Kisah Ieyasu Tokugawa dan Hideyoshi Toyotomi yang Bikin Prabowo Mau Jadi Menteri Jokowi

Oleh Tommy Kurnia pada 16 Jun 2021, 20:55 WIB
Diperbarui 16 Jun 2021, 20:55 WIB
Prabowo Subianto di acara Deddy Corbuzier podcast dan Presiden Jokowi.
Perbesar
Prabowo Subianto di acara Deddy Corbuzier podcast dan Presiden Jokowi. Dok: Youtube Deddy Corbuzier dan Biro Pers Sekretariat Presiden

Liputan6.com, Jakarta - Hadirnya Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke acara podcast Deddy Corbuzier menarik perhatian netizen di seluruh Indonesia. Wawancara itu sudah ditonton hingga 8,8 juta kali sejak disiarkan pada Minggu, 13 Juni 2021.

Deddy Corbuzier menanyakan sejumlah isu hangat kepada Prabowo, seperti tentang anggaran pembelian alutsista dan pilpres 2024. Pada awal wawancara, Deddy juga bertanya kepada Prabowo mengenai alasannya bergabung ke kubu Presiden Joko Widodo.

Prabowo mengaku bergabung ke kubu Jokowi karena terinspirasi tokoh-tokoh besar sejarah. Salah satunya adalah bergabungnya Hideyoshi Toyotomi dan Ieyasu Tokugawa di era Sengoku, Jepang.

"Ada dua panglima sangat kuat: Hideyoshi Toyotomi dan yang satu Tokugawa Ieyasu. Ini dua-duanya hebat, dua-duanya kuat. Suatu saat mereka hampir perang. Mau berhadapan. Hideyoshi bilang: oke, saya mau berunding dulu sama lawannya itu, Ieyasu," jelas Prabowo.

Prabowo bercerita, Hideyoshi berkata pada Ieyasu bahwa kedua pihak sama-sama punya pasukan kuat. Apabila bentrok, maka akan banyak korban dari kedua pihak.

"Kalaupun saya menang, anak buah saya banyak yang akan mati. Kalau kau menang, anak buahmu juga banyak mati dan luka. Artinya, besok malam orang tua Jepang, banyak ibu dan bapak Jepang kehilangan anaknya. Akan nangis. Saya tahu anda cinta Jepang, saya juga begitu. Kita mau mempersatukan Jepang dan ingin membikin Jepang kuat. Untuk apa kita perang?"

"Si Ieyasu bilang: 'Setelah saya berpikir anda bener. Untuk apa kita perang? Lebih baik kita bersatu.' Nah bagi saya itu sangat besar pelajarannya," ujar Prabowo.

Sejarah mencatat bahwa Hideyoshi Toyotomi dan Ieyasu Tokugawa memang bersatu pada 1585. Tokugawa lantas menjadi anak buah Toyotomi.

Namun, sejarah tidak berhenti di tahun itu. Sejarah menyaksikan ketika masa kekuasaan Hideyoshi Toyotomi berakhir, Ieyasu Tokugawa langsung melakukan manuver politik.

Akibatnya, pecah Pertempuran Sekigahara yang mengakibatkan puluhan ribu orang tewas. Loyalis Hideyoshi Toyotomi terpecah dan direbut kekuasaannnya.

Berikut kisahnya antara Toyotomi dan Tokugawa.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Wong Cilik dan Anak Bangsawan

Ilustrasi bendera Jepang (AFP/Toru Yamanaka)
Perbesar
Ilustrasi bendera Jepang (AFP/Toru Yamanaka)

Latar belakang antara Hideyoshi dan Ieyasu sangatlah berbeda. Menurut situs Japan Society, Hideyoshi merupakan anak dari samurai kelas bawah. Ia memulai karier sebagai petugas di pasukan Nobunaga Oda.

Perlahan-lahan, Hideyoshi menunjukan prestasi lewat kinerja dan kesetiannya kepada Nobunaga. Anak wong cilik pun berhasil menjadi orang kepercayaan Nobunaga Oda.

Kisah Ieyasu Tokugawa sangat berbeda. Ia merupakan anak daimyo dari provinsi Mikawa, yakni klan Matsudaira. Keluarganya menguasai lahan yang subur. Masa kecil Ieyasu tidaklah terlalu indah, sebab ayahnya meninggal saat ia masih kecil. Ieyasu bahkan sempat dijadikan sandera politik. 

Ketika mulai dewasa, Ieyasu beraliansi dengan Nobunaga Oda yang memimpin provinsi Owari. Lokasi Owari bersebelahan dengan Mikawa. Hubungan klan Oda dan keluarga Ieyasu juga sudah terjalin lama. 

Keberhasilan Nobunaga Oda dalam menyatukan wilayah Jepang tengah di zaman Sengoku turut menambah pengaruh Hideyoshi dan Ieyasu. Nobunaga Oda menjadi pemimpin yang paling disegani di Jepang saat itu. 

Nobunaga Oda adalah yang tertua di antara Hideyoshi dan Ieyasu. Nobunaga lahir pada 1534, Hideyoshi lahir sekitar 1536/1537, dan Ieyasu pada 1543. 

Segalanya berubah pada Juni 1582 ketika Nobunaga Oda sedang bermalam di Kuil Honnoji di Kyoto. Malam itu, ia dikhianati oleh pemberontakan salah satu jenderalnya: Mitsuhide Akechi. Pasukan Oda sedang tak siap serta kalah jumlah, dan akhirnya Nobunaga Oda memilih melakukan seppuku di tengah kuil yang terbakar.

Kematian Nobunaga lantas meninggalkan dua tokoh dengan kekuatan signifikan di Jepang: Hideyoshi Toyotomi dan Ieyasu Tokugawa.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Deklarasi Perang

Matsumoto Castle
Perbesar
Pemerintah Jepang menyematkan Kastil Matsumoto sebagai aset penting negara karena orisnalitas dan bukti-bukti sejarah yang masih tersimpan di kastil tersebut (Andry Haryanto/Liputan6.com)

Setelah kematian Nobunaga Oda, pasukan Mitsuhide Akechi berhasil dihancurkan oleh Hideyoshi Toyotomi. Tak lama kemudian, Hideyoshi sempat bentrok dengan Ieyasu Tokugawa di Komaki-Nagakute, namun Ieyasu akhirnya bergabung dengan Hideyoshi di tahun 1585.

Kekuasaan Hideyoshi sangatlah kuat. Ia berhasil melanjutkan upaya menyatukan Jepang dengan menaklukan Pulau Kyushu, Pulau Shikoku, menembus kastil Odawara yang legendaris milik klan Hojo, bahkan melancarkan invasi ke Joseon di tahun 1590-an.

Hideyoshi Toyotomi tutup usia pada 1598 ketika anaknya, Hideyori, masih kecil. Sebelum meninggal, ia mendirikan Dewan Lima Tetua (Go-Tairō) yang bertugas menjaga stabilitas hingga Hideyori dewasa. Salah satu dari lima orang itu adalah Ieyasu Tokugawa.

Namun, Ieyasu malah melakukan manuver politik. Ia cekcok dengan Mitsunari Ishida, orang kepercayaan Hideyoshi, selain itu kubu Toyotomi juga pecah. Beberapa jendral-jendral top Toyotomi malah bergabung ke Ieyasu Tokugawa. 

Situs Central Japan menyebut manuver-manuver Ieyasu membuat emosi para tokoh-tokoh lain. Mitsunari Ishida lantas merespons dengan mengumpulkan kekuatan untuk membela klan Toyotomi. Tiga anggota Go-Tairō juga menentang Ieyasu (satu lainnya, Toshiie Maeda, sudah meninggal).

Britannica menyebut Mitsunari dan koalisinya secara formal mengecam manuer Ieyasu, dan pihak Ieyasu membalas dengan deklarasi perang.

Belum sampai dua tahun setelah kematian Hideyoshi Toyotomi, manuver Ieyasu Tokugawa berujung padaPerang Sekigahara yang merenggut banyak korban jiwa.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Akhir dari Toyotomi

Ilustrasi Meninggal Dunia
Perbesar
Ilustrasi Meninggal Dunia (Photo by Walmeart Brandt on Unsplash)

Puluhan ribu pasukan tiba di lembah Sekigahara yang berkabut pada 21 Oktober 1600. Pertempuran Sekigahara terbilang unik, karena Jepang terpecah menjadi pasukan timur dan pasukan barat. 

Ieyasu memimpin pasukan timur yang terdiri atas klan dari timur Jepang, sementara Mitsunari memimpin pasukan barat.

Pasukan Barat didukung Dewan Lima Tetua: Terumoto Mori, Hideie Ukita, dan Kagekatsu Uesugi. Ada pula Yoshihiro Shimizu dari Pulau Kyushu dan Morichika Chosokabe dari Pulau Shukaku. Yukimura Sanada juga berada di kubu barat.

Pasukan Timur didukung Tadakatsu Honda, Masamune Date, serta mantan jenderal-jenderal Toyotomi yang pindah kubu seperti Masanori Fukushima, Kiyomasa Kato, Takatora Todo, dan Yoshiaki Kato.

Menurut situs Central Japan, lama setelah Perang Sekigahara, ada pakar militer Prusia bernama Clemens Meckel yang melihat formasi perang Sekigahara, dan menyebut klan barat pastilah menang karena posisinya strategis. Namun, takdir berkata lain.

Sebelum perang, kubu Tokugawa ternyata sudah melancarkan lobi-lobi kepada salah satu pemimpin pasukan Mitsunari: Hideaki Kobayakawa. Dan di tengah pertempuran, Hideaki memutuskan berkhianat bersama 15 ribu pasukannya.

Pengkhianatan itu membuka jalan kemenangan bagi Tokugawa. Pasukan barat hancur, Mitsunari Ishida dihukum mati, para loyalis Toyotomi direbut tanah kekuasaannya untuk diberikan ke loyalis Tokugawa, dan kekuasaan klan Toyotomi berakhir, meski Hideyori selamat.

Pada akhirnya, lebih dari 10 ribu orang diperkirakan orang Jepang tewas akibat Perang Sekigahara yang Ieyasu Tokugawa melawan klan Toyotomi. Situs It's Japan Time bahkan menyebut korban tewas mencapai 30 ribu.

Ieyasu Tokugawa pun berhasil mengkonsolidasikan kekuasannya selama 260 tahun. Era itu disebut Keshogunan Tokugawa.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓