11 Ribu Siswa Wuhan Diwisuda, Seakan-akan COVID-19 Tak Pernah Ada

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 17 Jun 2021, 11:52 WIB
Diperbarui 17 Jun 2021, 12:18 WIB
Para siswa di Wuhan muncul secara massal dengan jubah dan papan mortir untuk upacara kelulusan di Central China Normal University dan tentunya tanpa masker (AFP)
Perbesar
Para siswa di Wuhan muncul secara massal dengan jubah dan papan mortir untuk upacara kelulusan di Central China Normal University dan tentunya tanpa masker (AFP)

Liputan6.com, Wuhan - Bagi beberapa ribu mahasiswa di Wuhan, China, COVID-19 seolah-olah tidak pernah terjadi.

Pasalnya, para siswa muncul secara massal dengan jubah dan papan mortir untuk upacara kelulusan di Central China Normal University pada Minggu (13/6).

Terlebih lagi, kerumunan siswa ini tidak mengenakan masker atau menjaga jarak, demikian dikutip dari laman Insider, Kamis (17/6/2021).

Sangat kontras dari penguncian COVID-19 yang intens di Jepang dan mandat masker yang masih berlaku di beberapa negara Asia seperti Singapura.

Menurut outlet berita lokal Hubei News, upacara diadakan di sebuah stadion di dalam kampus universitas dan dihadiri oleh lebih dari 11.000 mahasiswa Wuhan.

Outlet itu menulis bahwa lebih dari 3.000 orang tua diberikan kursi untuk menyaksikan anak-anak mereka saat lulus, sehingga jumlah total orang di stadion di atas 14.000.

Siswa angkatan 2020 Wuhan membuat postingan di Weibo (Twitter versi China) untuk merayakan acara tersebut.

Seorang siswa dengan ID Panghuhudewangwangya menulis: "Saya kembali ke sekolah, memenuhi penyesalan karena tidak dapat lulus tahun lalu."

Siswa lain menulis: "Terima kasih kepada sekolah saya karena memberi kami upacara kelulusan."

 

Episentrum COVID-19

Potret Siswa di China Jelang Ikuti Ujiaan Gaokao
Perbesar
Orang tua menunggu di luar sekolah ketika siswa tiba untuk mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Nasional (NCEE), yang dikenal sebagai Gaokao, di Wuhan, di provinsi Hubei tengah China (7/6/2021). (AFP/STR)

Upacara wisuda massal ini berlangsung di tempat yang pada awal tahun 2020 merupakan episentrum global pertama dari pandemi virus corona.

Virus ini pertama kali terdeteksi di kota di provinsi Hubei pada akhir 2019, dan 11 juta penduduknya akhirnya dipaksa melakukan penguncian ketat selama 76 hari.

Pada bulan-bulan setelah penguncian, Wuhan bangkit kembali dan mulai mengadakan acara publik berskala besar pada Agustus 2020 -- beberapa bulan sebelum negara-negara lain yang terkena dampak membuat langkah serupa.

Pihak berwenang China mengatakan, COVID-19 kurang lebih terkendali di negara itu.

Hanya 21 infeksi virus corona yang tercatat pada Selasa (15/6), yang semuanya digambarkan sebagai kasus impor.

Pembatasan terbaru negara itu terjadi setelah dua kasus lokal dilaporkan Senin (14/6) di provinsi selatan Guangdong, yang memicu pembatasan perjalanan yang ketat, pengujian massal, dan dorongan vaksinasi yang hiruk pikuk.

Pada April 2021, wabah COVID-19 skala kecil di provinsi Yunnan barat daya juga ditanggapi dengan langkah-langkah pengujian massal yang agresif dan penguncian langsung di seluruh kota selama 72 jam.

China telah berhasil meminimalkan kasus komunitas yang ditularkan secara lokal dengan menempatkan semua pelancong ke negara itu di bawah prosedur karantina "14+7" hari yang ketat, di mana seseorang harus menghabiskan 14 hari di fasilitas dan satu minggu lagi mandiri -- karantina di rumah.

Lanjutkan Membaca ↓