WNI di Jerman Dilatih Jadi Penyelia Halal

Oleh Tommy Kurnia pada 25 Mei 2021, 10:31 WIB
Diperbarui 25 Mei 2021, 11:13 WIB
Jerman Kembali Lockdown
Perbesar
Zona pejalan kaki utama di Frankfurt ramai oleh orang-orang yang melintas di Jerman, Senin (14/12/2020). Kebijakan lockdown di Jerman terpaksa diambil demi menurunkan kasus penularan virus corona covid-19 yang melonjak beberapa waktu terakhir. (AP Photo/Michael Probst)

Liputan6.com, Berlin - Kementerian Agama (Kemenag) menggelar pelatihan penyelia halal bagi WNI di Jerman. Kegiatan ini bertujuan mendukung target Indonesia untuk menjadi pemain penting dalam eksositem halal di dunia internasional.

Pelatihan ini diikuti oleh 24 WNI di Jerman dan berlangsung selama empat pekan. Pelatihan ini dilaksanakan bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

"Inisiatif ini merupakan yang pertama kali dilakukan di manca negara oleh perwakilan RI di Luar Negeri," ucap Duta Besar RI Berlin, Arif Havas Oegroseno mengawali pembukaan kegiatan pelatihan penyelia halal bagi WNI di Jerman (22/05/2021) seperti dilaporkan situs Kementerian Luar Negeri.

"Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sudah saatnya Indonesia juga berperan membentuk ekosistem halal di luar negeri khususnya Jerman," ujarnya.

Pada edisi perdana pelatihan, para peserta diberikan pemahaman mengenai industri halal, termasuk pengeluaran sertifikat halal yang memiliki proses dari hulu ke hilir serta sesuai dengan ketentuan syariah Islam. Peserta juga mendapatkan informasi mengenai proses masuknya berbagai produk halal dari Jerman ke Indonesia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Menuju Lembaga Sertifikat Halal di Eropa

Festival Bir Oktoberfest di Jerman Kembali Dibatalkan Karena Covid-19
Perbesar
Seorang pengendara sepeda melintasi area Theresienwiese, tempat festival bir 'Oktoberfest' diadakan, di depan gereja St. Pauls di Munich, Senin (3/5/2021). Jerman kembali membatalkan festival bir Oktoberfest untuk tahun kedua karena pandemi covid-19. (AP Photo/Matthias Schrader)

Penyelenggaraan pelatihan secara antusias diikuti peserta dari latar belakang pendidikan beragam tersebut juga antusias peserta. Ada banyak pertanyaan yang muncul kepada narasumber terkait teknis sertifikasi halal, pendirian lembaga halal luar negeri, dan peluang kerja sama badan sertifikasi halal di Indonesia dan Jerman.

Saat ini, sertifikasi produk halal di Jerman diterbitkan melalui mekanisme penilaian berbasis komunitas muslim yang mayoritas merupakan komunitas Turki di Jerman. Untuk itu, melalui pelatihan ini diharapkan para peserta yang merupakan komunitas Indonesia dapat mendirikan lembaga sertifikasi halal di Eropa. Ke depannya, peserta dapat menjalin kemitraan dengan industri di Jerman yang ingin melakukan kerja sama dengan Indonesia.

Berdasarkan studi dari Kantor Kantor Federal untuk Migrasi dan Pengungsi (BAMF) tahun 2016, jumlah penduduk muslim yang tinggal di Jerman berkisar antara 4,4 - 4,7 juta orang (5,4 - 5,7 persen dari total penduduk Jerman). Dengan estimasi produk halal di Jerman mencapai 5 milyar euro.

Konsumsi produk halal terus meningkat setiap tahunnya karena tidak hanya diminati oleh muslim tetapi juga non-muslim. Konsumsi produk halal di Jerman sendiri tidak hanya terbatas pada produk makanan, namun juga kosmetik dan wisata. Sejumlah lembaga keuangan syariah juga telah memasuki sektor perbankan di Jerman, seperti West LB dan Arabesque Asset Management.

Banyaknya varian produk halal di Jerman yang terus bertambah membuka peluang menjanjikan bagi lembaga sertifikasi halal dalam memberikan jasanya. Untuk itu, pembentukan lembaga sertifikasi halal Indonesia di Eropa di masa mendatang diharapkan dapat turut memanfaatkan momentum ini.

Lanjutkan Membaca ↓