Joe Biden Bertemu Putin di Jenewa, Bahas Nuklir Hingga Hubungan AS-Rusia

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 17 Jun 2021, 07:30 WIB
Diperbarui 17 Jun 2021, 08:41 WIB
Foto yang diambil pada 10 Maret 2011 antara Joe Biden yang waktu itu menjabat sebagai Wapres AS dan Vladimir Putin sebagai Presiden Rusia.
Perbesar
Foto yang diambil pada 10 Maret 2011 antara Joe Biden yang waktu itu menjabat sebagai Wapres AS dan Vladimir Putin sebagai Presiden Rusia. (AP Photo/Alexander Zemlianichenko, File)

Liputan6.com, Jenewa -  Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin memuji pembicaraan mereka di Jenewa tetapi hanya membuat sedikit kemajuan nyata pada pertemuan pertama sejak 2018.

Ketidaksepakatan dinyatakan, kata Biden, tetapi tidak dengan cara yang hiperbolik, dan dia mengatakan bahwa Rusia tidak menginginkan Perang Dingin yang baru, seperti dilansir dari BBC, Kamis (17/6/2021).

Sementara itu, Putin mengatakan Biden adalah seorang negarawan berpengalaman dan keduanya "berbicara dalam bahasa yang sama".

Pembicaraan itu berlangsung sekitar tiga jam, lebih singkat dari yang dijadwalkan.

Namun, Biden menyampaikan, bahwa ia dan Putin tidak perlu menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbicara dan sekarang ada prospek nyata untuk meningkatkan hubungan dengan Rusia.

Biden dan Putin juga sepakat untuk memulai dialog tentang pengendalian senjata nuklir.

Mereka juga mengatakan akan mengembalikan duta besar ke ibu kota masing-masing - utusan itu ditarik untuk konsultasi pada Maret 2021, setelah AS menuduh keterlibatan Rusia dalam pilpres 2020.

Sebagai hadiah untuk Putin, Biden membawakan kacamata hitam penerbang yang dibuat khusus, model yang digemari oleh presiden AS tersebut. Sementara itu, tidak diketahui secara jelas apakah Putin juga memberikan Biden hadiah.

Pada 2018, Putin memberikan mantan Presiden AS Donald Trump bola sepak setelah pertemuan di Helsinki, Finlandia.

Di sisi lain, hanya ada sedikit tanda kesepakatan tentang isu-isu lain, termasuk keamanan siber, Ukraina dan nasib pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny, yang saat ini menjalani hukuman dua setengah tahun.

Biden menyebut akan ada "konsekuensi yang besar" bagi Rusia jika Navalny meninggal di penjara.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Biden-Putin Akui Hubungan AS-Rusia Berada di Titik Terendah

Presiden Rusia Vladimir Putin
Perbesar
Presiden Rusia Vladimir Putin (Mikhail Klimentyev/Pool Photo via AP)

Sebelum pertemuan itu, Biden dan Putin juga mengatakan bahwa hubungan AS-Rusia berada di titik terendah.

Putin mengisyaratkan kemungkinan kesepakatan tentang pertukaran tahanan, dengan mengatakan dia meyakini kompromi dapat dicapai.

Mengenai serangan dunia maya, Putin menepis tuduhan tanggung jawab Rusia, dengan mengatakan bahwa sebagian besar serangan dunia maya di Rusia berasal dari AS.

Biden mengatakan dia memberi tahu Putin bahwa infrastruktur penting, seperti air atau energi, harus "dilarang" untuk peretasan atau serangan lainnya.

"Saya menatapnya dan berkata bagaimana perasaan Anda jika ransomware mengambil jalur pipa dari ladang minyak Anda? Dia mengatakan itu penting," kata Biden. Ditambahkannya bahwa, jika Rusia melanggar "norma dasar" ini, AS akan menanggapi.

Biden dan Putin memiliki perbebedaan soal isu hak asasi manusia, termasuk hak untuk protes.

Putin mengesampingkan kekhawatiran AS tentang Navalny, yang baru-baru ini melakukan mogok makan selama 24 hari.

Putin menyebutkan bahwa Navalny telah mengabaikan hukum dan sudah mengetahui akan menghadapi hukuman penjara ketika dia kembali ke Rusia setelah menjalani perawatan medis di Jerman.

Diketahui, Navalny menuding dirinya diracun dengan racun saraf atas perintah Putin - tuduhan yang dibantah Putin.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pertemuan Biden dengan Pers di Jenewa

Joe Biden tiba di Inggris untuk menghadiri KTT G7, dan menjadi perjalanan luar negeri pertamanya sejak menjabat sebagai presiden AS.
Perbesar
Joe Biden tiba di Inggris untuk menghadiri KTT G7, dan menjadi perjalanan luar negeri pertamanya sejak menjabat sebagai presiden AS. (Foto: AP)

Ketika ditanya tentang alasan Rusia ingin bekerja sama dengan AS, Biden mengatakan hal itu berada "di tempat yang sangat, sangat sulit sekarang".

"Mereka ditekan oleh China. Mereka sangat ingin tetap menjadi kekuatan utama," sebut Biden, sesaat sebelum meninggalkan Jenewa.

Pada satu momen selama konferensi persnya, Biden dilaporkan tampak mengangguk saat menanggapi seorang reporter yang bertanya apakah dia mempercayai Putin.

Tetapi Gedung Putih menanggapi di Twitter dengan segera setelah Biden dilaporkan "sangat jelas tidak menanggapi satu pertanyaan, tetapi mengangguk sebagai pengakuan kepada pers secara umum".

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker

Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker
Perbesar
Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓