Rumah-rumah hancur terlihat di Schuld, Jerman, Kamis (15/7/2021). Banjir besar mengubah sungai dan jalan menjadi arus deras, menyapu mobil dan menyebabkan beberapa bangunan runtuh. .(AP Photo/Michael Probst)

Liputan6.com, Frankfurt - KJRI Frankfurt di Jerman memberikan informasi bahwa ada 11 keluarga WNI yang terdampak banjir besar di Jerman. Bantuan logistik segera disalurkan oleh konsuler. 

"Total terdapat 11 keluarga WNI terdampak banjir yang berada di Bad Neuenahr-Ahrweiler, Erftstadt (Köln) dan Bad Bidendorf (Sinzig). Saat ini kondisinya baik dan memiliki logistik yang cukup," ujar pernyataan resmi KJRI Frankfurt, Sabtu (17/7/2021).

KJRI Frankfurt berhasil menjalin komunikasi dengan 5 WNI yang sedang Ausbildung (magang) di Bad-Neuenahr. Kondisi mereka dalam keadaan selamat.

"KJRI Frankfurt pada pagi ini akan mengantarkan bantuan logistik bagi WNI di wilayah terdampak."

Lebih lanjut, KJRI juga memberikan update mengenai korban jiwa banjir di Jerman. Dilaporkan 133 orang meninggal dunia. Tidak ada laporan korban jiwa WNI per Sabtu pagi pukul 08.00 waktu setempat. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sejumlah Negara Dampak

Kondisi Jerman Usai Dilanda Banjir Parah
Perbesar
Air Sungai Ahr melewati rumah-rumah yang hancur akibat dilanda banjir di Schuld, Jerman, Kamis (15/7/2021). Banjir ini menyebabkan ribuan orang dievakuasi, dan memberi dampak besar ke wilayah Jerman yang berada di perbatasan Belgia, Prancis, Luxembourg, dan Belanda. (AP Photo/Michael Probst)

Sebelumnya dilaporkan, ratusan orang juga dilaporkan lainnya hilang menyusul banjir yang menyapu kawasan Eropa barat dan disebut sebagai yang terburuk dalam beberapa dekade.

Rekor curah hujan menyebabkan sungai meluap ke tepian, menghancurkan wilayah itu. 

Jerman mencatatkan angka korban tewas tertinggi, 100 orang. Selain itu, setidaknya 20 orang tewas di Belgia. Belanda, Luksemburg, dan Swiss.

Banyak faktor berkontribusi terhadap banjir, tetapi pemanasan global yang disebabkan oleh perubahan iklim membuat curah hujan ekstrem lebih mungkin terjadi.

Dunia telah menghangat sekitar 1,2C sejak era industri dimulai dan suhu akan terus meningkat kecuali pemerintah di seluruh dunia melakukan pemotongan emisi karbon.

Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo menyatakan 20 Juli sebagai hari berkabung nasional.

"Kami masih menunggu angka korban final, tetapi ini bisa menjadi bencana banjir terparah yang pernah dialami negara kami," katanya seperti dikutip dari BBC, Sabtu (17/7/2021).

Sekitar 15.000 polisi, tentara, dan pekerja layanan darurat telah dikerahkan di Jerman untuk membantu pencarian dan penyelamatan.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya