Berkat Smartphone, Deforestasi di Amazon Berkurang

Oleh Liputan6.com pada 14 Jul 2021, 21:00 WIB
Diperbarui 14 Jul 2021, 21:00 WIB
Kerusakan Hutan Amazon Akibat Penambangan Ilegal
Perbesar
Pandangan udara kawasan Hutan Amazon yang terdeforestasi (penurunan luas area hutan secara kualitas dan kuantitas) di wilayah Sungai Madre de Dios, Peru, Jumat (17/5/2019). Pemerintah Peru mengerahkan tentara dan polisi untuk mengusir penambang ilegal di Hutan Amazon. (CRIS BOURONCLE/AFP)

Liputan6.com, Amazon - Menurut sebuah studi baru, teknologi dapat membantu masyarakat adat untuk secera signifikan mengekang proses deforestasi.

Dikutip dari BBC, Rabu (14/7/2021), masyarakat adat yang tinggal di Amazon Peru sekarang dilengkapi oleh data satelit dan smartphone oleh kelompok konservasi.

Berkat hal tersebut, mereka mampu mengurangi kehilangan pohon hingga setengahnya di tahun pertama proyek.

Pengurangan lebih besar terjadi pada masyarakat yang menghadapi ancaman dari penambahan emas ilegal, pembalakan, dan obat-obatan.

Lebih dari sepertiga hutan hujan Amazon berada dalam wilayah sekitar lebih dari tiga ribu komunitas adat yang diakui.

Tetapi, selama beberapa dekade, daerah-daerah tersebut telah diserang oleh pihak luar yang bertekad untuk menebang pohon untuk berbagai tujuan -- termasuk pertambangan, penebangan, dan penanaman tanaman terlarang seperti tanaman koka yang digunakan untuk memproduksi kokain.

Selama 40 tahun terakhir, pemerintah dan pemerhati lingkungan telah banyak berinvestasi dalam penggunaan teknologi satelit untuk memantau penebangan pohon.

Pemerintah di Brasil, Peru, dan Kolombia telah menerapkan sistem peringatan deforestasi resolusi tinggi, tetapi hanya ada sedikit bukti bahwa informasi ini menjangkau masyarakat adat yang paling terkena dampak.

Penelitian baru ini bertujuan untuk melihat apakah memberikan informasi langsung ke tangan yang dapat membuat perbedaan.

Dalam studi acak yang terkontrol ini, penulis mengidentifikasi 76 desa terpencil di Amazon Peru, dengan 36 secara acak ditugaskan untuk berpartisipasi dalam program pemantauan baru ini.

37 komunitas lainnya berperan sebagai kelompok kontrol dan melanjutkan praktik pengelolaan hutan yang ada.

Tiga anggota dari komunitas terpilih dilatih dalam penggunaan teknologi dan diperlihatkan bagaimana melakukan patroli untuk memverifikasi deforestasi.

Ketika informasi satelit menunjukkan dugaan akvitias deforestasi di suara daerah, foto dan koordinat GPS dimuat ke drive USB dan dibawa ke sungai Amazon yang dikirim oleh kurir.

Informasi tersebut kemudian diunduh ke aplikasi smartphone khusus yang akan memandu pemantai komunitas ke lokasi yang dicurigai.

Ketika patroli hutan mengkonfirmasi adanya deforestasi yang tidak sah, mereka akan melaporkan kembali ke majelis umum anggota masyarakat untuk memutuskan pendekatan yang terbaik.

Dalam kasus di mana pengedar narkoba terlibat, masyarakat dapat memutuskan untuk melaporkan masalah itu ke penegak hukum.

Jika kegiatan tersebut dianggap kurang berisiko, anggota masyarakat dapat turun tangan secara langsung dan mengusir para pelanggar dari tanah mereka.

Ketika para peneliti memeriksa dampak dari pendekatan baru, mereka menemukan bahwa deforestasi turun 52% di tahun pertama, dan 21% di tahun kedua.

"Ini dampak yang cukup besar," jelas Jacob Kopas, seorang peneliti independen dan penulis makalah tersebut.

"Kami melihat bukti hilangnya tutupan pohon yang lebih sedikit di komunitas program dibandingkan dengan komunitas kontrol."

"Rata-rata, komunitas-komunitas tersebut berhasil mencegah 8,8 hektar deforestasi dalam tahun pertama," tambahnya. "Namun komunitas yang paling terancam, yang memiliki lebih banyak deforestasi di masa lalu adalah yang lebih berbobot dan mengurangi deforestasi lebih banyak daripada yang lain."

Kelompok masyarakat adat menyambut baik penelitian tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah satu studi peer-review pertama yang menunjukkan manfaat pemberdayaan masyarakat lokal.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Angka yang Diperkirakan Terus Meningkat

Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi Hutan Amazon, Brasil. (dok. unsplash @splashabout)

Skala masalah deforestasi di wilayah adat cukup signifikan. Antara tahun 2000 dan 2015, sekitar 17% kehilangan pohon di Amazon terjadi di kawasan yang dilindungi secara nasional atau yang ditetapkan untuk masyarakat adat.

Angka tersebut juga diperkirakan akan meningkat di tahun-tahun mendatang.

"Selama dekade berikutnya, jika tidak ada perubahan, masyarakat adat di Lembah Amazon diproyeksikan kehilangan 4,4 juta hektar hutan hujan, sebagian besar karena orang luar yang melanggar batas wilayah mereka untuk menebang pohon," jelas Cameron Ellis, dari Rainforest Foundation US, yang telah membantu mencari kelancaran penelitian.

"Tetapi jika metodologi pemantauan hutan berbasis masyarakat dapat diadopsi secara luas dan tata kelola lokal diperkuat, hilangnya hutan di Amazon dapat dikurangi sebanyak 20% di seluruh tanah adat."

"Tetapi jika metodologi pemantauan hutan berbasis masyarakat dapat diadopsi secara luas dan tata kelola lokal diperkuat, hilangnya hutan di Amazon dapat dikurangi sebanyak 20% di seluruh tanah adat."

 

Reporter: Paquita Gadin

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Vaksin Covid-19 Berbayar Vs Vaksin Gratis

Infografis Vaksin Covid-19 Berbayar Vs Vaksin Gratis. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Vaksin Covid-19 Berbayar Vs Vaksin Gratis. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya