Melihat Sejarah Hubungan Dekat Orang Makassar dengan Suku Aborigin Via Tur Museum Virtual

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 15 Jul 2021, 12:57 WIB
Diperbarui 15 Jul 2021, 12:57 WIB
Seorang pria Aborigin yang didatangkan dari Australia Utara sebagai atraksi bersama binatang-binatang di kebun binatang keliling di Eropa dan Amerika. (Foto Kiriman: The Human Zoo)
Perbesar
Seorang pria Aborigin yang didatangkan dari Australia Utara sebagai atraksi bersama binatang-binatang di kebun binatang keliling di Eropa dan Amerika. (Foto Kiriman: The Human Zoo)

Liputan6.com, Jakarta - Kedutaan Besar Australia di Jakarta bersama dengan Konsulat Jenderal Australia Makassar akan menyelenggarakan tur virtual Museum Nasional Australia, Yidaki: Didjeridu and the Sound of Australia, yang dapat diakses secara publik sebagai bagian dari Pekan NAIDOC 2021.

Acara yang berlangsung secara virtual ini akan diselenggarakan pada hari ini, Kamis (15/7/2021) pukul 15.00 WIB.

Sebelum tur virtual dimulai, Margo Neale, Kepala Pusat Kuratorial Pengetahuan Adat, Museum Nasional Australia -- yang juga akan memimpin tur online ini -- menjelaskan sejumlah hal dalam sesi wawancara dengan media.

Margo Neale memaparkan kisah orang Yolŋu di timur laut Arnhem Land dan pemeliharaan instrumen Yidaki, serta sejarah orang Yolŋu dan hubungannya dengan para pelaut Sulawesi Selatan sejak tahun 1700-an yang menjadi cikal bakal awal hubungan Indonesia-Australia.

"Sudah ada hubungan yang terjalin penduduk di Arnhem Land dan orang Sulawesi Selatan. Setiap tahun ada semacam pembaruan hubungan serta transaksi," ujar Margo Neale, dalam sesi media interview pada Kamis (15/7/2021) siang.

"Sekitar 400 tahun yang lalu, orang aborigin juga tinggal di Sulawesi Selatan dan memiliki keluarga di sana. Hubungan kedua pihak juga selalu terjaga. Dalam 20-30 thun ini ada perayaan reuni dan semacam atensi kepada pertukaran hubungan yang dimulai 300-400 tahun lalu," tambahnya.

Margo Neale memaparkan apa hal yang melatarbelakangi hubungan orang Makasar dengan suku Aborigin di Australia bisa terjalin begitu panjang.

"Ada ritual dan perayaan serta penggunaan bahasa dari Sulawei Selatan yang erat hubungannya dengan orang Aborigin. Oleh karenanya, hubungan kedua pihak bisa berlangsung lama."

"Bahkan sampai area selatan Tasmania juga terjadi komunikasi."

Kecintaan Margo Neale pada budaya Aborigin dianggapnya sebagai bentuk tanggung jawab guna melestarikan dan menjaga penduduk asli Australia tersebut.

"Saya harus menjadi pelindung mereka. Dan mereka harus selalu dihargai," kata Margo Neale.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tema Pekan NAIDOC 2021

FOTO: Pribumi Australia Rayakan Hari Penduduk Asli Sedunia
Perbesar
Komunitas Aborigin berjalan bersama saat merayakan Hari Penduduk Asli Sedunia di Sydney, Australia, Kamis (9/8). Orang Aborigin merupakan penduduk asli negara Australia. (AP Photo/Rick Rycroft)

Profil pekan NAIDOC sudah begitu dikenal oleh warga Australia sendiri. Pasalnya, festival ini juga dikemas dalam beberapa aktivitas.

Seperti pesta dansa di berbagai lokasi. Juga ada kegiatan belajar untuk anak-anak, mengajarkan budaya seni dan lagu. Dan disambut dengan penuh semangat.

Untuk tema Pekan NAIDOC 2021 yaitu Healing County atau menyembuhkan negara. Orang Australia diajak mesti menyadari apa yang telah banyak terjadi.

"Kami memiliki kebakaran, bencana banjir, hingga COVID-19. Orang Aborigin yang tinggal ratusan tahun di Australia selalu merawat bumi," kata Margo Neale.

Margo Neale juga berharap ada banyak warga Australia yang belajar untuk menyembuhkan bumi dari apa yang telah dilakukan oleh orang Aborigin di masa lampau.

"Mereka tdiak merusak alam. Jadi mereka harus tinggal secara baik dengan alam dan tidak merusak apapun," jelasnya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya