Lewat Pohon DNA, Ilmuwan Ungkap Misteri Evolusi Tikus Air

Oleh Liputan6.com pada 15 Jun 2021, 21:00 WIB
Diperbarui 15 Jun 2021, 21:00 WIB
Ilustrasi Tikus
Perbesar
Ilustrasi Tikus (Sipa/Pixabay).

Liputan6.com, Liverpool - Sempat menjadi misteri yang unik, para ahli biologi kini telah mengungkap rahasia genetik mamalia penyelam terkecil di dunia yaitu tikus air.

Dikutip dari BBC, Selasa (15/6/2021), berkat sampel DNA untuk membangun pohon evolusi, para ilmuwan mengungkapkan bahwa perilaku menyelam hewan tersebut telah alami evolusi lima kali.

Kemampuan hewan kecil itu untuk menyelam dan berburu di air yang membeku tampaknya bertentang dengan logika evolusi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Mengambil DNA dari Seluruh Dunia untuk Buat Pohon Keluarga

Ilustrasi DNA dan RNA
Perbesar
Ilustrasi DNA dan RNA. Kredit: via Pixabay

Hasil temuan yang dipublikasikan dalam jurnal daring eLife ini memperlihatkan perjalanan para ilmuwan untuk mengumpulkan sampel DNA dari 71 spesies berbeda yang semuanya termasuk dalam kelompok besar mamalia pemakan serangga yang terkait yang secara kolektif disebut Eulipotyphla -- sebuah istilah latin yang apabila diterjemahkan memiliki arti "yang benar-benar gemuk dan buta" dan merupakan sekelompok mamalia yang mencakup landak, tikus tanah, dan tikus.

"Kami mengambil sampel spesimen dari seluruh dunia," kata pemimpin peneliti Dr Michael Berenbrink, dari University of Liverpool.

Saat ia dan rekan-rekannya membuat pohon keluarga Eulipotyphla, mereka membangun kode genetik menjadi gambaran rinci tentang hubungan antara masing-masing spesies.

Hal itu membuat mereka dapat menggunakan informasi tersebut untuk melacak evolusi perilaku menyelam.

"Kami memetakan evolusi protein tunggal, yang disebut mioglobin, yang menyimpan oksigen di otot," jelas Dr Berenbrink.

"Kita dapat melihat tanda genetik dalam DNA yang menunjukkan kepada kita kapan protein kunci ini meningkat berlimpah di otot hewan."

Ia menjelaskan bahwa ini adalah perubahan yang dibutuhkan hewan untuk menyimpan lebih banyak oksigen di ototnya, sehingga bisa menahan napas di bawah air dan berburu.

"Ini berevolusi tiga kali pada tikus dan dua kali pada tikus tanah."

"Urutan genetik dari hanya satu protein memberi tahu kita begitu banyak tentang gaya hidup hewan-hewan ini yang tidak dapat kita ketahui dari fosil."

Ia menambahkan bahwa studi genetik telah memberikan wawasan menarik tentang evolusi mamalia yang tampaknya "paling tidak dilengkapi untuk menyelam."

"Itu hanya bisa menunjukkan kepada kita apa yang sebenarnya bisa dilakukan alam."

 

Reporter: Paquita Gadin

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Jakarta Terancam Genting Covid-19

Infografis Jakarta Terancam Genting Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Jakarta Terancam Genting Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓