COVID-19 Varian Delta Mendominasi Penularan di Inggris, Amerika Serikat Khawatir

Oleh Liputan6.com pada 15 Jun 2021, 15:36 WIB
Diperbarui 15 Jun 2021, 15:36 WIB
FOTO: Kasus Corona di Amerika Serikat Tembus 1 Juta
Perbesar
Layar menunjukkan ucapan terima kasih terhadap petugas kesehatan terlihat di Times Square, New York, AS, Senin (27/4/2020). Menurut Center for Systems Science and Engineering di Universitas Johns Hopkins hingga 29 April 2020 WIB, jumlah kasus COVID-19 di AS melampaui 1 juta. (Xinhua/Michael Nagle)

Liputan6.com, Jakarta Virus Corona varian Delta telah menjadi galur COVID-19 yang dominan di Inggris. Kini, para ahli di Amerika Serikat mengkhawatirkan kemungkinan varian Delta juga mendominasi penularan di Negeri Paman Sam.

COVID-19 Varian Delta, atau yang dikenal dengan nama ilmiah B.1.617.2, telah menyebar dari tempatnya pertama kali ditemukan di India ke lebih dari 60 negara, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Scott Gottlieb, mantan komisioner badan pengawas obat-obatan dan makanan AS Food and Drug Administration (FDA) mengatakan, varian Delta kemungkinan akan menjadi sumber dominan kasus penularan baru di AS. Varian itu dapat memicu gelombang baru wabah pada musim gugur nanti, dengan warga Amerika yang tidak divaksinasi menjadi yang paling berisiko.

"Saat ini, di Amerika Serikat, (COVID-19 varian Delta) telah meliputi sekitar 10 persen kasus penularan. Angkanya bertambah dua kali lipat setiap dua pekan," kata Gottlieb dalam wawancara dengan jaringan televisi CBS, dikutip Selasa (15/6/2021).

"Itu bukan berarti kita akan melihat peningkatan tajam pada jumlah kasus infeksi, tetapi (varian ini) kemungkinan akan menjadi dominan. Dan saya rasa risikonya akan terlihat pada musim gugur, yang (varian ini) bisa saja memicu epidemi baru pada musim gugur nanti," ungkap Gottlieb.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Dominan di Inggris

Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS,  pergi setelah berbicara selama pengarahan harian Gugus Tugas Koronavirus Gedung Putih di Ruang Sidang James Brady di Gedung Putih 13 April 2020 di Washington, DC.
Perbesar
Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, pergi setelah berbicara selama pengarahan harian Gugus Tugas Koronavirus Gedung Putih di Ruang Sidang James Brady di Gedung Putih 13 April 2020 di Washington, DC. (Alex Wong/AFP)

Pakar penyakit menular terkemuka AS Anthony Fauci belum lama ini juga mengatakan, varian Delta telah menjadi galur yang dominan di Inggris, yang meliputi sekitar 60 persen dari kasus penularan baru, menggantikan galur B.1.1.7.

Temuan awal dari sebuah studi Skotlandia yang dipublikasi pada Senin 14 Juni di jurnal The Lancet mengungkap, varian Delta dikaitkan dengan sekitar dua kali lipat risiko rawat inap dibandingkan dengan galur B.1.1.7 yang pertama kali ditemukan di Inggris.

Varian Delta merupakan satu dari enam varian yang saat ini menyebar di Amerika Serikat dan telah diklasifikasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS sebagai variant of concern.

Para ahli khawatir dengan kecepatan pertumbuhan varian Delta. Sebulan lalu, galur itu hanya menyumbang lebih dari 1 persen sampel virus yang diurutkan, namun saat ini galur tersebut telah menyumbang lebih dari 6 persen sampel virus yang diurutkan di Amerika Serikat, papar data CDC.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Waspada Mutasi Covid-19 Kombinasi Varian Inggris-India

Infografis Waspada Mutasi Covid-19 Kombinasi Varian Inggris-India. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Waspada Mutasi Covid-19 Kombinasi Varian Inggris-India. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓