Australia Hadapi Lonjakan Pembatalan Vaksinasi COVID-19 AstraZeneca

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 22 Jun 2021, 17:32 WIB
Diperbarui 23 Jun 2021, 11:38 WIB
PM Australia Scott Morrison disuntik vaksin COVID-19 pertamanya, menandai awal dari program vaksinasi di negeri kanguru (AFP PHOTO)
Perbesar
PM Australia Scott Morrison disuntik vaksin COVID-19 pertamanya, menandai awal dari program vaksinasi di negeri kanguru (AFP PHOTO)

Liputan6.com, Jakarta - Dokter di Australia telah melaporkan lonjakan jumlah orang yang membatalkan janji vaksin COVID-19 mereka, di tengah gelombang kewaspadaan baru atas vaksin AstraZeneca. Hal itu terjadi setelah pemerintah memperbarui panduan untuk merekomendasikan hanya mereka yang berusia di atas 60 yang mendapatkan vaksin karena risiko sindrom pembekuan darah yang langka.

Seperti dilansir BBC, Selasa (22/6/2021), bagi warga berusia di bawah 60-an disarankan untuk mendapatkan vaksin Pfizer sebagai alternatif, yang persediaannya terbatas.

Sementara, vaksin AstraZeneca adalah jenis vaksin yang paling banyak digunakan di dunia, penolakan ini akan tampak luar biasa bagi negara-negara lain yang masih berjuang melawan COVID-19 yang merajalela. Akan tetapi, Australia adalah salah satu dari sedikit negara di mana virus itu tidak pernah mewabah hingga parah.

Jadi bagi banyak penduduk setempat, bahkan di tengah wabah baru di Sydney dan Melbourne, risiko tertular COVID-19 dipandang lebih rendah daripada mengembangkan kasus pembekuan darah yang langka.

 
 
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Ragu Terhadap Vaksin

FOTO: 6 Jenis Vaksin COVID-19 yang Ditetapkan Pemerintah Indonesia
Perbesar
Gambar ilustrasi menunjukkan botol berstiker "Vaksin COVID-19" dan jarum suntik dengan logo perusahaan farmasi AstraZeneca, London, Inggris, 17 November 2020. Vaksin buatan AstraZeneca yang bekerja sama dengan Universitas Oxford ini disebut 70 persen ampuh melawan COVID-19. (JUSTIN TALLIS/AFP)

Keraguan terhadap vaksin telah menjadi masalah di Australia selama berbulan-bulan. Para ahli sekarang khawatir penurunan peringkat terbaru pemerintah telah menghambat kemajuan vaksinasi nasional. 

"Di seluruh negeri orang membatalkan janji atau bertanya apakah mereka harus mendapatkan dosis kedua," kata Dr Karen Price, Presiden Royal Australian College of General Practitioners.

"Ini jelas menjadi penghalang besar pada peluncuran vaksin," katanya kepada BBC.

"Kita harus berkumpul kembali dan mendapatkan kembali kepercayaan di dalamnya, karena sangat penting untuk menjaganya agar program vaksinasi tetap berjalan. Kami masih memiliki orang tua yang tidak divaksinasi dan kami melihat penularan komunitas lagi," lanjutnya lagi.

Program vaksin di Australia dimulai sejak Februari 2021, dan saat ini terbuka untuk semua usia di atas 40 tahun. Namun, sejauh ini hanya 3% orang dewasa yang telah divaksinasi, sementara hampir 25% telah menerima suntikan pertama.

Angka ini relatif jauh di belakang banyak negara Barat lainnya. Sebagian karena keraguan vaksin warga, tetapi juga karena salah langkah pemerintah dalam mengamankan pasokan. 

Hingga April 2021, pemerintah mengandalkan AstraZeneca sebagai suntikan utama vaksin nasional. Bahkan, laboratorium lokal pun didirikan untuk menghasilkan produksinya.

Tetapi ketika laporan muncul tentang sindrom trombosis dan trombositopenia, kejadian pembekuan darah langka yang terkait dengan vaksin, pemerintah menyarankan orang di bawah 50 tahun untuk mengambil vaksin yang berbeda. Tangkapannya adalah bahwa Australia hanya memiliki satu vaksin lain, yaitu suntikan Pfizer, dalam jumlah yang jauh lebih kecil. 

Pemerintah telah berjanji akan ada cukup pasokan Pfizer atau vaksin lain, seperti Moderna dan Novovax, pada kuartal terakhir 2021.

 
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓