Korban Tewas Kecelakaan Pesawat Militer Filipina Bertambah Jadi 50 Orang

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 05 Jul 2021, 10:37 WIB
Diperbarui 05 Jul 2021, 10:39 WIB
Ilustrasi bendera Filipina (AFP/Noel Cells)
Perbesar
Ilustrasi bendera Filipina (AFP/Noel Cells)

Liputan6.com, Jolo - Jumlah korban tewas akibat kecelakaan pesawat militer yang jatuh di Filipina selatan bertambah menjadi 50 orang dan melukai 49 personel militer. Pesawat angkut Lockheed C-130 membawa 96 orang, sebagian besar tentara, ketika melewati landasan pacu di bandara Jolo di provinsi Sulu, Filipina,

Dikutip dari laman BBC, Senin (5/7/2021), para prajurit termasuk di antara bala bantuan yang dikirim untuk memerangi militan ekstreamis seperti kelompok Abu Sayyaf. Korban tewas sebagian besar adalah personel militer, tetapi tiga warga sipil yang di darat juga dilaporkan tewas, kata kementerian pertahanan.

Lima orang awalnya terdaftar sebagai orang hilang tetapi semua penumpang di dalamnya sekarang telah ditemukan.

Seorang juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina mengatakan kepada situs berita ABS-CBN bahwa mereka sedang mencari perekam data penerbangan untuk mencari tahu mengapa pesawat itu jatuh.

Mayor Jenderal Edgard Arevalo mengatakan, tidak ada tanda-tanda serangan terhadap pesawat tersebut.

Pesawat yang jatuh pada pukul 11.30 waktu setempat (03.30 GMT) beberapa kilometer dari kota Jolo, membawa pasukan dari Cagayan de Oro, di pulau selatan Mindanao, Filipina.

"Itu meleset dari landasan pacu, berusaha mendapatkan kembali kekuatan tetapi tidak berhasil," kata kepala angkatan bersenjata Jenderal Sobejana.

 

 
 
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Upaya Penyelamatan

Bendera Filipina.
Perbesar
Bendera Filipina. (iStockphoto)

Sebuah pernyataan dari pasukan militer regional, Satuan Tugas Gabungan Sulu, mengatakan "sejumlah tentara terlihat melompat keluar dari pesawat sebelum menyentuh tanah, menyelamatkan mereka dari ledakan yang disebabkan oleh kecelakaan itu".

Tidak ada rincian tentang bagaimana mereka berhasil keluar dari pesawat atau kondisi mereka.

Banyak dari mereka yang baru saja menyelesaikan pelatihan dasar militer, lapor AFP.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya