Hacker Korea Utara Berusaha Meretas Institut Penelitian Nuklir Korea Selatan

Oleh Liputan6.com pada 20 Jun 2021, 19:35 WIB
Diperbarui 20 Jun 2021, 19:35 WIB
Sensasi Berkemah dengan Jaga Jarak di Atas Gedung Pencakar Langit
Perbesar
Pemandangan malam ibu kota Korea Selatan, Seoul dengan Sungai Han terlihat di Seoul, Korea Selatan (7/8/2020). (AP Photo/Lee Jin-man)

Liputan6.com, Seoul - Sebuah kelompok peretas Korea Utara diduga masuk ke pusat think-tank penelitian nuklir Korea Selatan bulan lalu, menandakan penyerangan ini sebagai yang terbaru dalam serangkaian upaya serangan siber. Pernyataan ini disampaikan oleh seorang anggota parlemen Korea Selatan dalam konferensi pers Jumat (18/6/2021).

Menurut Ha Tae-keung, anggota komite intelijen parlemen, Institut Penelitian Energi Atom Korea melihat akses pengguna tak dikenal, menembus sistem VPN pada 14 Mei. Lembaga think tank memblokir alamat IP penyerang dan meningkatkan keamanan sistemnya sebagai tindakan balasan ketika ditemukan pada 31 Mei.

Pihak berwenang masih menyelidiki skala peretasan, menurut KAERI.

KAERI sendiri merupakan lembaga penelitian nasional yang memainkan peran penting dalam membangun pembangkit listrik tenaga nuklir Korea Selatan, mentransfer teknologi nuklir ke industri lokal untuk aplikasi praktis.

Melansir MSN pada Minggu (20/6/2021), perusahaan keamanan siber yang berbasis di Seoul, IssueMakersLab, menjalankan analisis pada alamat IP penyerang pada Kamis (17/6/2021) dan menemukan bahwa salah satu dari tiga alamat ditelusuri kembali ke kelompok [peretas](peretas "") terkenal Kimsuky, yang dikenal karena afiliasinya dengan agen mata-mata Biro Umum Pengintaian Korea Utara.

Pernah Menargetkan Pengembang Vaksin COVID-19 Korea Selatan

Ilustrasi komputer dan peretasan
Perbesar
Ilustrasi (AFP)

Analisis mengidentifikasi bahwa itu adalah alamat yang sama yang menargetkan pengembang vaksin COVID-19 di Korea Selatan tahun lalu.

"Kimsuky adalah kelompok peretasan yang diidentifikasi pada tahun 2011. Kami telah mengamati upaya peretasan mereka yang konsisten terhadap lembaga terkait pemerintah Korea Selatan dan beberapa perusahaan," Simon Choi, kepala IssueMakersLab, mengatakan.

Analis di Korea Selatan dengan hati-hati berspekulasi bahwa peretasan itu mungkin ada hubungannya dengan visi pemimpin Korea Utara untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Sebelumnya, pada tahun 2014, Kimsuky berhasil melakukan serangan hacking terhadap Korea Hydro & Nuclear Power Co. Ltd Korea Selatan.

"Masuk akal untuk berpikir bahwa Korea Utara mungkin terlibat dalam meretas think tank nuklir, mengingat situasi kekurangan tenaga listrik dan minat yang kuat pada kemandirian energi," Park Jiyoung, seorang ahli fisika nuklir di Asan Institute di Seoul.

Pakar pertahanan siber Lim Jong-in di Sekolah Pascasarjana Teknologi Informasi Korea Selatan juga melihat cukup alasan bagi Korea Utara untuk diam-diam menjangkau data pembangkit listrik tenaga nuklir yang dikumpulkan oleh think tank Korea Selatan.

"Korea Utara mungkin memiliki berbagai data dan teknologi dalam mengembangkan senjata nuklir, tetapi sangat lemah pada pembangkit listrik energi," kata Lim. "KAERI memiliki data tentang reaktor modular kecil serta pembangkit listrik tenaga nuklir lainnya yang akan sangat diminati oleh Korea Utara yang kekurangan energi."

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah menyebutkan rencana negara komunis untuk mengembangkan kemampuan pembangkit listrik tenaga nuklir dalam pidatonya pada tahun 2019. Intelijen internasional telah memantau pengembangan senjata nuklir negara itu menggunakan plutonium dari bahan bakar reaktor bekas.

 

Reporter: Lianna Leticia

Lanjutkan Membaca ↓