Fosil Badak Purba Lebih Tinggi dari Jerapah Ditemukan di China

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 18 Jun 2021, 13:05 WIB
Diperbarui 18 Jun 2021, 13:05 WIB
Badak Putih
Perbesar
Emma, badak putih betina berusia lima tahun, berdiri di Kebun Binatang Tobu, prefektur Saitama, pinggiran Tokyo pada 11 Juni 2021. Menurut rencana, badak itu seharusnya sudah pergi sejak bulan Maret, tetapi rencananya digagalkan oleh pandemi Virus Corona COVID-19. (Philip FONG / AFP)

Liputan6.com, Lanzhou - Spesies baru badak raksasa purba -- salah satu mamalia terbesar yang berjalan di darat -- telah ditemukan dalam bentuk fosil di barat laut China, kata para peneliti.

Paraceratherium linxiaense, yang hidup sekitar 26,5 juta tahun yang lalu, memiliki berat 21 ton, setara dengan empat gajah Afrika besar, demikian dikutip dari laman BBC, Jumat (18/6/2021).

Kepala makhluk tak bertanduk itu juga bisa mencapai 23 kaki (7 meter) untuk merumput di puncak pohon, membuatnya lebih tinggi dari jerapah.

Temuan baru ini disimpulkan dari fosil yang ditemukan di Provinsi Gansu.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Communications Biology pada Kamis (17/6), para ilmuwan mengatakan bahwa analisis fosil badak ini ditemukan di dekat desa Wangjiachuan pada tahun 2015.

Temuan ini menunjuk bahwa ini adalah spesies baru yang berbeda dengan badak raksasa lainnya yang pernah diketahui.

Tengkorak dan tulang rahang badak purba ini benar-benar terpelihara. Misalnya, fosil ini menunjukkan bahwa hewan itu memiliki tengkorak yang ramping, serta batang hidung yang dapat memegang mirip dengan tapir modern, menurut penelitian yang dipimpin oleh Dr Deng Tao dari Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi di Beijing.

 

Hipotesis Ilmuwan

Badak Putih
Perbesar
Foto selebaran pada 9 Juni 2021 menunjukkan Emma, badak putih betina berusia lima tahun, di Kebun Binatang Tobu sehari setelah tiba dari Taiwan untuk berkembang biak. Emma tinggal di kebun binatang sebagai bagian dari upaya meningkatkan jumlah badak putih penangkaran di Asia. (HO/AFP/TOBU ZOO)

Tim ilmuwan juga menemukan bahwa spesies baru itu terkait erat dengan badak raksasa yang pernah hidup di Pakistan, yang menunjukkan bahwa ia telah melakukan perjalanan melintasi Asia Tengah.

Jika ia berkeliaran bebas antara China barat laut dan India-Pakistan, itu akan menunjukkan bahwa Dataran Tinggi Tibet kemungkinan akan memiliki fosil serupa.

"Kondisi tropis memungkinkan badak raksasa untuk kembali ke utara ke Asia Tengah, menyiratkan bahwa wilayah Tibet masih belum diangkat sebagai dataran tinggi," kata Prof Deng dalam pernyataan tertulisnya.

Lanjutkan Membaca ↓