Utusan ASEAN Tiba di Myanmar untuk Temui Pimpinan Junta Militer

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 04 Jun 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 04 Jun 2021, 10:01 WIB
FOTO: Demonstran Myanmar Lakukan Aksi Mogok, Kota Yangon Sunyi Sepi
Perbesar
Suasana jalanan yang kosong di samping Pagoda Shwedagon, Yangon, Myanmar, Rabu (24/3/2021). Demonstran menyerukan "silent strike" sebagai protes terhadap kudeta militer di Myanmar. (AFPTV/AFP)

Liputan6.com, Naypwidaw - Sekretaris Jenderal ASEAN Lim Jock Hoi dan Erywan Pehin Yusof, menteri kedua Brunei untuk urusan luar negeri telah tiba di ibu kota Naypwidaw, Myanmar pada Kamis 3 Juni 2021 malam untuk berbicara dengan pemimpin junta militer, Min Aung Hlaing. 

Kunjungan itu dilakukan untuk membahas kondisi yang terjadi setelah kudeta militer yang memicu demonstrasi dan bentrok di Myanmar.

Dilansir AFP, Jumat (4/6/2021) Lim Jock Hoi dan Erywan Pehin Yusof rencananya bertemu Min Aung Hlaing pada Jumat (4/6) pagi waktu setempat.

Sementara itu, tim informasi junta mengatakan kepada wartawan bahwa mereka akan segera "mengeluarkan" lebih banyak informasi tentang pertemuan tersebut.

ASEAN telah memimpin upaya diplomatik untuk menyelesaikan krisis yang terjadi di Myanmar.

Adapun langkah dari Uni Eropa dan AS, yang telah meningkatkan sanksi terhadap para jenderal Myanmar.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tidak Diketahui Apakah Utusan ASEAN akan Bertemu Pejabat Aung San Suu Kyi

FOTO: Demonstran Myanmar Lakukan Aksi Mogok, Kota Yangon Sunyi Sepi
Perbesar
Sebuah kendaraan melaju melintasi jalanan yang kosong di sekitar Pagoda Sule, Yangon, Myanmar, Rabu (24/3/2021. Demonstran antikudeta mencoba taktik baru yang mereka sebut pemogokan 'diam', menyerukan orang-orang untuk tinggal di rumah dan menutup bisnis. (AP Photo)

Tidak diketahui secara segera jelas apakah utusan ASEAN juga akan bertemu dengan anggota pemerintahan Aung San Suu Kyi yang digulingkan - kebanyakan dari Partai NLD.

Min Aung Hlaing sebelumnya sudah menghadiri pertemuan tentang krisis dengan para pemimpin dari 10 negara pada April 2021 - perjalanan luar negeri pertamanya sejak kudeta di Myanmar.

Setelah pertemuan - yang tertutup untuk media - para pemimpin mengeluarkan pernyataan "lima poin konsensus" yang menyerukan "penghentian segera kekerasan" dan kunjungan ke Myanmar oleh utusan khusus regional.

Namun jenderal militer Myanmar tersebut mengatakan dalam sebuah wawancara, bahwa Myanmar belum siap untuk mengadopsi rencana tersebut dan kekerasan terus berlanjut di seluruh negeri.

Utusan khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, hadir di sela-sela KTT pada April 2021, tetapi belum menerima izin untuk melakukan perjalanan ke Myanmar.

Dia mengatakan kepada wartawan bahwa dia telah diberitahu oleh junta bahwa sekarang "bukan waktu yang tepat" untuk bepergian ke Myanmar.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Penangkapan Aung San Suu Kyi dan Kudeta Militer Myanmar

Infografis Penangkapan Aung San Suu Kyi dan Kudeta Militer Myanmar. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Penangkapan Aung San Suu Kyi dan Kudeta Militer Myanmar. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓