AS Desak ASEAN Minta Tanggung Jawab Militer Myanmar Terkait Kudeta Aung San Suu Kyi

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 14 Jul 2021, 17:32 WIB
Diperbarui 14 Jul 2021, 17:32 WIB
FOTO: Demonstran Myanmar Lakukan Aksi Mogok, Kota Yangon Sunyi Sepi
Perbesar
Suasana jalanan yang kosong di samping Pagoda Shwedagon, Yangon, Myanmar, Rabu (24/3/2021). Demonstran menyerukan "silent strike" sebagai protes terhadap kudeta militer di Myanmar. (AFPTV/AFP)

Liputan6.com, Washington D.C - Amerika Serikat memiliki "keprihatinan mendalam" tentang situasi di Myanmar setelah kudeta militer yang terjadi Februari 2021, dan mendesak Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk mengambil tindakan. 

Hal itu disampaikan oleh Departemen Luar Negeri AS pada Selasa (13/7).

Myanmar berada dalam krisis dan ekonominya lumpuh sejak militer menggulingkan pemerintah Aung San Suu Kyi awal tahun ini, menuduhnya melakukan kecurangan selama pemilu 2020.

"Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyerukan agar ASEAN untuk mengambil tindakan bersama dalam mendesak diakhirinya kekerasan, pemulihan transisi demokrasi Burma, dan pembebasan semua yang ditahan secara tidak adil", kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Channel News Asia, Rabu (14/7/2021).

Selain mengungkapkan "keprihatinan mendalam" tentang Myanmar sebagai anggota ASEAN, Blinken juga mendorong blok tersebut untuk menerapkan rencana lima poinnya untuk negara itu yang telah disusun pada April 2020.

Blinken menyerukan ASEAN "untuk mengambil tindakan segera untuk meminta pertanggungjawaban rezim Burma kepada negara-negara anggota ASEAN. secara mufakat dan menunjuk utusan khusus", jelas Price.

Pada awal Juli 2021, AS memberlakukan sanksi baru terhadap 22 orang yang terkait dengan kudeta militer dan serangan berikutnya terhadap gerakan pro-demokrasi di Myanmar.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sekilas Soal Krisis Kudeta di Myanmar

Lautan Manusia di Yangon Protes Kudeta Myanmar
Perbesar
Seorang pengunjuk rasa memegang poster dengan gambar pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi (kanan) yang ditahan dan presiden Win Myint saat demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar pada Sabtu (6/2/2021). Ribuan orang turun ke jalan-jalan untuk melawan kudeta. (YE AUNG THU / AFP)

Pemimpin sipil Myanmar yang digulingkan, Aung San Suu Kyi saat ini berada di bawah tahanan rumah saat diadili atas sejumlah tuduhan yang bisa membuatnya dipenjara selama lebih dari satu dekade.

Demonstrasi massal menentang pengambilalihan itu, yang kemudian memicu kekerasan di seluruh negeri, yang juga menghadapi lonjakan infeksi COVID-19.

Lebih dari 900 warga sipil Myanmar telah tewas oleh junta militer, menurut kelompok pemantau lokal.

Militer telah membenarkan tindakannya sebagai sarana untuk melindungi demokrasi, menuduh kecurangan pemilu dalam pemilu pada November 2020 lalu, yang dimenangkan partai Aung San Suu Kyi dengan telak.

Myanmar telah diperintah hampir terus-menerus oleh militer sejak tahun 1962, hanya lebih dari satu dekade setelah kemerdekaan dari Inggris.

Ini muncul dari kekuasaan militer langsung pada tahun 2011, memberlakukan reformasi ekonomi dan politik, termasuk pemilihan multi-partai.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Penangkapan Aung San Suu Kyi dan Kudeta Militer Myanmar

Infografis Penangkapan Aung San Suu Kyi dan Kudeta Militer Myanmar. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Penangkapan Aung San Suu Kyi dan Kudeta Militer Myanmar. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya