Pandemi COVID-19 Ciptakan Transformasi Digital Pendidikan

Oleh Liputan6.com pada 17 Jun 2021, 07:04 WIB
Diperbarui 17 Jun 2021, 07:04 WIB
Sekolah Online
Perbesar
Ilustrasi Belajar Secara Online Credit: pexels.com/pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 membuka peluang baru dalam pengajaran dan pembelajaran yang sudah terbukti di banyak negara.

Dalam pameran virtual, pada Selasa (15/6/2021), dengan menggunakan contoh terbaru dari sekolah-sekolah di Selandia Baru, teknologi diposisikan sebagai bagian dari respon yang lebih terintegrasi, bukan hanya respon untuk menangani krisis.

Pameran ini dibawa langsungsung oleh Dosen Senior Universitas Teknologi Auckland (AUT) sekaligus Pemimpin Kepemimpinan Pendidikan Internasional, Howard Youngs.

Karantina selama masa pandemi membuka peluang baru dalam mengajar dan belajar, begitu pula dengan meningkatnya isu kesetaraan dan hambatan dalam belajar.

Namun terkadang, dengan menggunakan teknologi digital kita tidak dapat menangani sejumlah isu kesetaraan dan hambatan dalam belajar, terutama bila siswa tidak dapat menggunakan teknologi digital. Hal ini kerap dirasakan hampir di semua negara.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kunci Pendidikan Selandia Baru

Ilustrasi bekerja di bidang kreatif di pandemi Covid-19/dok.  Unsplash Neven
Perbesar
Ilustrasi bekerja di bidang kreatif di pandemi Covid-19/dok. Unsplash Neven

Di Selandia Baru, alih-alih menggunakan teknologi digital, mereka merespon pandemi COVID-19 dengan Pengajaran Tangga Darurat (ERT).

Salah satu aspek kunci bagi para pemimpin pendidikan adalah mencoba menemukan harmoni di antara keduanya, dimana para guru lebih mendahulukan kepedulian bagi para siswa mereka sebelum menekan pada pembelajaran. Memiliki pendekatan yang terintegrasi dan kepedulian telah menjadi kunci pendidikan Selandia Baru.

Pendekatan tersebut harus menekan pada kesejahteraan masyarakat, dalam keterlibatan dengan para siswa dan keluarga mereka dengan masyarakat setempat, dan para guru menjadi lebih luwes - tidak hanya memiliki pendekatan satu untuk semua, namun untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran.

"Sebagian siswa kesulitan mengakses perangkat digital dan juga area kerja yang kondusif di rumah. Maka, di sini menjadi penting untuk tidak semata mengandalkan teknologi digital," ucap Youngs.

Survei para pelajar Selandia Baru mendukung bahwa mereka memprioritaskan kepedulian sebelum pembelajaran akademik.

Para guru tidak hanya menggunakan surel; mereka menelepon, dan juga melakukan telepon video untuk mengecek kabar para siswa. Sebagian sekolah juga tidak hanya menggunakan para guru, namun juga pegawai pendukung, khususnya dalam memenuhi kebutuhan anak-anak yang memiliki kebutuhan belajar khusus.

Walau terdengar sederhana, transformasi digital pendidikan seperti ini cukup membuahkan hasil yang baik di Selandia Baru.

 

Reporter: Lianna Leticia

 

Lanjutkan Membaca ↓